Ratih dan Hatinya
Ratih merebahkan
tubuhnya ke kasur yang masih berantakan. Waktu menunjukkan pukul 15.00 tepat
dimana Ratih harus menemani kekasihnya Amar ke toko CD langganannya. Saat
mengambil pakaian yang masih di jemurnya tak sengaja Ratih melihat seorang
lelaki tinggi menaiki kuda besi 70an dengan penutup kepala seperti kerupuk.
Lelaki itu juga menatap Ratih seperti sudah mengenal beberapa tahun. Lebih lima
menit mereka saling memandang lelaki itu hampir saja menabrkan pos keamanan komplek
yang berada di ujung komplek yang tidak jauh dari rumah Ratih. “Ratih kamu
ingin mandi atau ingin berjemur di depan rumah” teriak ibunya. Ratih bergegas
ke kamar mandi karena sudah pukul 15.15.
Ratih,
Ratih, Ratih, Cepat buka pintunya.
Ternyata Amar sudah di depan rumah. Ratih membuka pintu dan menemui Amar dengan
rambut yang masih basah. Ah, kamu ini lelet ini sudah jam berapa? Ya sudah aku
bisa sendiri ke toko CD. Amar langsung pergi tanpa Ratih. Seperti biasanya
Ratih hanya terdiam dan tidak bisa melawan Amar. Tersandar di kursi tamu dengan
wajah datar dan pipinya basah. Seperti ingin mengahiri kehidupan ini, tapi
apalah daya Ratih masih belum bisa memberi keputusan bijak untuk hubungannya. Terdengar
suara nada dering telepon, Ratih terkejut
Amar menelepon dan meminta Ratih untuk bersiap. Ratih menoleh ke jam
dinding di ruang tamu ternyata sudah pukul 19.28. ternyata Ratih tertidur sejak
tadi sore di ruang tamu. Tak ingin membuat Amar amarah Ratih sudah siap di
depan Rumah.
Sudah
lama Ratih menunggu Amar namun tak kunjung datang. Setiap ingin duduk di kursi
tamu Ratih selalu menoleh jam dinding dan melihat ke depan rumah. Tak ada
cahaya lampu kuda besi yang menyorot ke jendelanya. Beberapa jam kemudian
hampir tengah malam terdengar suara mesin yang tidak asing. Ratih bergegas
membuka pintu dan melihat Amar yang sudah berhenti di depan rumahnya. “Kamu kenapa
lama mar? Katanya kamu sudah lapar, ayo kita makan” ucap Ratih memegang bahu
Amar dan menaiki kuda besinya. “tapiiiii, aku sudah kenyang makannya lain kali
sajalah”. Sahut Amar. Ratih turun dari kuda besinya Amar dan menunduk. “ya tak
apa-apa kalau kamu sudah kenyang” Ratih masuk ke dalam rumah dan langsung
menutup pintu. “Dasar cewek bisanya marah”. Teriak Amar.
Ratih
langsung menuju kamar, dan merebahkan tubuhnya. Sungguh ini terasa begitu perih
dadanya terasa sesak dan ingin berteriak sepuasnya. Apa yang terjadi saat ini membuatnya
sudah merasa tak ingin lagi membuka mata melihat, dan merasakan kejadian ini
setiapkalinya. Amar yang dikenalnya beberapa bulan lalu begitu manis sikapnya
dan tak pernah satu kata membuat hati Ratih merasa sakit. Ratih menangis
semalaman dan telepon Ratih berbunyi namun tak dijawabnya. Ratih merasa pusing
karena lelah dan belum ada sesuap nasi yang masuk dimulutnya. Ratih sengaja
tidak makan menunggu Amar untuk makan bersama.
Pagi
itu hari minggu seperti biasanya Ratih hanya bersantai di depan TV setelah
membersihkan kamarnya. Tak seperti biasanya Ratih yang tidak bisa jauh dengan
telepon genggamnya sekarang menoleh saja tak ingin apalagi menyentuhnya.
Setelah asik mengganti-ganti stasiun TV, telepon Ratih berbunyi nomer yang
tidak dikenal menghubunginya. “coba keluar, aku sudah di depan” ucap penelpon
itu dan langsung meutup teleponnya. Ratih menuju pintu dan melihat di jendela
ternyata Amar sudah beridiri di depan pintu.
Bersambung...