Rabu, 09 Maret 2016


Kehilangan Sepotong Senja
Setiap harinya memeluk kota ini, warna yang berbeda membuat terlihat menjadi sosok dikagumi seseorang lelaki bernama Darma yang selalu menunggu kehadiran sosok yang hadir diantara kesorean menuju malam. Sosok yang dikaguminya adalah senja, senja yang selalu membuat imajinasinya terbang kemana saja. Namun yang dia tahu senja itu datang setiap harinya walaupun hanya sementara.
            Darma selalu meyakinkan dirinya sendiri untuk setiap saat duduk menunggu datangnya senja, dia tahu bahwa akan ada cahaya kejinggaan yang seolang-olah membuatnya tak berkedip diam seribu bahasa. Dalam lamunannya dia teringat seorang perempuan yang hadir dikehidupannya berbeda. Luna nama perempuan itu, mereka kenal di media sosial tepatnya di bulan Mei. Luna sedang menjalani pendidikan di Universitas yang terkenal dikota ini. Seminggu setelah mereka saling mengenal di media sosial mereka bertemu di rumah makan, Darma menatap Luna seakan-akan merasa kagum melihat Luna makan begitu lahap. Darma menyukai sikap Luna yang tidak jaim, padahal mereka baru pertama kali bertemu langsung. Ketika Luna makan, Darma menyalakan sebatang rokok ditemani secangkir kopi disaat Darma ingin menghisap rokoknya tiba-tiba Luna melempar kerupuk yang ada dipiringnya. Luna membenci asap rokok dan akhirnya Darma mematikan rokoknya karna menghargai Luna yang saat itu bersamanya. Setelah pertemuan malam itu besoknya disore hari Darma duduk dibelakang rumahnya dan melihat langit yang indah berwarna jingga, tiba-tiba telpon genggamnya berbunyi ternyata ada pesan dari Luna yang berisikan “lihatlah langit begitu berbeda hari ini, bisakah kita menyaksikan keindahan langit itu lagi namun ketika aku berada disampingmu” isi pesan itu sedikit aneh namu Darma memahami yang dimaksud Luna.  Seminggu saling mengenal Darma baru mengetahui ternyata Luna sudah memiliki kekasih yang sudah cukup lama bersamanya sekitar dua tahun lebih. Darma merasakan cemburu bahkan Darma tak bisa benar-benar mengenal rasa itu rasa yang berupa makna tanpa bahasa, tanpa kata, mungkin itu adalah cinta. Namun Luna lebih meprioritaskan Darma dari pada kekasihnya, entah kenapa Luna menjadi lebih perhatian dan selalu menurut dengan Darma apa yang diinginkan Darma selalu diusahakannya. Mereka terlihat lebih dekat dari biasanya, mereka bertemu lagi namun di tempat yang berbeda. Darma mengajak Luna kerumahnya duduk dibelakang rumah Darma ingin mewujudkan harapan Luna duduk berdua melihat keindahan senja, tapi ketika sore itu langit terlihat gelap seperti akan hujan namun Luna tidak putus asa dan tetap duduk disamping menunggu kehadiran senja sore itu. Sudah setengah jam langit itu masih gelap namun tidak ada hujan, Luna memejamkan mata langit itu tiba-tiba berubah menjadi jingga. Saat itulah Darma memberikan nama sapaan Nona Senja untuk Luna, seperti bisa menaklukan langit ketika gelap berubah menjadi indah ketika Luna memejamkan mata. Setelah kejadian itu Darma selalu memperlakukan Luna seperti kekasihnya telpon genggam tak bisa jauh dari tangannya bahkan setiap Luna mau kemana-mana selalu ditemani Darma, tidak pernah sedikitpun Luna merasakan sakit. Setiap sore Darma selalu mengajak Luna ketempat yang disukainya, akhir-akhir itu mereka selalu berdua seakan tidak mempunyai masalah sedikitpun. Malam itu Darma berdiri di depan cermin, seuntai senyum perlahan terlihat di bibirnya. Diakhiri dengan gerakan tangan menyentuh dadanya yang bidang “Aku jatuh cinta.”
Pagi diantara sibuknya manusia, hati dan pikir Darma masih melaju tanpa jeda untuk membahagiakan Luna hentakan kakinya menyusuri jalanan yang ramai. Bunyi teriakan para pedagang terdengar di telinga. Namun tampaknya Darma tak peduli. Matanya berbinar. Cinta membuatnya berbeda akhir-akhir ini. Senyuman tatap menghiasi wajahnya begitu segar. Luna berdiri dihadapannya dengan senyuman yang membuatnya selalu rindu. Senyum Luna begitu indah membuat Darma begitu semangat untuk menyelesaikan skripsinya bila mengingat senyum itu. Luna lah senja yang begitu jingga bahkan Darma tak dapat mengetahui alasan yang tepat mengapa Darma begitu menyukai Luna dan senja. Baginya senja adalah lukisan terindah jingganya yang membuat berbeda dengan pagi. Memang senja akan hilang ditelan malam dan mendung namun tak semua mendung bisa menutupi paparan senja karena terkadang barisan rintik hujan pun tetap tak bisa menghapus jingga yang tertutup awan begitu juga sosok Luna baginya perempuan yang berbeda diantara yang lainnya. Andai Luna tak berbeda dengan senja, hari ini pergi besok berjumpa lagi tentunyajangan hanya datang dan pergi saja saat pergi tanamlah rindu diujung mimpi saat jumpa akan menikmati hasilnya.
Seiring berjalannya waktu Darma berubah menjadi menjadi lebih egois dan membuat Luna menangis ebtah kenapa Darma begitu mudah menyakiti perasaan Luna, namun Luna selalu sabar menghadapi sikap Darma yang belum pernah ditemuinya dari pertma mereka saling mengenal bahkan tiba-tiba Darma tidak suka dengan aturan Luna ketika Luna meminta Darma untuk makan, karena Luna yakin seharian ini Darma sibuk dengan organisasinya bahkan tak sempat memasukkan sedikit nasi kemulutnya. Darma marah-marah tak jelas tapi Luna hanya berpikir positif mungkin saja Darma merasa lela dan kurang istirahat maka dari itu emosinya tak terkontrol. Besoknya di pagi hari masih dengan kesejukan embun yang sama Darma membangunkan Luna tenyata Luna tak bisa tidur semalaman Luna tak bisa tidur karena perlakuan Darma akhir-akhir ini menjadi beban pikiran. Terlihat warna hitam yang melekat di kantong mata Luna karenajarang tidur. Semakin berjalannya waktu semakin mudah membuat Luna tersakiti  atas sikap Darma. Hari itu Luna sangat membutuhkan Darma yang dulu selalu membuat Luna menjadi perempuan paling bahagia namun sekarang sebaliknya. Lana menemui Darma kerumahnya namun Darma tak ada di rumah bahkan Luna menunggu di depan pintu rumah Darma sudah hampir seharian, tapi tak ditemuinya juga batang hidungnya.
Semakin hari sikap Darma tak bisa terkontrol, mudah membuat Luna menangis lagi. Kenapa sekarang jutek padahal dulu baik dan kenapa sekarang bicaranya kasar bahkan selalu bersikap dingin Tanya Luna dalam hati. Telpon genggam yang biasanya biasanya tak bisa jauh dari tangan mereka sekarang telpon genggam itu tak lagi berguna. Luna mencoba menghubungi Darma, tapi tak ada jawaban. Luna mencari Darma ditempat biasanya latihan tenyata Darma memang ada disana namun tak menghiraukan kedatangan Luna bahkan Darma sedang asik duduk dan berbincang dengan teman perempuannya. Seakan tak ada rasa peduli sedikitpun dari Darma, akhirnya Luna pulang dengan sia-sia dengan hasil kekecewaan. Akhir-akhir ini Luna sakit-sakitan tak bisa merasa lelah Luna jatuh pingsan namun Luna tak menganggap sakit itu serius yang ada dipikirannya hanya Darma dan selalu Darma, sampai saat ini Luna merasa gelisah dengan hatinya dalam hatinya selalu bertanya-tanya siapa senja yang paling jingga sebenaranya, apa benar memang aku penakluknya? Dan apakah ada senja yang lebih jingga ditemuinya di luar sana sampai saat ini pertanyaan itu belum terjawab pasti. Pagi itu Luna menemui Darma lagi ditempat biasanya namun tak dihiraukannya hingga akhirnya Luna jatuh pingsan karena luna akhir-akhir ini sakit-sakitan disaa luna sadar dan membuka mata dihadapannya bukan Darma tenyata disaat Luna jatuh pingsan teman Darma yang menggendong Luna dan menyadarkannya. Luna pun pulang dengan perasaan sangat kecewa.
Seminggu kemudian, Sore itu Darma keluar rumah dan menemukan kotak kecil yang berisikan selembar kertas bertluiskan sebuah puisi
Aku adalah perantara
Tak lama kau nikmati
Dalam sehari hanya sementara
Tapi selalu ada seterusnya
Kau bilang aku senja yang paling jingga
Kau anggap aku penakluknya
Kau berikan sapaan Nona Senja
Kau hiasai denga kekaguman
Kau menyukai senja
Pastilah kau menyukai penakluknya
Tapi kenapa
Senja yang paling jingga tak kau hiraukan
Kau biarkan tertutup mendung hingga hujan lebat itu menghapusnya
Akhirnya senja yang paling jingga memudar dan hilang
Saat itu Darma seperti terhipnotis tak bisa berkutik sedikitpun. Akhirnya Darma pergi ke tempat dimana biasanya mereka bertemu namun Luna tak ada dalam satu minggu sebelum Darma menemukan kotak kecil yang berisikan puisi itu setiap sore Darma selalu mendapatkan pesan singkat dari Luna yang berisikan “Jika kamu tak menyukai senja yang paling jingga janganlah tak meghiraukannya lagi setidaknya pandanglah senja itu agar dia merasakan bagaimana rasanya dihargai atas kehadirannya”isi pesan singakat yang selalu sama didapatkannya setiap sore. Darma pun pergi kerumah Luna dan disaat dia di depan pagar ternyata ada Ibunya Luna yang duduk di depan pintu dengan perasaan gelisah. Darma pun menanyakan keadaan Luna ternyata Luna sudah meninggal seminggu yang lalu setelah mereka bertemu disaat Luna jatuh pingsan dan disadarkan oleh temannya. Darma benar-benar tak percaya lalu siapa yang selalu mengirim pesan singkat itu dan siapa yang meletakkan kotak kecil yang berisikan puisi itu. Darma terdiam, Ibunya Luna pun menceritakan kenapa Luna meninggal. Luna ternyata terkena penyakit HIV dulunya Luna selalu melakukan seks bebas dengan banyak lelaki. Hanya dengan Darma Luna tidak melakukan hubungan seks bebas karena Darma saat itu benar-benar menjaga Luna denga tulus begitupun yang dilakukan Luna. Namun ketulusan Luna tak berbuah baik disaat Luna jatuh pingsan dang tak bisa merasa lelah sedikitpun Darma tak ada bersamanya padahal Luna benar-benar membutuhkan Darma karena itu mungkin akan memperlambat kematian Luna, dengan cara membahagian Luna dan kehadiran Darma yang selalu ada juga akan membuat sisa hidup Luna lebih menyenangkan. Semuanya sudah terlambat Luna sudah tak ada lagi di dunia ini. Sampai akhirnya Darma melihat senja yang hadir namun senja kali ini menjadikan lukisan alam yang memilukan. Darma tebangun dari lamunannya saat ini Darma tidak menangis mungkin kelenjar air matanya sudah habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar