|
Judul
|
: Keterampilan Dasar Menulis
|
|
Penulis
|
: Suparno dan Mohamad Yunus
|
|
Penerbit
|
: Universitas Terbuka
|
|
Tahun
Terbit
|
: 2007
|
|
Cetakan
|
: Kelima belas
|
|
Halaman
|
: 362 halaman, 6 modul ; 21 cm
|
|
Isbn
|
: 979-689-311-8
|
A. Pengertian menulis
Menulis dapat didefinisikan sebagai
suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis
sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam
suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambing bahasa yang dapat
dilihat dan disepakati pemakaiannya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis
paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat: penulis sebagai penyampai
pesan (penulis), pesan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan, dan
pembaca sebagai penerima pesan.
Menurut
Graves (1978), seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia
menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus
menulis. Ketidaksukaan tak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga dan
masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah
yang kurang memotivasi dan merangsang minat.
Smith (1981) mengatakan bahwa
pengalaman belajar menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari
kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil menulis
dan mengajarkannya. Karena itu, untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya
muncullah berbagai mitos atau pendapatr yang keliru tentang menulis dan
pembelajarannya.
Di
antara mitos yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut.
1. Menulis
itu Mudah
Teori menulis atau, mengarang memang mudah. Gampang
di hafal. Tetapi, menulis atau mengarang bukanlah sekedar teori, melainkan
keterampilan. Bahkan, ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat
mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.
2. Kemampuan
Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis
Dalam mengarang seseorang perlu memiliki
keterampilan mekanik seperti penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan,
pengalinean, dan pewacanaan. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang digunakan
untuk mengemas dan menyajikan isi karangan agar dapat dipahami dengan baik oleh
pembacanya
3. Menulis
itu Harus Sekali Jadi
Kita menulis, meperbaiki, mencobva menulis lagi,
hingga kita anggap selesai. Hati-hati
mitos ini dapat memfrustasikan seseorang dalam menulis, terutama penulis
pemula. Tidak banyak orang yangdapat menulis sekali jadi. Bahkan, penulis
professional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan
tahap prapenulisan, penulisan, serta penyuntingan, perbaikan, dan
penyempurnaan.
4. Orang
yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah Menulis Dapat Mengajarkan Menulis
Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak
suka menulis dapat melakukan hal itu. Padahal, minat dan kemauan siswa belajar
menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana dia
mengajarkannya.
B. Menulis Sebagai Proses
Menurut
Barrs (1983-829-831), pendekatan proses dalam menulis, terutama bagi penulis
pemula, mudah diikuti. Dia akan dapat memahami dan melakukan dengan cepat
hal-hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan dalam menulis.
Terdapat
fase-fase untuk mempermudah pemahaman, yaitu:
1. Tahap Prapenulisan
Tahap
ini merupakan fase persiapan menulis, seperti halnya pemanasan (warming up)
bagi orang yang berolahraga. Pada fase prapenulisan ini terdapat aktivitas
memilih topik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi
yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk karangka
karangan.
2.
Tahap Penulisan
Seperti
telah kita ketahui, struktur karanganatas awal, isi, dan akhir. Awal karangan
berfungsi untuk memperkenalkan dan sekaligus menggiring pembaca terhadap pokok
tulisan kita. Isi karangan menyajikan bahasan topikan atau ide utama karangan,
berikut hal-hal yang memperjalas atau mendukung ide tersebut seperti contoh,
ilustrasi informasi, bukti, atau alasan. Akhir karangan berfungsi untuk
mengembalikan pembaca pada ide-ide penting. Bagian ini berisi simpulan, dan
dpaat ditambah rekomendasi atau saran bila diperlukan.
3.
Tahap Pascapenulisan
Fase ini merupakan tahap penghalusan
dan penyempurnaan buram yang kita hasilkan. Kegiatannya terdiri atas
penyuntingan dan perbaikan (revisi). Kegiatan ini bisa terjadi beberapa kali.
Masa
kegiatan penyuntingan dan perbaikan karangan dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
a) Membaca
keseluruhan;
b) Menandai
hal-hal yang perlu diperbaiki, atau memberikan catatan bila ada hal-hal yang
harus diganti, ditambahkan, disempurnakan; serta
c) Melakukan
perbaikan sesuai dengan temuan saat penyuntingan.
C. Penalaran
Penalaran
induktif dapat dilakukan melalui generalisasi, analogi, atau hubungan kausal. Sementara
itu, deduksi menggunakan silogisme atau variannya (entimen) sebagai sarana
bernalar.
Dalam bernalar seseorang dapat melakukan salah nalar, yang disebabkan oleh kekeliruan dalam proses berpikir
: kekurangcermatan, kecerobohan, ketidaktahuan, atau sikap emosional. Semua itu
disebabkan oleh generalisasi yang terlalu luas, kerancuan analogi, kesalahan
kausalitas, kesalahan relevansi (karena kekurangpahaman, pengabaian, atau
penyembunyian masalah sesungguhnya), dan kesalahan karena menyandarkan pendapat
atau alasan mengenai suatu masalah terhadap seorang tokoh atau ahli diluar
kepakarannya.
Modul 2
1.
Pilihan Kata
Kata
adalah satuan bebas terkecil alat pengungkap dan penerima gaga. Kata menjadi
unsur pembentuk kalimat. Karena itu, kualitas pilihan kata akan menentukan
keaktifan kalimat. Dengan kalimat yang efektif itu, gagasan yang diungkapkan
penutur atau penulis sama dengan gagasan yang diterima oleh pendengar atau
pembaca. Untuk memilih kata, dua kaidah dapat dipakai pegangan, yakni kaidah
ketepatn dan kaidah kecocokan.
2.
pengembangan Kalimat Efektif
Pengembangan kalimat efektif dapat
dilakukan untuk menjadikan kalimat sebagai sarana pengungkap dan penangkap
pesan agar komunikasi terjadi secara efektif. Untuk mengembangkan kalimat
eefektif ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni persyaratan kalimat efektif
dan kiat pengembangan efektif.
Modul 3
1.
Perancangan Kalimat
Sebagai proses, penulisan karangan
dapat dibagi menjadi tiga tahap, yakni tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan
tahap pascapenulisan. Target penyusunan rancangan adalah kerangka karangan,
yakni karangan tulis yang menggambarkan bagian-bagian karangan dalam tataan
yang sistematis.
2.
Pengembangan Paragraf
Paragraph adalah bagian karangan,
berupa untaian kalimat berstruktur yang berisi gagasan dan sejumlah gagasan
pengembang. Ada empat persyaratan pembentuk paragraph, yaitu:
a) Persyaratan
kesatuan atau keutahan yang ditandai oleh satu gagasan dasar dan sejumlah
gagasan pengembang
b) Persyaratan
pengembang yang ditandai oleh adanya kalimat topic dan sejumlah kalimat
pengembang
c) Persyaratan
kepaduan yang ditandai oleh hubungan yang harmonis antara isi kalimat dan paragraph
d) Persyaratan
kekompakan yang ditandai oleh keserasian hubungan bentuk struktur leksikon
3.
Penyusun Karangan
Penulis karangan adalah kegiatan
mewujudkan karangan yang utuh. Pada tahap penyuntingan, kegiatan yang dilakukan
adalah memeriksa darf awal yang sudah dihasilkan. Aspek-aspek yang diperiksa
adalah aspek isi, bahasa, ejaan dan tanda baca, seta teknik penulisan.
Modul 4
Deskripsi dan Narasi
Deskripsi
Sebagai
salah satu jenis karangan, deskripsi ditulis untuk mendeskripsikan atau
memerikan, menggambarkan, menggambarkan, atau melukisakan suatu objek sehingga
pembaca memiliki peenghayatan seolah-olah menyaksikan atau mengalaminya
sendiri.
Narasi
Narasi adalah karangan yang
menyajikan serangkaian peristiwa. Sebagai sebuah karanga, narasi dikembangkan
dengan memberikan prinsip-prinsip dasar narasi sebgai tumpuan berpikir bagi
terbentuknya karangan narasi.
Modul 5
Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi
Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan
yang bertujuan utama untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan
sesuatu.
Argumentasi
dan Persuasi
Karangan argumentasi adalah karangan yang isinya terdiri
atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu
kesimpulan. Karangan ini ditulis dengan maksud untuk memberikan alasan, untuk
memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.
Karangan persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya
bujuk, berdaya ajuk, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan
ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implicit maupun
eksplisit yang dilontarkan oleh penulis.
Modul 6
Surat Menyurat Dinas
Seluk
Beluk Surat
Surat adalah salah satu sarana komunikasi tertulis untuk
menyampaikan suatu pesan dari satu pihak (perorangan, kelompok, atau
organisasi) kepada pihak lain. Apabila surat itu mengandung pesan yang
menyangkut kepentingan formal atau dinas, maka surat seperti itu disebut surat
dinas atau surat resmi.
Berbeda dengan bentuk karangan lainnya, surat memiliki
karakteristik yang sangat khusus. Salah satu kekhasan terletak pada
bagian-bagiannya. Bagian-bagian ini sangat penting karena setiap bagian
memiliki kegunaan tertentu. Bagian-bagian surat dinas/resmi yang lengkap
terdiri atas: kepala surat nomer, lampiran, hal, tanggal, alamatdalam surat,
salam pembuka, isi dan tubuh surat,salam penutup, nama organisasi atau jabatan
penulis surat, tanda tangan, nama terang, NIP bagi pegawai pemerintah, tembusan
dan inisial.