Kehilangan
Sepotong Senja
Setiap
harinya memeluk kota ini, warna yang berbeda membuat terlihat menjadi sosok
dikagumi seseorang lelaki bernama Darma yang selalu menunggu kehadiran sosok
yang hadir diantara kesorean menuju malam. Sosok yang dikaguminya adalah senja,
senja yang selalu membuat imajinasinya terbang kemana saja. Namun yang dia tahu
senja itu datang setiap harinya walaupun hanya sementara.
Darma selalu meyakinkan dirinya
sendiri untuk setiap saat duduk menunggu datangnya senja, dia tahu bahwa akan
ada cahaya kejinggaan yang seolang-olah membuatnya tak berkedip diam seribu
bahasa. Dalam lamunannya dia teringat seorang perempuan yang hadir
dikehidupannya berbeda. Luna nama perempuan itu, mereka kenal di media sosial tepatnya
di bulan Mei. Luna sedang menjalani pendidikan di Universitas yang terkenal
dikota ini. Seminggu setelah mereka saling mengenal di media sosial mereka
bertemu di rumah makan, Darma menatap Luna seakan-akan merasa kagum melihat
Luna makan begitu lahap. Darma menyukai sikap Luna yang tidak jaim, padahal
mereka baru pertama kali bertemu langsung. Ketika Luna makan, Darma menyalakan
sebatang rokok ditemani secangkir kopi disaat Darma ingin menghisap rokoknya
tiba-tiba Luna melempar kerupuk yang ada dipiringnya. Luna membenci asap rokok
dan akhirnya Darma mematikan rokoknya karna menghargai Luna yang saat itu
bersamanya. Setelah pertemuan malam itu besoknya disore hari Darma duduk
dibelakang rumahnya dan melihat langit yang indah berwarna jingga, tiba-tiba
telpon genggamnya berbunyi ternyata ada pesan dari Luna yang berisikan “lihatlah langit begitu berbeda hari ini,
bisakah kita menyaksikan keindahan langit itu lagi namun ketika aku berada
disampingmu” isi pesan itu sedikit aneh namu Darma memahami yang dimaksud
Luna. Seminggu saling mengenal Darma
baru mengetahui ternyata Luna sudah memiliki kekasih yang sudah cukup lama
bersamanya sekitar dua tahun lebih. Darma merasakan cemburu bahkan Darma tak
bisa benar-benar mengenal rasa itu rasa yang berupa makna tanpa bahasa, tanpa
kata, mungkin itu adalah cinta. Namun Luna lebih meprioritaskan Darma dari pada
kekasihnya, entah kenapa Luna menjadi lebih perhatian dan selalu menurut dengan
Darma apa yang diinginkan Darma selalu diusahakannya. Mereka terlihat lebih
dekat dari biasanya, mereka bertemu lagi namun di tempat yang berbeda. Darma
mengajak Luna kerumahnya duduk dibelakang rumah Darma ingin mewujudkan harapan
Luna duduk berdua melihat keindahan senja, tapi ketika sore itu langit terlihat
gelap seperti akan hujan namun Luna tidak putus asa dan tetap duduk disamping
menunggu kehadiran senja sore itu. Sudah setengah jam langit itu masih gelap
namun tidak ada hujan, Luna memejamkan mata langit itu tiba-tiba berubah
menjadi jingga. Saat itulah Darma memberikan nama sapaan Nona Senja untuk Luna,
seperti bisa menaklukan langit ketika gelap berubah menjadi indah ketika Luna
memejamkan mata. Setelah kejadian itu Darma selalu memperlakukan Luna seperti
kekasihnya telpon genggam tak bisa jauh dari tangannya bahkan setiap Luna mau
kemana-mana selalu ditemani Darma, tidak pernah sedikitpun Luna merasakan
sakit. Setiap sore Darma selalu mengajak Luna ketempat yang disukainya,
akhir-akhir itu mereka selalu berdua seakan tidak mempunyai masalah sedikitpun.
Malam itu Darma berdiri di depan cermin, seuntai senyum perlahan terlihat di
bibirnya. Diakhiri dengan gerakan tangan menyentuh dadanya yang bidang “Aku
jatuh cinta.”
Pagi
diantara sibuknya manusia, hati dan pikir Darma masih melaju tanpa jeda untuk
membahagiakan Luna hentakan kakinya menyusuri jalanan yang ramai. Bunyi
teriakan para pedagang terdengar di telinga. Namun tampaknya Darma tak peduli.
Matanya berbinar. Cinta membuatnya berbeda akhir-akhir ini. Senyuman tatap
menghiasi wajahnya begitu segar. Luna berdiri dihadapannya dengan senyuman yang
membuatnya selalu rindu. Senyum Luna begitu indah membuat Darma begitu semangat
untuk menyelesaikan skripsinya bila mengingat senyum itu. Luna lah senja yang
begitu jingga bahkan Darma tak dapat mengetahui alasan yang tepat mengapa Darma
begitu menyukai Luna dan senja. Baginya senja adalah lukisan terindah jingganya
yang membuat berbeda dengan pagi. Memang senja akan hilang ditelan malam dan
mendung namun tak semua mendung bisa menutupi paparan senja karena terkadang
barisan rintik hujan pun tetap tak bisa menghapus jingga yang tertutup awan begitu
juga sosok Luna baginya perempuan yang berbeda diantara yang lainnya. Andai
Luna tak berbeda dengan senja, hari ini pergi besok berjumpa lagi
tentunyajangan hanya datang dan pergi saja saat pergi tanamlah rindu diujung
mimpi saat jumpa akan menikmati hasilnya.
Seiring
berjalannya waktu Darma berubah menjadi menjadi lebih egois dan membuat Luna
menangis ebtah kenapa Darma begitu mudah menyakiti perasaan Luna, namun Luna
selalu sabar menghadapi sikap Darma yang belum pernah ditemuinya dari pertma
mereka saling mengenal bahkan tiba-tiba Darma tidak suka dengan aturan Luna
ketika Luna meminta Darma untuk makan, karena Luna yakin seharian ini Darma sibuk
dengan organisasinya bahkan tak sempat memasukkan sedikit nasi kemulutnya.
Darma marah-marah tak jelas tapi Luna hanya berpikir positif mungkin saja Darma
merasa lela dan kurang istirahat maka dari itu emosinya tak terkontrol.
Besoknya di pagi hari masih dengan kesejukan embun yang sama Darma membangunkan
Luna tenyata Luna tak bisa tidur semalaman Luna tak bisa tidur karena perlakuan
Darma akhir-akhir ini menjadi beban pikiran. Terlihat warna hitam yang melekat
di kantong mata Luna karenajarang tidur. Semakin berjalannya waktu semakin
mudah membuat Luna tersakiti atas sikap
Darma. Hari itu Luna sangat membutuhkan Darma yang dulu selalu membuat Luna
menjadi perempuan paling bahagia namun sekarang sebaliknya. Lana menemui Darma
kerumahnya namun Darma tak ada di rumah bahkan Luna menunggu di depan pintu
rumah Darma sudah hampir seharian, tapi tak ditemuinya juga batang hidungnya.
Semakin
hari sikap Darma tak bisa terkontrol, mudah membuat Luna menangis lagi. Kenapa
sekarang jutek padahal dulu baik dan kenapa sekarang bicaranya kasar bahkan
selalu bersikap dingin Tanya Luna dalam hati. Telpon genggam yang biasanya
biasanya tak bisa jauh dari tangan mereka sekarang telpon genggam itu tak lagi
berguna. Luna mencoba menghubungi Darma, tapi tak ada jawaban. Luna mencari Darma
ditempat biasanya latihan tenyata Darma memang ada disana namun tak
menghiraukan kedatangan Luna bahkan Darma sedang asik duduk dan berbincang
dengan teman perempuannya. Seakan tak ada rasa peduli sedikitpun dari Darma,
akhirnya Luna pulang dengan sia-sia dengan hasil kekecewaan. Akhir-akhir ini
Luna sakit-sakitan tak bisa merasa lelah Luna jatuh pingsan namun Luna tak
menganggap sakit itu serius yang ada dipikirannya hanya Darma dan selalu Darma,
sampai saat ini Luna merasa gelisah dengan hatinya dalam hatinya selalu
bertanya-tanya siapa senja yang paling jingga sebenaranya, apa benar memang aku
penakluknya? Dan apakah ada senja yang lebih jingga ditemuinya di luar sana
sampai saat ini pertanyaan itu belum terjawab pasti. Pagi itu Luna menemui
Darma lagi ditempat biasanya namun tak dihiraukannya hingga akhirnya Luna jatuh
pingsan karena luna akhir-akhir ini sakit-sakitan disaa luna sadar dan membuka
mata dihadapannya bukan Darma tenyata disaat Luna jatuh pingsan teman Darma
yang menggendong Luna dan menyadarkannya. Luna pun pulang dengan perasaan
sangat kecewa.
Seminggu
kemudian, Sore itu Darma keluar rumah dan menemukan kotak kecil yang berisikan
selembar kertas bertluiskan sebuah puisi
Aku adalah perantara
Tak lama kau nikmati
Dalam sehari hanya sementara
Tapi selalu ada seterusnya
Kau bilang aku senja yang paling
jingga
Kau anggap aku penakluknya
Kau berikan sapaan Nona Senja
Kau hiasai denga kekaguman
Kau menyukai senja
Pastilah kau menyukai penakluknya
Tapi kenapa
Senja yang paling jingga tak kau
hiraukan
Kau biarkan tertutup mendung hingga
hujan lebat itu menghapusnya
Akhirnya senja yang paling jingga
memudar dan hilang
Saat
itu Darma seperti terhipnotis tak bisa berkutik sedikitpun. Akhirnya Darma
pergi ke tempat dimana biasanya mereka bertemu namun Luna tak ada dalam satu
minggu sebelum Darma menemukan kotak kecil yang berisikan puisi itu setiap sore
Darma selalu mendapatkan pesan singkat dari Luna yang berisikan “Jika kamu tak menyukai senja yang paling
jingga janganlah tak meghiraukannya lagi setidaknya pandanglah senja itu agar
dia merasakan bagaimana rasanya dihargai atas kehadirannya”isi pesan
singakat yang selalu sama didapatkannya setiap sore. Darma pun pergi kerumah
Luna dan disaat dia di depan pagar ternyata ada Ibunya Luna yang duduk di depan
pintu dengan perasaan gelisah. Darma pun menanyakan keadaan Luna ternyata Luna
sudah meninggal seminggu yang lalu setelah mereka bertemu disaat Luna jatuh
pingsan dan disadarkan oleh temannya. Darma benar-benar tak percaya lalu siapa
yang selalu mengirim pesan singkat itu dan siapa yang meletakkan kotak kecil
yang berisikan puisi itu. Darma terdiam, Ibunya Luna pun menceritakan kenapa
Luna meninggal. Luna ternyata terkena penyakit HIV dulunya Luna selalu
melakukan seks bebas dengan banyak lelaki. Hanya dengan Darma Luna tidak
melakukan hubungan seks bebas karena Darma saat itu benar-benar menjaga Luna
denga tulus begitupun yang dilakukan Luna. Namun ketulusan Luna tak berbuah
baik disaat Luna jatuh pingsan dang tak bisa merasa lelah sedikitpun Darma tak
ada bersamanya padahal Luna benar-benar membutuhkan Darma karena itu mungkin
akan memperlambat kematian Luna, dengan cara membahagian Luna dan kehadiran
Darma yang selalu ada juga akan membuat sisa hidup Luna lebih menyenangkan.
Semuanya sudah terlambat Luna sudah tak ada lagi di dunia ini. Sampai akhirnya
Darma melihat senja yang hadir namun senja kali ini menjadikan lukisan alam
yang memilukan. Darma tebangun dari lamunannya saat ini Darma tidak menangis
mungkin kelenjar air matanya sudah habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar