Sabtu, 30 Maret 2019

Novelet "Adelia" Karya Diana











Adelia

Mobil melaju kencang, menabrak dinding jalan raya. Banyak orang yang menghampiri mobilku dan berusaha mengeluarkanku dari mobil. Aku tidak bisa melihat jelas, aku ada dimana dan apa yang terjadi padaku. Hingga akhirnya aku dibawa ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit aku langsung dibawa ke ruangan gawat darurat. Saat memasuki di ruang gawat darurat, aku merasakan sesak, hingga aku kehilangan oksigen, dan tidak sadarkan diri.
Cerahnya langit pagi ini, aku bersemangat untuk pergi ke kampus. Terlalu asik dengan telepon pintarku, aku lupa hari ini jadwal mata kuliah yang dosennya tidak pernah telat. Mataku mengarah ke sudut kamar, tepat pada jam dinding bergamar stich tokoh kartun kesukaanku. Aku bergegas keluar dan menyalakan mobilku, Ah! Sungguh sial hari ini. Tiba-tiba mobilku tidak bisa digunakan, ada apa dengan mesinnya? Padahal sudah ku bawa ke bengkel kemarin sore. Zaman semakin canggih, sekarang sudah ada ojek online. Tidak ingin mengeambil resiko, aku langsung menghubungi temanku, dia bekerja sebagai ojek online. Tidak lama aku menunggu dia datang dan melaju kencang menuju kampusku. Tidak bisa ku bayangkan, seandainya aku terlambat hari ini pastilah dosenku itu mengajakku makan siang, sebagai hukuman keterlambatanku.
Matahari tepat berada diatas kepalaku, panas sekali hari ini. Aku berusaha menghunbungi kekasihku. Biasanya jam siang seperti ini dia istirahat. Namanya Sandi, dia sudah bekerja, dan bisa dianggap  mapan. Dia bekerja di pemerintahan, sudah mempunyai beberapa rumah dan satu tempat usaha sendiri. Sudah dua tahun lebih kami menjalin hubungan, yaaa tinggal menunggu aku lulus kuliah saja, dan kami akan menikah. Mungkin satu atau dua tahun lagi. Satu jam aku menunggu, kekasihku datang menjemputku. Perutku sudah sangat lapar, aku tidak berlama-lama dan langsung mengajaknya ke rumah makan terdekat. Seperti biasanya aku memesan makanan kesukaanku Nasi goreng telur ceplok. Lima menit menunggu pesanan datang, tiba-tiba telepon sandi berbunyi, dan yang anehnya mengapa harus menjauh dariku saat mengangkat telepon.
“Telepon dari siapa tadi?” tanyaku.
“telepon dari orang kantor” Jawabnya dengan ketus.
“kamu kenapa? Tiba-tiba ketus begitu jawabnya, padahal aku hanya bertanya masalah kecil saja” Sahutku dengan emosi.
“kamu yang kenapa, masalah aku mengangkat telepon keluar saja kamu marah!” jawab Sandi dengan nada yang tidak santai.
“kamu kenapa marah-mara?”
“terserah! Hilang nafsu makan ku , aku pulang.”
            Sandi meninggalkanku sendirian di rumah makan, aku jadi bingung kenapa hari ini Sandi jadi pemarah. Nafsu makanku jadi hilang, rasa lapar yang aku rasakan dari pulang kuliah sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya perasaan kesal, marah, dan bingung. Aku meminta pelayan untuk membungkus makananku. Terpaksa aku menghubungi temanku lagi untuk mengantarku pulang. Sungguh menyebalkan hari ini. Tadi pagi mobilku tidak bisa dinyalakan, hampir terlambat kuliah, dan sekarang aku ditinggal Sandi sendirian.
            Temanku datang menjemputku, hari masih siang, malas sekali aku pulang, dan aku memutuskan untuk pergi ke sebuah toko baju langgananku. Tiba di seberang jalan menuju toko itu, aku melihat mobil yang tidak asing. Tidak lama kemudian, seorang perempuan dengan baju coklat muda dan rok di atas lutut keluar dari mobil itu. Ya! itu mobil Sandi, lalu siapa perempuan itu. Aku tidak hanya tinggal diam, aku menghampiri Sandi dan perempuan itu. Saat aku menghampiri perempuan itu sudah masuk ke dalam toko dan Sandi hanya menunggu di depan mobil.
“siapa dia?” tanyaku dengan kesal.
“dia yang mana? Maksud kamu apa?” jawab Sandi dengan emosi.
“peremuan tadi, perempuan baju coklat dengan rok diatas lutut” Jawabku.
“oh, itu adik sepupuku”
“kenapa aku tidak pernah melihatnya?” tanyaku lagi dengan penasaran.
“kamu ini banyak tanya, pulang saja sana!” ucapnya dengan lantang.
            Temanku menarik tanganku dan memintaku duduk di atas kuda besinya. Memang, temanku yang satu ini sangat tidak ingin jika aku sedih. Sebelum dia mengantarku pulang. Dia menghadiahi Sandi dengan satu tamparan kewajahnya. Saat menuju jalan pulang, aku meminta temanku untuk berhenti dipinggir jalan. Aku memintanya menurunkanku dpinggir jalan, namun dia bersikeras untuk mengantarku pulang. Aku menangis sepanjang jalan. Aku sungguh membenci hari ini. Aku tiba di depan rumah dan aku langsung masuk ke dalam rumah. tangisku lepas disaat aku merebahkan tubuhku di kasur. Melelahkan sekali hari ini, tidak hanya tubuhku yang merasa lemah, tapi hatiku juga. Rasanya semua telah berubah, tidak seperti dua tahun yng lalu. Karena aku sangat merasa lelah, aku tertidur lelap.
            Waktu pengingat telepon pintarku berbunyi, waktunya untuk senam sore ini. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukaku. Aku segera bersiap dan tidak lupa membawa air mineral dengan irisan lemon di dalam botolnya. Aku turun dari lantai kamarku, tapi aku melupakan satu hal. Mobilku tidak bisa digunakan, aku segera menghubungi orang bengkel langgananku. Aku mengeluarkan sepedaku dari garasi dan mengayung laju ke tempat senamku. Ketika aku melaju kencang dengan kayuhan kakiku, tiba-tiba ada seorang lelaki yang melaju dari sebrangku. Tidak sengaja dia menabrakku dengan kuda besi putih besarnya. Aku terjatuh dari sepedaku.
“maa maa maaf” ucap lelaki itu.
“iya, tidak apa-apa” jawabku dengan kesakitan.
“lenganmu berdarah” lelaki itu menyentuh lenganku.
“ah, sakit sekali” jawabku dengan menahan air mataku.
            Lelaki itu memaksaku, dia mengantarku pulang sampai di depan rumah. sepadaku diantar temannya ke bengkel. Sungguh baik hati lelaki ini, aku memintanya untuk duduk di ruang tamu. Aku membuatkan minuman untuknya, setelah aku lihat-lihat lelaki ini sedikit tampan, tubuhnya kekar, berkumis tipis, jika dia senyum sungguh sangat manis.
“hai, kenapa kamu menatapku seperti itu?” ucap lelaki itu mengejutkanku.
“tidak, tidak, tidak apa-apa” jawabku dengan gugup.
“kenalkan, namaku Farhan” ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
“namaku Adelia, panggil saja aku de” sahutku dengan tersenyum.
“kamu sendirian saja di rumah de?” tanya lelaki itu.
“iya, aku sendiri” aku menunduk.
“dimana orang tuamu?” tanya lelaki itu lagi dengan wajah penasaran.
“Orang tuaku sudah lama berpisah, sejak aku SMP, dan mereka memilih menikah lagi dengan pilihan mereka masing-masing” jawabku.
            Lelaki itu menatapku dengan serius, tiba-tiba dia mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. Ternyata dia seorang polisi yang bertugas di kantor polisi daerah. Dia memberikan kartu nama itu agar aku bisa menghubunginya, dia takut jika terjadi sesuatu padaku. Untuk apa dia memberikan kartu nama itu, padahal kami sudah berteman di media sosial. Lelaki seorang polisi yang bernama Farhan itu pulang. Ada untungnya juga aku jatuh, dapat kenalan baru. Aku menutup pintu rumahku, tiba-tiba Sandi di depan pagar dan masuk ke dalam rumah.
“kenapa itu tangan kamu?” tanya Sandi.
“tadi aku jatuh” jawabku.
“oh, aku pinjam kamar mandimu ya?” ucap Sandi menuju kamar mandi dengan membwa tas ransel.
“kamu mau kemana?” tanyaku.
            Sandi tidak menjawab pertanyaanku, menolehpun tidak. Perlakuan Sandi sekarang membuatku menjadi ragu. setelah Sandi mengganti bajunya, dia bergegas bersiap. Rapi dan sangat wangi. Tidak banyak bicara, Sandi langsung memakai sepatu dan pergi. Tanpa minta izin Sandi pergi dari rumahku, bahkan dia juga tidak mengatakan mau kemana dan bersama siapa. Tubuhku sangat merasa lelah. Aku tertidur setelah aku melaksanakan salat isya. Seketika aku tertidur, telepon pintarku berbunyi. Ada telepon di Line dari Farhan, dia mengajakku vidio call. Mataku masih mengantuk, Farhan menghubungi hanya ingin meminta izin. Setelah aku melihat jam ternyata baru pukul sembilan malam. Farhan meminta izin, malam ini dia akan patroli dibeberapa hotel. Aku jadi bingung, dia kan baru mengenal aku. Pergi patroli saja harus meminta izin dan mengabariku. Aneh juga tuh anak. Aku menghargai sikap Farhan, pastinya aku memberikan izin dan mendoakannya dalam tugasnya malam ini. Aku baru sadar sampai ini Sandi tidak mengabariku. Aku berusaha menghubungi Sandi, namun tidak tersambung.
            Malam semakin larut, aku jadi tidak bisa tertidur lagi. Padahal tubuhku sangat terasa lelah. Tiba-tiba Farhan meneleponku lagi. Saat kami vidio call Farhan menceritakan kejadian malam ini. Tidak sengaja aku melihat perempuan duduk dipojokan dengan menunduk. Sepertinya aku mengenal wajah perempuan itu.  Saat aku ingin menanyakan tentang wanita itu, tiba-tiba Farhan dipanggil atasannya, dan Farhan menutup teleponnya. Aku jadi terpikir tentang perempuan tadi.  Aku mencoba memajamkan mataku, dan larut dalam tidurku.
            Embun membasahi kaca jendela kamarku, pagi ini sungguh dingin. Aku merasa tubuhku kurang sehat. Aku segera menghubungi Sandi untuk menemaniku ke dokter. Lebih sepuluh kali aku mencoba menelepon Sandi, namun tidak ada jawaban. Ini baru pukul enam pagi.  Sandi tidak mungkin sudah berangkat ke kantor. Sandi sangat berubah akhir-akhir ini. Tiba-tiba Farhan menghubungiku.
“De, dimana?” tanya Farhan.
“aku di rumah, kenapa?” jawabku.
“lihat muka kamu De” ucap Farhan memindah mode vidio call.
“iya, apa?” ucapku dengan lemas.
“jelek banget kamu De, tapi waja kamu pucat?” tanya Farhan dengan memperbesar wajahku dilayar telepon pintarnya.
“aku lagi tidak enak badan” jawabku.
            Farhan mematikan telepon dengan tiba-tiba. Kepala ku sangat terasa pusing. Keringat dingin keluar dari tubuhku. Aku menggigil, saat aku berdiri dan mengambil air di atas meja belajaku. Telepon pintarlu berbunyi, pengingat bahwa ada pesan. Saat aku membuka pesan itu ternyata dari Farhan, dia sudah berada di depan rumah. Tidak ingin ditunggu Farhan lebih lama, aku segera mencuci wajahku dan menggosok gigi. Tiba aku didepan pintu, Farhan menarikku dan memintaku duduk di kuda besi putih besarnya. Aku tidak tahu akan dibawa Farhan kemana, aku hanya duduk diam dibelakang. Farhan berhenti di depan parkiran rumah sakit.
“siapa yang sakit?” tanyaku.
“kamu jangan keras kepala De!” jawabnya marah-marah.
            Tiba di ruangan dokter, aku diperiksa. Aku hanya kelelahan dan sedang banyak pikiran, maka dari itu aku terlihat sakit hari ini. Dokter memberikan beberapa resep obat. Farhan segera ke apotek rumah sakit. Aku menunggu di bangku, tiba-tiba aku melihat Sandi berdiri di depan kamar pasien. Aku menemui Sandi, dan mengajak Sandi berbicara. Tapi Sandi tidak sedikitpun menghiraukanku. Saat aku menarik tangan Sandi, Farhan datang menemui aku. Entah kenapa, Farhan langsung menegur Sandi. Apa mungkin Farhan dan Sandi saling mengenal. Farhan langsung mengajak pulang, tanpa menanyakan sesuatu tentang Sandi kepadaku. Tiba-tiba aku menjadi penasaran kenapa Farhan mengenal Sandi.
“Han, kamu kenal Sandi?” tanyaku.
“iya De, kenapa?” jawabnya.
“tidak, memangnya kalian saling mengenal dari mana?” tanyaku lagi sambil menatap wajah Farhan di kaca pemantau yang sedang fokus mengendarai kuda besinya.
“kemarin De aku patroli, nah Sandi juga terjaring razia bersama perempuan, dan ternyata Sandi itu sepupunya teman aku” jawab Farhan dengan santai.
“apa?! Sandi bersama perempuan di hotel, itu tidak mungkin” ucapku dengan terkejut dan tiba-tiba Farhan berhenti.
“kamu ini De, buat aku terkejut saja” jawab farhan sambil memegang tanganku dan melanjutkan perjalanan.
“Sandi itu pacar aku” ucapku sambil menangis.
“kamu serius De?” tanya Farhan.
            Tibalah kami di depan rumahku, Farhan langsung mengantarku sampai ke kamar, dan menyiapkan makananku. Setelah minum obat, mataku terasa berat. Farhan tidak pulang juga padahal aku sangat ingin tidur. Tiba-tiba Farhan menelepon seseorang dan sepertinya di telepon itu seorang perempuan. Farhanpun berpamitan pulang setelah dia menelepon seseorang tadi. Farhan mengusap kepalaku dan mengatakan selamat beristirahat. Lama-lama aku bisa terbawa perasaan dengan sikap Farhan seperti ini.
            Aku tertidur cukup lama dan terbangun. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, ternyata aku sudah tertidur selama empat jam. Aku masih asik dengan telepon pintarku. Tiba-tiba terdengar lagu BMTH– Sleep Walking, ternyata ada telepon dari Farhan. Dia mengajakku keluar untuk makan. Karena perutku juga terasa lapar, tidak mungkin jika aku menolaknya. Tidak lama dia meneleponku, terdengar suara kuda besinya dari jendela kamarku. Aku langsung turun dan menemui Farhan. Dia juga tidak ingin berlama-lama ada di depan rumahku dan langsung menyalakan mesin kuda besinya. Tidak jauh dari rumahku, kami berhenti disebuah tempat makan kesukaanku. Lagi sakit seperti ini, sungguh enak makan sop ibu Aminah. Aku sangat lahap menghabiskan makananku. Tiba-tiba Farhan menatapku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
“De, kamu cantik ya kalau lagi sakit” ucap Farhan dengan mengedipkan sebelah matanya,
“jangan dipuji seperti itu, pasti kamu minta aku yang bayar makanan ya?” jawabku dengan tersenyum.
“kamu memang cantik De, tapi sayang” tiba-tiba Farhan memberi jeda di alasannya.
“sayang kenapa?” tanyaku dengan mengangkat satu alis.
“tidak apa-apa saya” Farhan tertawa dan sedikit membuatku merasa malu.
“kamu ini bisa aja, aku tau pasti kamu mau dipanggil sayang” jawabku dan kami tertawa bersama.
            Aku merasa ingin buang air kecil. Saat aku menuju kamar mandi di rumah makan, tidak sengaja seorang perempuan menabrakku hingga aku terjatuh. Perempuan ini sangat cantik dia juga memakai kerudung sama sepertiku. Senyum manis dan tahi lalat di dagunya membuat dia lebih terlihat manis. Dia meminta maaf denganku dan membatnuku berdiri. Perempuan yang baik hati, sungguh lelaki yang memilikinya sangat beruntung. Tiba aku di kamar mandi dan ingin mencuci tangan. Perempuan yang tidak asing dimataku, sepertinya aku pernah melihatnya tapi lupa dimana. Dia bersamaan denganku saat ingin keluar dari kamar mandi. Aku dikejutkan dengan pemandangan yang sangat menyedihkan. Sandi mengandeng tangan perempuan yang bersamaan denganku di kamar mandi tadi. Aku tidak hanya tinggal diam, tidak berpikir panjang aku menarik tangan Sandi. Saat itu orang-orang sangat ramai disana. Aku memarahi Sandi, tapi Sandi hanya diam. Perempuan itu tidak hanya diam, dia memarahiku, dan mengatakan bahwa aku telah menghancurkan hubungan mereka. Perempuan itu memarahiku dihadapan banyak orang. Aku menangis disaat perempuan itu mencaciku dan mengatakan bahwa dia sudah tunangan dengan Sandi. Hal yang mebuatku sangat terasa sakit, Sandi dengan perempuan itu sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Aku menunduk diam, betapa bodohnya diriku. Selama dua tahun lebih aku menjalin hubungan dengan Sandi, ternyata dia milik orang lain. Jadi selama ini aku hanya menjadi orang ketiga.  Farhan merasa telah menunggu lama dan dia menghampiriku di dekat kamar mandi. Farhan sangat terkejut melihat aku menangis.
“kamu kenapa menangis De, apa ada yang sakit ditubuhmu” tanya Farhan dengan wajah cemas.
“kita pulang” jawabku sambil menarik tangan Farhan.
            Aku hanya menangis, menangis, dan menangis. Betapa terpukulnya hatiku saat ini. Sandi yang selama ini ku anggap menyayangiku dengan tulus, bahkan kami sudah ingin berpikir menikah. Apakah lelaki semua sama, seperti ayahku meninggalkan ibuku hanya karena wanita yang lebih cantik. Disini posisiku yang salah, kenapa selama dua tahun lebih menjalin hubungan tidak mengetahui bahwa Sandi sudah milik orang lain. Farhan berusaha menenangkanku dan dia berhenti di depan rumahku. Aku langsung turun dari kuda besinya. Sepertinya Farhan ciri lelaki yang tidak suka ikut campur dengan masalah orang lain. Farhan berpamitan pulang dan aku langsun masuk ke dalam rumah. tanpa mencuci muka, kaki, dan menggosok gigi. Aku merebahkan tubuhku, perasaan ku sagat hancur malam ini. Aku tertidur dalam tangisku. Tengah malam tiba-tiba dadaku terasa sesak, tubuhku gemetar dan berkeringat dingin. Aku menelepon Sandi, karena panik aku lupa bahwa Sandi sudah mengecewakan aku. Aku juga lupa dengan kejadian tadi. Sandi datang dan mengantarkanku ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, aku langsung di berikan penanganan. Karena kondisiku yang tidak memungkinkan aku  diberikan bius oleh dokter. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku.
            Pagi hari, aku terbangun. Saat aku membuka mataku, dua pasangan yang sudah menunggu sadarku. Ternyata sandi bersama kekasihnya dan Farhan juga ada disana bersama perempuan. Perempuan yang sedang bersama Farhan sepertinya aku mengenalnya. Aku seperti pernah melihat perempuan itu. Tapi dimana, aku lupa. Aku membuka mata perlahan samapi terlihat jelas apa yang ada dihadapanku. Farhan mengenalkanku dengan perempuan yang sedang bersamanya. Ternyata perempuan itu adalah kekasih Farhan. Tiba-tiba dadaku terasa sesak saat mengetahui hal itu. Ternyata Farhan sudah memiliki kekasih. Aku mencoba tersenyum dihadapan mereka.
“bagaimana keadaanmu De?”tanya Farhan.
“sudah baik, sepertinya aku bisa pulang hari ini” jawabku.
“lebih baik kamu dirawat disini dulu, kamu hanya sendirian dirumah” ucap Sandi memotong pembicaraan Farhan.
“sepertinya aku merasa lebih baik jika aku dirumah saja” jawabku.
“kalau kamu ingin dirumah, aku bisa menamani kamu sampai kamu sembuh De” ucap kekasihnya Farhan.
“iya De, aku juga  bisa tinggal bersama kamu selagi kamu sakit” kekasihnya Sandi meencoba membujukku.
“tidaklah, aku tidak ingin membuat susah siapapun” jawabku dengan santai.
            Aku memanggil perawat, sepertinya aku ingin sekali cepat pulang kerumah. Dadaku sangat terasa sesak, aku tidak bisa menerima kejadian ini. Sandi kekasihku sudah mempunyai kekasih dan Farhan harapanku ternyata juga sudah mempunyai kekasih. Setelah perawat datang dan memeriksaku aku tidak diizinkan pulang kerumah. Tubuhku terasala lemah, keringat dingin keluar dari tubuhku dan aku tidak sadarkan diri.
            Aku membuka mata, ternyata hari sudah malam. Rumah sakit sangat sepi dan aku semakin gelisah. Aku ingin pulang saja ke rumah, karena disini sangat sepi. Padahal di rumah juga sepi, tapi setidaknya aku bisa lebih nyaman. Aku berusaha melepas infus dan selang oksigen. Aku ingin pulang, jika aku meminta izin dengan dokter yang menanganiku tidak mungkin diberikan izin. Aku berusaha kabur dari rumah sakit. Biaya rumah sakit sudah aku bayar tadi pagi. Aku bisa keluar dari rumah sakit, tanpa dicurigai oleh pihak rumah sakit. Untungnya aku keluar tidak memakai baju pasien, tetapi baju aku juga. Ini sudah pukul satu malam, sulit sekali untuk mencari angkutan umum. Aku berusaha segera menghubungi temanku Farid tukang ojek online yang biasanya.
“hallo, kenapa De meneleponku?” tanya Farid saat menjawab teleponku.
“bisa jemput aku tidak, di depan rumah makan Pak Joyo dekat rumah sakit Mulia? Ucapku tanpa basa-basi.
“iya, tunggu lima menit aku akan sampai disana” jawab Farid dan langsung menutup teleponku.
            Saat aku berdiri, terlihat dua mobil polisi melintas, dan diiringi beberapa polisi lainnya dengan menggunakan motor. Tidak sengaja aku melihat Farhan, mungkin mereka sedang patroli. Farhan tidak melihat aku, tetapi salah satu teman Farhan melihatku. Dia menghampiriku dan memintaku untuk memperlihatkan kartu identitasku. Saat teman Farhan menghampiriku, Farhanpun melihatku, dan juga menghampiriku. Farhan sangat terkejut, bahkan dia marah. Tidak lama kemudia Farid sudah tiba. Aku pulang bersama Farid tanpa menghiraukan Farhan. Aku sudah kecewa dengan Farhan, aku mengira Farhan baik denganku karena dia mempunyai perasaan yang lebi kepadaku. Kejadian yang sebenarnya Farhan tidak mempunyai perasaan yang lebih kepadaku, bahkan dia sudah memiliki kekasih. Tiba di rumah, tubuhku terasa lemah. Aku segera masuk ke dalam rumah. farid juga tidak berlama-lama, karena hari sudah terlalu malam. Aku sangat takut jika setiap hari sendirian di rumah. lebih baik aku tidur dulu.
“De, bangun dong ayo!”
“iya, ini aku bangun” jawabku sambil membuka mataku secara perlahan, ternyata Putra yang biasa aku panggil Puceh, dan dia adalah sepupu aku dari luar kota.
“eh, bagaimana kamu bisa masuk” tanyaku dengan mata melotot.
“makanya kamu seharusnya punya pembantu, jadi tidak akan ada yang lupa mengunci rumah” jawab Puceh.
“apa?!” aku terkejut.
“sudah, untung aku yang masuk bukan maling” ucap Puceh dan tidak lupa jika bertemu denganku dia mencubit pipiku.
“ah sakit! Spontan aku menjawab sikapnya.
“aku tinggal disini boleh?” tanya Puceh sambil memandangi wajahku.
“untuk apa? Agar kamu bisa membawa perempuan sepuasnya kerumahku” jawabku.
“tidaklah, aku sudah insaf De” ucap Puceh meyakinkanku.
“bagus, coba dari dulu begini pastinya kamu dapatkan perempuan yang baik-baik” jawabku dengan wajah tersenyum.
            Puceh membaringkan tubuhnya di kursi empukku. Puceh sepupu yang paling dekat denganku, dari kecil kami selalu bersama. Ayah Puceh adalah kakak ibuku. Sekarang Puceh sudah sukses, dia menjadi seorang polisi dan bertugas di Jakarta. Saat ini Puceh mengambil cuti  dan akan tinggal bersamaku selama seminggu. Puceh lelaki yang selalu membuatku marah, karena dia selalu menggangguku. Aku lupa hari ini adalah hari senin, aku kuliah. Aku bergegas ke kamar mandi dan bersiap berangkat kuliah. Saat aku ingin mengikat tali sepatuku, tiba-tiba Puceh datang menyuapi nasi goreng. Ternyata Puceh sudah membuatkan nasi goreng untukku.
“nyam” sesuap nasi masuk kemulutku.
“De, aku antar ya?” ucap Puceh sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutku.
“tidak usah, nanti kamu genit dengan teman-temanku” jawabku dengan mengejeknya.
“kamu ini De, ayolah aku bosan juga kalau di rumah apalagi sendirian” puceh membujukku dengan mengelus-elus kepalaku.
“iya, tapi ingat jangan macam-macam!” ancamku.
“tidak mungkin, aku sudah insaf gendut” jawab Puceh dengan mengejekku.
“ah! Aku naik ojek saja kalau begitu” ucapku.
            Puceh menarik tanganku dan memintaku menaiki kuda besinya. Lumayan bisa hemat, jika aku berangkat diantar Puceh. Di depan pagar rumahku ada seseorang yang berdiri. Puceh membuka pagar dan menemui orang itu. Aku terkejut ternyata dia Farhan, tapi kenapa Puceh lama menemui Farhan. Aku menyusul Puceh, saat aku lihat Puceh sedang asik berbincang dengan Farhan. Aku menarik tangan Puceh dan memintanya agar cepat mengantarkan aku, karena aku sudah sangat terlambat. Puceh berpamitan dengan Farhan, namun tidak denganku menatap Farhan serius saja aku tidak ingim. Saat di perjalanan Puceh menanyakan suatu hal yang membuatku terkejut.
“De, sudah berapa lama kamu mengenal dia?” tanya Puceh.
“dia siapa yang kamu maksud?” jawabku.
“Farhan, tadi dia banyak cerita tentang kamu” ucap Puceh.
“oh, tidak penting” jawabku dengan ketus.
“kenapa?” pertanyaan Puceh membuatku jengkel.
“bisa bawa motot tidak, aku sudah terlambat!” jawabku.
            Pucehpun melaju dengan kuda besinya. Aku semakin jengkel saat Puceh menanyakan hal tentang Farhan. Aku sudah merasa kecewa dengan Farhan. Ternyata Puceh dan Farhan saling mengenal. Aku tidak mengetahui apa yang telah diceritakan Farhan tadi, sehingga Puceh menanyakan hubunganku. Kami sudah tiba di depan kampusku, tidak berlama-lama aku segera masuk ke kelasku. Ternyata aku sudah terlambat, untuknya dosen pagi ini lelaki yang paling baik. Aku masih diberi kesempatan untuk ikut pelajaran hari ini.
“De, kamu sering tidak masuk kenapa?” ucap Mahda teman akrabku.
“kemarin aku sakit, tapi hanya sehari di rawat di rumah sakit” jawabku.
“kenapa kamu tidak berikan kabar ke kami?” tanya Mahda.
“aku hanya tidak ingin kalian khawatir dengan keadaanku dan akan merepotkan kalian” jawabku menunduk.
“kami akan selalu ada untuk kamu De” ucap Mahda dengan memegang tanganku.
            Perkuliahan telah selesai, semuanya sudah pulang. Aku tertinggal sendirian di kelas, aku seperti bingung dengan hari ini. Rasanya aku tidak fokus dengan kegiatan hari ini. Aku tidak tahu pulang dengan siapa? Tidak mungkin aku minta jemput Puceh lagi. Kalau bisa aku tidak bertemu dengan Puceh beberapa hari ini.  Pasti diakan bertanya lagi ada apa dengan aku dan Farhan. Saat aku ke depan kampus ternyata Puceh sudah tiba di depan. Aku berbalik, namun ternyata Puceh sudah melihatku.
“hey, ayo pulang De!” teriak Puceh.
“eh, hehe iya iya” jawabku.
“kamu marah denganku?” tanya Puceh.
“tidak, memangnya kenapa?” ucapku.
“tadi aku telepon, kamu tidak menjawab” jawabnya.
            Kami melanjutkan perjalanan pulang, tiba-tiba Puceh berhenti di depan toko baju. Puceh mengajakku masuk, ternyata dia memperkenalkan aku dengan teman dekatnya. Perempuan itu sangat canti Sela namanya. Sepertinya perempuan itu juga baik dan sopan. Aku setuju dengan pilih Puceh kali ini. Semoga saja Puceh bisa menjaga perempuan ini. Aku tidak bisa berbicara banyak dengannya, karena dia saat ini sibuk dengan pekerjaannya. Aku memutuskan untuk mengajaknya nonton film di bioskop dan Sela menyetujuinya. Aku dan Puceh berpamitan pulang dengan Sela.
“bagus juga pilihan kamu” sindirku.
“pastinya, kamu meremehkan aku selama ini ya De?” tanya Puceh.
“dahulu kamu selalu memilih perempuan yang suka memakai baju ketat dan rok di atas lutut, ya seperti perempuan yang suka dengan dunia malam” jawabku.
“kamu ini De, selalu mengejekku” Puceh kesal dan mencubitku di tangan.
“maafkan aku abang ganteng”
“kamu mau makan apa De?” tanya Puceh.
“hehe, kamu mengerti saja apa yang aku mau” jawabku dengan tersenyum.
“kita makan di tempat biasanya saja ya?” tanya Puceh.
“hemmm, iya genteng”
“pasti kamu minta teraktir, dari tadi panggil-panggil aku ganteng” sindirnya.
            Kami tiba ditempat makan langganan kami, aku menunggu Puceh yang sedang memesan makanan. Ketika aku berbalik tenyata pemandangan yang sangat indah, pemandangan ini bukan sebuah lukisan yang ada pelanginya ataupun sebuah pegunungan. Aku melihat lelaki yang tinggi berkumis tipis, ini tipe aku. Senyumnya sangat manis, aku temenung memandanginya. Dia melemparku dengan tisu yang telah digulungnya dengan kecil. Sepertinya dia sadar bahwa dari tadi aku selalu memandanginya.
“De, segitunya kamu memandangi dia”
“habisnya dia tampan, hehe”
            Kamipun makan, seperti biasanya jika aku makan disini aku pasti lahap menghabiskan makanannya. Makanan disini sungguh enak, enak, dan enak. Sepertinya perutku sudah tidak bermasalah lagi, rasanya aku sudah merasa kenyang. Memang baik sepepuku ini. Kami bersantai setelah habis menyantap makanan. Seperti biasanya, jika aku kenyang aku akan merasa ingin tidur.
“hay, pulang yo aku lelah” bujukku kepada Puceh.
“iya, cerewet!”
            Kami segera pulang. Saat aku membuka pintu rumah makan itu, mungkin ini rezeki bagiku atau musibah. Aku tidak sengaja menjatuhkan minumanku ke baju lelaki ganteng itu. Pastinya dia sangat marah dan memintaku membersihkan bekas minuman yang ada dibajunya. Puceh tidak membelaku, dia hanya menertawakanku dan menunggu di atas kuda besinya. Sungguh ini kejadian yang mebuatku bingung. Aku menaiki kuda besi Puceh, sungguh menyebalkan lelaki itu. Aku dan Puceh menuju jalan pulang.
            Tibalah kami di rumah. aku segera merebahkan tubuhku di kursi empuk dan Puceh juga mengikutiku. Tiba-tiba Puceh menanyakan tentang hubunganku bersama Sandi. Puceh tidak tahu apa yang aku alami beberapa hari ini.
“aku selalu mencintai Sandi dengan tulus,. Tapi, semua ketulusan cintaku hanya terbuang sia-sia.””
“De, sudah jangan sedih” kata Puceh sambil mencari tisu di tasku.
“aku tidak bisa, sebenarnya aku tidak bisa menerima kejadi ini.”
“apa aku boleh tau, bagaimana bisa kejadian ini menimpa kamu?”
Sandi adalah lelaki yang bukan hanya sebagai kekasihku, tetapi dia bisa menjadi siapapun. Sebenarnya Sandi sudah menjalin hubungan dengan wanita lain, jauh sebelum dia berpacaran denganku. Sandi juga tidak menjelaskan apapun. Dia tidak memberitahukan kepada kekasihnya, bahwa dia menjalin hubungan juga denganku. Aku juga tidak menyangka, selama dua tahun lebih aku tidak tahu apakah Sandi sudah mempunyai kekasih. Sampai sekarang aku masih belum menerima kejadian ini.
“maaf De, gara-gara pertanyaanku kamu jadi sedih” ucap Puceh.
“tidak apa-apa, setidaknya aku lebih lega jika bercerita denganmu” jawabku.
“De, satu pertanyaan lagi boleh?” tanya Puceh dengan serius.
“iya, ada apa?”
“Farhan itu siapa kamu dan kenal dari mana kamu?” tanya Puceh.
            Farhan lelaki yang tidak sengaja aku temui, selama beberapa hari selalu bersamaku. Sebenarnya aku sudah merasa nyaman dengan Farhan, sikapnya yang selalu memperlakukanku seperti perempuan yang istimewa baginya. Farhan juga selalu menjagaku, dia tidak memberikan celah sedikitpun jika aku akan tersakiti.
“tapi, Farhan sudah mempunyai kekasih De” ucapnya memotong penjelasanku.
“iya, disanalah aku sangat merasa kecewa.”
“hemm.”
“aku mengira Farhan hanya baik denganku, tetapi tidak.”
“sebenarnya Farhan juga sempat cerita kepadaku De, dia juga menyayangimu” ucap Puceh.
“yang benar?” tanyaku.
“iya cerewet” jawabnya.
            Ternyata Farhan juga menyayangiku. Tapi, dia sudah bertunangan dengan kekasihnya. Tidak mungkin dia meninggalkan tunangannya. Mereka juga sudah lama menjalin hubungan. Jika aku masih merespon sikapnya, aku akan menjadi penghalang bahkan menjadi orang ketiga dalam hubungannya. Mungkin ini sudah menjadi nasibku, Farhan datang disaat yang tepat. Ketika Sandi berusaha meninggalkanku, Farhan ada untukku.
“sudahlah De, jangan sedih lagi” kata Puceh dengan mengelus kepalaku.
“iya, kenapa aku jadi terbawa perasaan” jawabku dengan tersenyum.
            Langit sudah mulai gelap, ini sudah jam tujuh malam. Aku dan puceh bersiap untuk pergi bersama Sela. Untung saja mobilku sudah bisa digunakan. Malam ini berbeda seperti dahulunya, dimana jika aku berjalan bersama puceh pastinya bersama kekasih masing-masing. Malam ini aku seperti obat nyamuk untuk mereka. Puceh keren sekali malam ini, mungkin dia tidak ingin dilihat jelek oleh Sela. Kami menjemput Sela dirumahnya. Tapi, Selam keluar rumah tidak sendirian. Seorang lelaki yang tinggi, berkumis tipis, dan terlihat sangat ganteng. Ya! Ini lelaki yang membuat mataku hanyut dalam tatapannya. Lelaki yang aku lihat ditempat makan itu. Ternyata dia kakak kandungnya Sela. Aduh! Aku terjebak situasi, dia berkenalan denganku dan Puceh. Aku jadi sangat malu, namanya Faisal. Faisal ternyata pemain sepak bola nasional, kenapa aku tidak pernah melihatnya ya? Ha, ha, ha apa-apaan sih. Perasaanku bercampur antara malu dan bingung. Bingung apa yang harus aku lakukan. Dia duduk disampingku dan selalu asik dengan telepon pintarnya. Aku tidak tau, kenapa aku tidak berpikir panjang tiba-tiba mengajaknya berbicara.
“hey!”
“apa?”
“minta alamat email kamu, boleh?”
“untuk apa?”
“tidak jadi!” jawabku dengan kesal
            Kami semua tiba di sebuah mall terbesar di kotaku. Seperti menjadi pengawal Puceh saja. Dari tadi hanya mengikutinya. Seperti biasanya, kalau jalan dengan Puceh pasti bertemu dengan temannya. Hal yang membuatku tambah jengkel, salah satu temannya adalah mantanku. Mantan teman bukan mantan pacar. Namanya Gian, lelaki yang cukup ganteng. Tapi, suka ganti-ganti pacar. Dia menatapku dengan aneh, padahal pakaianku sudah normal. Aku memakai baju putih selutut, celana hitam yang tidak ketat, berkerudung hitam, dan sepatu all star hitam. Tidak ada yang harus dipermasalahkan dengan pakaianku. Tiba-tiba Faisal merangkulku, akupun terkejut. Gian menatap Faisal seperti ingin marah. Aneh, Faisal yang tadi sangat cuek tiba-tiba seperti ini. Cukup lama kami menunggu, Puceh memesan tiket nonton jam sepuluh malam. ini baru jam delapan, aku pergi ke musola terdekat untuk salat isya.
“De, kemana?” tanya Puceh.
“salat dulu, masih lama juga kan nontonnya?” ucapku.
“iya” jawab Puceh.
“aku juga salat, tunggu!” kata Faisal menghampiriku.
Puceh menemani Sela disana, Puceh tidak seagama denganku. Aku menuju musala bersama Faisal. Tidak aku sangka lelaki seperti Faisal juga rajin salat. Suami idaman lelaki ini. Saat kami turun dari tangga berjalan, ada lima lelaki yang memanggil Faisal. Mereka teman Faisal kuliah. Mereka juga menyinggung kehadiranku. Namun, Faisal tidak menghiraukan perkataan mereka. Aku bersama Faisal salat. Selesai salat kami kembali. Tapi, perutku tiba-tiba lapar. Jika aku menemui Puceh dulu sepertinya tidak mungkin, aku tidak bisa menahan kejadian ini. Laparku tidak bisa ditunda untuk makan. Aku menelepon Puceh dan mengabari bahwa aku makan dahulu bersama Faisal. Asik makan, tiba-tiba Faisal mengajakku bicara.
“De, Puceh itu siapa kamu?” tanya Faisal dengan ketus.
“sepupuku, kamu baru kenal Puceh ya?” ucapku.
“iya, baru kali ini juga Sela berani jalan dengan cowok dan mengajakku” kata Faisal.
“kamu tidak sekalian ajak kekasih?” tanyaku.
“De, kamu mengejekku?” kata Faisal dengan mata melotot.
“maksudnya?”
“aku tidak punya pacar, dasar bego!” jawab Faisal.
“haha, tidak mungkin!”
“mau kutusuk pisau ya?”
“ih, psikopat ya?”
“haha, tidak hanya bercada bego!”
            Kami tertawa bersama, ternyata Faisal tidak jutek. Sikapnya juga membuatku nyaman. Ah! Jangan mudah jatuh cinta De. Aku selalu merasa nyaman dengan seseorang jika dia bisa menyesuaikan sikapnya kepadaku. Tidak lama kami makan dan kembali menemui Puceh dan Sela. Mereka tida ada ditempat pertama tadi, sepertinya mereka makan. Aku dan Faisal menunggu. Sudah jam sepuluh kami masuk ke studio pertunjukkan. Aku duduk diantara Faisal dan Puceh. Seperti biasanya Puceh selalu menggangguku, dia tahu aku penakut.
            Dua jam telah berlalu, kami pulang. Sebelum pulang seperti biasanya, jika aku ke sini harus membeli green tea dahulu. Aku dan Puceh sangat menyukai apapun yang berasa green tea. Saat kami membeli minuman, aku tidak menyangka akan bertemu sepasang kekasih yang beitu romantis. Pasangan yang ku maksud itu adalah Sandi bersama kekasihnya. Sandi mencoba menghindar saat melihat aku bersama Puceh. Tapi, Puceh sudah melihat Sandi. Puceh segera menemui Sandi. Tapi, tidak aku sangka Puceh menemui Sandi hanya untuk menghadiahi Sandi satu tamparan. Aku tidak ingin ada keributan disini, aku menarik Puceh dan pulang. Aku sangat marah dengan Puceh, kenapa dia harus menampar Sandi dihadapan orang banyak. Sepanjang perjalanan aku tidak menghiraukan Puceh. Aku hanya diam dan bersandar di kursi mobilku. Tiba di rumah Sela kami langsung berpamitan pulang. Aku tidak berpindah tempat duduk ke depan. Kami sudah sampai di rumah aku langsung ke kamar dan mengunci pintu kamarku. Puceh memintaku untuk membuka pintu, tidak aku hiraukan.
            Sejuknya pagi ini, membuatku semangat untuk pergi ke kampus. Puceh sudah membuatkan nasi goreng kesukaanku. Namun, aku masih marah dengannya dan aku meninggalkannya. Mungkin Puce mempunyai alasan, kenapa dia menampar Sandi. Aku berangkat ke kampus dan melupakan telepon pintarku di atas lemari sepatuku. Hari ini aku kuliah juga hanya sebentar tidak apa-apa jika aku tidak membawa teleponku. Aku tiba di parkiran kampus dan melihat Mahda temanku berdiri di depan gerbang. Kampus sangat ramai hari ini, ternyata ada banyak polisi yang datang.
“kenapa ramai?”
“iya, kamu tau Adi?”
“tau, kenapa memangnya?”
“dia lompat dari atas gedung kampus”
“memang gila itu anak”
            Aku dan Mahda segera menghampiri keramaian. Ternyata memang benar Adi bunuh diri. Adi adalah teman satu kelasku, dia dikenal sebagai lelaki yang aktif dengan kegiatan organisasi di kampus. Mungkin dia sedang banyak beban. Mataku tidak sengaja mengarah ke sudut gerbang, aku melihat Farhan. Aku berusaha bersembunyi agar tidak terlihat olehnya. Tapi, hal yang tidak aku duga, Ama berteriak memanggilku. Ya! Farhan melihatku. Mau bagaimana lagi menghindar, tidak akan bisa. Farhan menarik tanganku dihadapan temannya.
“De, tunggu dulu”
“apa lagi Farhan?”
“kenapa kamu selalu menghindariku”
“aku sibuk!”
“jangan pergi dulu”
“apa lagi?”
“setidaknya kamu dengar penjelasanku”
“tidak!”
            Aku tidak sengaja menampar Farhan di depan temannya. Aku pergi meninggalkan Farhan dan menuju kelasku. Perkuliahan hari ini diliburkan, karena kasus Adi. Aku tidak berlama-lama di kampus dan segera pulang. Selama satu bulan ini aku mengalami kekecewaan, apakah ini ujian bagiku. Saat aku bergegas ke depan gerbang kampus, aku tidak sengaja menabrak salah satu anggota polisi. Aku terjatuh dan dia menolongku. Farhan melihat aku terjatuh, dan menghampiriku. Namun, aku langsung meninggalkannya. Aku masuk ke dalam mobil dan pulang. Jalanan sangat macet, karena ada razia. Aku mencari jalan pintas agar cepat sampai ke rumah. aku menuju pulang, perutku lapar. Tadi aku tidak sempat sarapan. Aku berhenti di depan rumah makan, membeli makan, dan membungkusnya.
            Tiba aku dirumah, rumah dikunci. Bagaimana aku bisa masuk, sepertinya Puceh pergi dan telepon genggamku tertinggal. Aku harus kemana lagi, perutku sudah sangat lapar. Aku makan dimobil sambil menunggu Puceh pulang. Perutku sudah merasa kenyang. Tidak biasanya Puceh pergi lama. Aku mencoba mencari Puceh ke tempat kerja Sela. Tapi, motor Sela tidak ada. Pasti Sela tidak masuk bekerja. Aku pergi lagi ke rumah Sela ternyata ada motor Puceh. Aku memanggil Puceh dan meminta kunci rumahku.
“De, mampir dulu” ucap Sela
“tidak, aku mau pulang saja” jawabku.
“woy! Mampir dulu De” teriak Faisal.
“kamu aja yang ke rumahku” sindirku.
            Faisal keluar menemuiku, dan dia ikut bersamaku. Padahal tadi aku hanya bercanda. Faisal langsung masuk ke dalam mobilku. Tanpa berkata apapun. Memang dasar anak ini. Aku selalu tertawa ketika melihat sikapnya yang lucu. Tiba-tiba Faisal memintaku berhenti di depan kafe, dia mengajakku santai disana.
“jelek sekali muka kamu De” kata Faisal.
“bodoh!”
“memang jelek kamu ini!”
“tidak apa-apa jika aku jelek, tapi aku manis.”
“iya, aku akui kamu memang manis De” kata Faisal memujiku.
            Faisal lelaki yang sangat aku sukai, senyumannya aduhai. Sudah jam empat sore sebaiknya pulang kerumah. Aku sudah merasa lelah. Aku mengira Faisal akan langsung pulang. Namun, faisal juga ikut pulang ke rumahku. Aku meminta Faisa yang menyetir mobilku. Tubuhku sangat terasa lelah.
“De, kamu marah ya dengan Puceh?”
“iya aku marah!”
“kenapa marah?”
“gara-gara kejadian tadi malam.”
“De, dengarkan penjalasanku dulu boleh?”
“iya!”
“sebenarnya Puceh tadi malah sangat marah dengan perlakuan Sandi selama ini kepada kamu.”
“iya aku tau!”
“jadi kenapa kamu harus marah?”
“aku tidak tahu.”
“dasar bego!”
            Kami sudah tiba di depan rumahku, aku turun dan segera membuka pintu. Faisal duduk di ruang tamu dan menonton TV. Aku segera mandi, rasanya badanku sudah kotor sekali. Aku menyiapkan minuman untuk Faisal dan sedikit makanan. Aku asik duduk dengan Faisal. Tiba-tiba Puceh datang bersama Sela. Lama-lama kami merasa bosan jika hanya di rumah saja. Kami memutuskan untuk jalan-jalan. Di pinggir jalan depan komplek ada pasar malam. kami bersama-sama pergi kesana. Hari ini cukup membuatku bahagia. Semua tentang Sandi dan Farhan dapat aku lupakan perlahan. Faisal merangkulku, hatiku jadi dag dig dug. Tapi sepertinya aku tidak ingin berpacaran lagi. Aku juga lebih nyaman jika Faisal menjadi kakakku, bukan pacarku.
            Lelahnya hari ini. Tapi, sangat menyenangkan. Aku merebahkan tubuhku. Aku merindukan orang tuaku. Bagaimana keadaan mereka sekarang, apakah mereka masih menyayangiku. Aku mencoba menelepon Ayah Abi. Dia ayah kandungku, aku sangat menyayanginya. Saat aku meneleponya yang jawab seorang perempuan, sepertinya istri barunya. Dia mengatakan jika ayah sedang tidak ada di rumah dan teleponnya tertinggal. Aku juga ingin menelepon ibu. Namun, tidak ada jawaban. Tiba-tiba dadaku terasa sesak, dan memanggil Puceh. Dia sangat panik dengan keadaanku. Aku diberikan obat peringan sakitku dan Puceh menungguku sampaiku tertidur. Aku mencoba memejamkan mata. Tidak sengaja aku melihat Puceh menangis di depanku.
“kamu kenapa?”
“aku tidak apa-apa De”
“cerita saja kepadaku.”
“De, aku tidak habis pikir jika aku sudah kembali tugas.”
“memangnya kenapa?”
“kamu sendirian De, aku tidak mungkin tega.”
“aku sudah terbiasa, lebay deh.”
“kamu ikut aku saja De ke Jakarta, mau?”
“aku kuliah, tidak mungkin pindah.”
“tapi...”
“percayalah, aku bisa jaga diri.”
            Aku meminta Puceh pergi ke kamarnya, karena aku ingin tidur. Puceh sangat menyayangiku dan mengaganggapku seperti adik kandungnya. Puceh sangat ingin memiliki adik perempuan. Namun, saudaranya laki-laki semua. Aku mencoba untuk tertidur. Telepon pintarky berdering. Ada pesan masuk dari Farhan, isi pesan itu adalah sebuah puisi.
Maafkan aku
Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu
Aku sungguh menyayangimu
Sampai kapanpun akan tetap begitu

Aku minta maaf untuk rasa sakit yang kau rasa
Rasa sakit yang kau rasakan itu
Maafkan aku
Kumohon maafkan aku

Aku tidak ingin meninggalkanmu
Tak pernah ada niat di hatiku mencampakkanmu
Tidak pula aku mempermainkanmu
Semua yang ada dikepalamu itu salah tentangku

Aku harus menjauhimu
aku tidak ingin kamu tersiksa
aku sudah miliknya
tapi aku menyayangimu

maafkan aku
aku ingin kamu bahagia
aku tidak ingin kamu dibutakan cinta
maafkan aku

            Aku ingin tidur, aku tidak menghiraukan pesan dari Farhan. Saat aku memejamkan mata tiba-tiba wajah Sandi terbayang dalam benakku. Aku sangat menyayangi Sandi dan aku tidak bisa melupakannya. Aku masih belum bisa menerima kejadian ini. Sekarang Farhan, dia sudah masuk kedalam hidupku. Tapi, kenapa dia juga harus meninggalkanku.
            Pagi ini sedikit murung, aku jadi malas untuk pergi kuliah. Puceh sudah menyiapkan nasi goreng untukku. Setiap hari Puceh memasak nasi goreng untukku, karena Puceh hanya bisa memasak nasi goreng. Sepertinya lebih baik aku meliburkan diri hari ini. Mungkin hari ini juga tidak ada perkuliahan. Kasus Adi belum selesai, aku juga tidak ingin bertemu Farhan di kampus. Aku menyuap nasi goreng dan telepon pintarku berdering. Pesan masuk dari Farhan, akupun membukanya.
De, kamu jangan marah. Aku tidak ingin kamu seperti ini, tetaplah menjadi inspirasiku.
“De, siapa yang mengirim pesan?”
“Farhan...”
“mau apalagi tuh anak?”
“minta maaf ke aku”
“terus?”
“tidak aku kasih respon”
            Aku menghabiskan nasi gorengku. Sudah tiga hari Puceh disini, sebentar lagi dia akan kembali bertugas. Sepertinya aku akan merasa kesepian jika Puceh kembali tugas. Aku mengajak Puceh pergi ke toko buku langgananku. Puceh bergegas untuk mandi. Sudah satu jam aku menunggu Puceh untuk siap-siap.
“Puceh!”
“iya tunggu cerewet!”
“batalkan saja ya?”
“jangan De!”
            Puceh menemuiku, dan menyalakan mesin mobilku. Aku duduk di samping Puceh sambil memandangi wajahnya. Dia ganteng ya ternyata. Sepertinya aku menyukainya. Hemm, tidak mungkin dia sudah aku anggap saudaraku. Puceh mencubit pipiku, karena dia jengkel selalu kupandangi. Aku menyayangi Puceh, sangat meyayanginya.
“De, aku tau kalauku ganteng”
“wah, dasar kamu ini”
“aku ganteng ya?”
“tidak!”
“aku ganteng De!”
“tidah, bego!”
“pastinya aku ganteng, adikku saja cantik jelita”
            Aku tertawa dengan pujian dari Puceh. Kami sampai di depan toko buku tidak berlama-lama disana, aku mengajak Puceh pergi lagi ke kafe kesukaanku. Puceh merangkulku, tidak sengaja kami berselisihan dengan Sandi dan pacarnya. Puceh tidak bisa menahan emosi, ingin menampar Sandi. Untungynya aku bisa menahan Puceh. Aku dan puceh pergi ke kafe, kami tidak makan disana. Namun, hanya membungkus saja.
            dan ibu meninggal Ratih tidak pernah lagi mendapatkan telepon dari ayah.
Malam hari aku terbangun dari tidurku dan melihat bayangan di jendela saat aku ingin mengambil air. Aku  menengok ke jendela, namun tidak ada seseorang yang kulihat. Sungguh aneh, apakah hanya imajinasiku ucapku  dalam hati. Puceh masuk, aku terkejut karena Puceh membawa sebuah cangkul dan dicangkul itu ada banyak tanah basah yang melekat. Untuk apa Puceh malam-malam seperti ini membawa cangkul, Puceh bukan tukang gali kubur.
Aku masuk ke kamar dan membawa segelas air. Aku merebahkan tubuhku dan mencoba untuk memejamkan matatku. Namun, aku selalu terbayang bayangan yang ku lihat dijendela. “siapa dan untuk apa disini” tanyaku dalam hati. Jam sudah menunjukkan pukul dua subuh. Aku masih belum bisa tertidur, sedangkan malam semakin larut. Semakin aku memejamkan mata semakin teringat dengan bayangan tadi. Aku tidak bisa tertidur, lebih baik aku melakukan salat malam. aku keluar dan mengambil air wudhu. Ketika aku mengambil air wudhu, aku dikejutkan dengan suara aneh, namun aku tidak memperdulikan.
aku terbangun, aku terkejut melihat kamarku sangat berantakan. Aku berteriak! Siapa yang sudah masuk ke kamarku dan aku menyalahkan Puceh. Aku marah-marah dengan Puceh. Tetapi puceh tidak melakukan semua hal itu. Aku menangis dan dadaku terasa sesak. Aku jatuh pingsan tak sadarkan diri. Dokter datang memeriksaku, sampai akhirnya aku sadarkan diri.
“De, kamu kenapa/?”
“tadi malam aneh sekali”
“aneh kenapa?”
“tiba-tiba aku merasa ada seseorang”
“maksudnya?”
“tadi malam kamu datang membawa cangkulkan”
“iya, aku dari rumah temanku De”
“sebelum kamu datang, aku melihat bayangan hitam dijendela”
“bayangan?”
“iya, aku takut”
“tenang ada abang ganteng”
           
Hujan turun dengan deras dimalam hari, aku hanya sendirian di rumah sedangkan Puceh pergi ke rumah Sela. Aku menuju dapur, tiba-tiba aku melihat bayang hitam di jendela. Aku penasaran dengan bayangan itu, aku menghampiri bayangan itu. Tiba-tiba dia ingin menyerangku, aku tidak bisa melihat jelas siapa orangnya. Dia menikamku sampai aku terjatuh. aku menusuknya ditangannya dab dia melarikan diri.
            Ini sudah jam sepuluh malam, Puceh masih belum pulang.  Aku sudah merasa lelah dan ingin tidur, tapi bagaimana dengan Puceh dia tidak membawa kunci rumah. aku menunggu di ruang tamu sambil menonton TV. Tiba-tiba lampu di rumah padam dan aku langsung mencari lilin. Aku merasa takut gara-gara orang tadi. Saat aku keluar rumah, aku melihat satu amplop. Saat aku membuka amplop itu, ada selembar kertas yang berisi tulisan.
Kamu lebih baik mati!
Melihatmu membuatku takut kehilangan seseorang.
Kamu sudah masuk kehidupan hubunganku.
Saat ini dia selalu memikirkanmu.
Dia memanggilku, dengan namamu!
Aku sangat membencimu ADELIA!
ADELIA! lebih baik kamu mati.
Aku tidak ingin kamu ada di dunia ini.
Aku akan menghancurkan hidupmu secara perlahan.
ADELIA!
Kamu yang menjauh, atau aku yang akan membunuhmu.
Kamu jangan bermimpi untuk mendapatkan dia.
Camkan itu!
            Aku tidak tahu, apa maksud dari pesan ini. Aku segera menelepon Puceh dan memintanya pulang ke rumah. Puceh tidak menjawab teleponku. Aku sangat merasa takut, aku menangis di kegelapan malam yang hanya disinari lilin. Satu jam aku menunggu listrik sudah tidak padam lagi. Puceh juga sudah datang, aku langsung memeluk Puceh dan bercerita kejadian malam ini. Puceh mencoba menghubungi Farhan untuk menindaklanjuti masalah ini. Akupun diantar Puceh ke kamarku. Dan menungguku sampai tertidur.
            Pagi ini sangat sejuk, saat membuka mata, aku meihat Farhan ada di kamarku. Tidak hanya Farhan yang ada dikamrku tiga temannya yang berprofesi sama juga ada disini. Puceh juga ada disini mereka semua sudah berada dihadapanku. Aku diminta keterangan tentang kejadian tadi malam.
“De, apa yang terjadi tadi malam?” tanya Puceh.
“aku mengambil air minum, tiba-tiba ada orang yang ingin menikamku.
“apa kamu melihat orangnya?” ucap Farhan.
“tidak!” jawabku ketus.
“kalau ciri-cirinya?” tanya teman Farhan.
“aku tidak tahu, tapi aku sempat menusuknya ditangan.”
            Aku sangat takut dengan kejadian ini, sepertinya kejadian yang menyakitkan selalu menimpaku. Sepertinya hidup ini tidak adil. Kebaikan tidak menimpa kepadaku, siang itu semua berjaga di rumahku. Sela dan kekasih Farhan juga ada disini. Mereka menyelidiki kejadian ini. Aku tidak sengaja melihat amplop yang menyangkut di jendelaku. Amplop ini juga berisi surat.
Aku punya hati dan bukanlah kamu juga mempunyai hati sepertiku, kita sama-sama wanita bukankah akan sama-sama sakit jika apa yang sudah milik kita dirampas orang lain. Dia yang kini menjaidi milikku yang sudah ku perjuangkan kenapa kamu menghancurkan. Mengapa kamu datang tiba-tiba hadir menjadi orang ketiga dalam hubungan kami, mengapa menjadi perusak orang hubungan orang lain.
Kita sama-sama wanita kalau kamu bisa merasa sakit saya juga bisa merasa sakit, kalau kamu bisa merasa putus asa saya juga bisa. Aku tidak akan membiarkan orang ku cintta pergi begitu saja. Kehilangan kekasih yang sangat dicintai itu begitu menyakitkan, ku pikir semua wanita di dunia ini akan merasa sakit hati jika kehilangan orang yang dicintai.
Mengapa kamu begitu tidak tahu diri dan tidak punya hati. Bagaimana jika kamu berada diposisisku.  Dia sudah menjadi milikku jauh sebelum kamu mengenalnya. Aku hanya memilikinya tetapi mengapa kamu hadir dikehidupan kami. Lebih baik kamu pergi tinggalkan kehidupannya.
Aku menangis saat mebaca surat ini, aku memanggil Puceh dan dia datang bersama Farhan diikuti kekasih Farhan dan Sela. Tiba-tiba Farhan memegang tangan kekasihnya. Farhan menanyakan kenapa tangannya berbalut perban. Dia menjawab dengan gugup. Aku menjadi curiga apakah pacarnya Farhan, apakah dia yang sudah meneror aku beberapa hari ini. Aku mempunyai rencana untuk menjebak peneror itu.
Rumah beratap merah, dimana tempatku tinggal. Peneror itu sepertinya datang lagi. Namun, aku meminta untuk ditinggalkan sendirian di rumah. aku suah menunggu lama peneror itu, tidak datang juga. Aku hanya melihat amplop lagi yang pastinya berisikan surat. Tapi, dugaanku salah isinya adalah sebuah pisau kecil berlumur darah. Aku berteriak, aku juga menelepon Puceh untuk segera pulang. Puceh datang mencoba menenangkanku. Farhan dan tiga temannya berjaga di depan rumahku. Tiba-tiba ada suara keributan, salah satu teman Farhan menangkap peneror itu. Kami semua berkumpul di ruang tamu. Saat kami membuka topengnya ternyata memang benar. Dia pacarnya Farhan. Tapi, kenapa dia harus mengancamku. Farhan sangat marah dengan sikap pacarnya. Aku tidak ingin juga pacarnya Farhan dipenjara. Aku memaafkan semua perlakuan pacaranya Farhan. Farhan kecewa dengan sikap pacarnya, dia juga memilih untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya.
“De, maafkan sikap pacarku” ucap Farhan.
“iya, mungkin dia terlalu takut kehilanganmu...”
“sudah cepat bawa pulang pacarmu!” ucap Puceh dengan marah-marah.
“tapi...”
“sudah pergi saja sana, gara-gara kamu Adelia ingin dibunuh!”
            Puceh mengantarkanku tidur, malam itu aku sedikit merasa lebih lega. Puceh mencoba membuatku tertidur. Namun, aku masih asik dengan telepon genggamku, Aku memantau aktivitas Sandi di snapgram. Sandi sepertinya bahagia dengan kekasihya. Tidak sengaja aku melihat vidio yang di unduh Farhan. Di vidio itu Farhan menayangkan cuplikannya sekarang. Dia ada di sebuah kafe dan dia hanya sendirian. Pasti Farhan merasa terpukul dengan kejadian tadi. Aku segera menyusul Farhan. Tapi, Puceh tidak mengijinkanku.
“aku boleh menyusul Farhan?”
“tidak!”
“kenapa?”
“jauhi dia!”
“tapi...”
“tidak!!!”
“aku mohon, demi aku”
“iya, tapi ada permintaan”
“apa?”
“aku yang mengantarmu”
“iya”
“aku bersiap dahulu”
“mantap!”
            Aku menelepon Puceh dan memintanya menunggu. Lima menit kemudian aku sudah tiba di kafe itu. Puceh mrninggalkan kami berdua. Aku duduk bersama Farhan, sepertinya dia sangat sakit hati. Dia juga masih memakai seragam. Aku mencoba menenengkan Farhan, seandainya aku tahu peneror itu pacarnya Farhan aku tidak akan cerita.
“Han, aku minta maaf”
“kamu tidak salah De”
“tapi...”
“ini semua gara-gara aku De”
“tidak, seandainya aku tidak masuk dikehidupanmu tidak akan seperti ini”
“De, kamu tidak tinggalkan aku?”
“iya, kamu sudah aku anggap sebagai sahabatku”
“kamu baik sekali De”
“aduh! Aku lapar”
“kamu mau pesan apa?”
“jangan disini, di tempat lain saja.”
            Aku bersama Farhan menuju rumah makan, jalanan sangat macet padahal ini sudah jam sembilan malam. kami berhenti di rumah makan. Ternyata disana ada teman Farhan yang membantuku tadi. Kami makan bertiga. Tiba-tiba Farhan mendapat telepon dari atasannya dan diminta untuk datang ke kantor. Farhan segera ke kantor dan memintanya meninggalkanku saja bersama temannya. Sudah sering kami bertemu tapi masih belum sempat berkenalan. Riki namanya, dia bukan asli orang sini.
“De, boleh aku bertanya?”
“Boleh”
“memangnya kamu tidak punya pacar”
“iya, aku baru saja ditinggal pacarku”
“sabarya De”
“iya”
“kamu memang cantik, pantasa saja Farhan jatuh hati”
“ah, bisa saja kamu ini”
“tapi benar De, kamu cantik”
“kamu bisa antarkan aku pulang?”
“ayo, dengan senang hati”
            Riki mengantarkan aku pulang, kenapa ya tadi Farhan ditelepon dan diminta ke kantor. Riki selalu memandangiku aneh juga lelaki ini. Aku melihat poto perempuan di mobilnya Riki, ternyata itu poto pacarnya. Lama-lama setelah aku melihat poto pacarnya Riki, mirip juga wajahnya denganku.
“De, kamu mirip pacarku”
“iya Ki, aku juga merasa seperti itu”
“tapi ada bedanya”
“apa?”
“kamu pakai jilbab, sedangkan pacarku tidak”
“hehe, mungki dia belum siap”
Aku sudah tiba di depan rumah dan Puceh sudah menungguku. Dia terkejut saat Riki mengantarkanku, sudah aku berikan penjelasan kepada Puceh dan Puceh memahami semuanya. Puceh memintaku untuk beristirahat. Namun, aku masih penasaran dengan Fahan, aku tiduran sambil asik dengan tetepon pintarku. Tidak lama, Farhan menghubungiku. Dia menceritakan kenapa dia dipanggil ke kantor. Ternyata Farhan diminta pindah ke kota lain. Aku merasa sedih, aku akan kesepian Farhan akan pindah, sedangkan Puceh dua hari lagi kembali ke Jakarta. Sandi? Dia sudah tidak lagi dikehidupanku. Aku langsung menutup telepon Farhan dan menangis. Besok dia akan pergi ke Jakarta. Aku tertidur dalam tangisanku.
            Pagi yang inda, embun membasi dedaunan membuat daun-daun itu seperti dijatuhu sebuah berllian. Ini sudah jam sembilan pagi, aku menelepon Farhan ternyata di sudah di depan rumahku. Aku bersama Puceh mengantar Farhan ke bandara. Farhan ditugaskan di Jakarta, maka dia akan satu kantor dengan Puceh. Saat kami keluar dari jalan rumahku, ada taksi yang menghalangi mobil kami. Farhan marah-marah dengan supir taksi itu. Aku hanya memandangi dari kaca mobil. Aku melihat perempuan keluar dari taksi itu. Aku terkejut melihat dia, ternyata Ayu bekas pacarnya Farhan. Ayu langsung memeluk Farhan,  seakan-akan dia tidak ingin ditinggalkan Farhan, Namun aku tidak menyang respon dari Farhan, dia melepaskan pelukan itu dan masuk kedalam mobil.
“Han, kasihan Ayu”
“tidak!”
“kamu tidak boleh kasar” ucapku.
            Farhan melaju menuju bandara, dia sepertinya sudah kecewa berat dengan Ayu. Aku hanya bisa diam, tidak mungkin aku ikut campur. Tiba dibandara Farhan mendekatiku, dia memberikan satu gelang cantik berlonceng kecil-kecil. Diikatkannya gelang itu ketanganku. Farhan juga berpesan kepadaku agar aku bisa menjaga diriku baik-baik, karena baginya perempuan sepertiku akan banyak orang yang mencoba menyakitiku. Farhan pergi dan masuk kedalam pesawat. Sepertinya aku berat melepaskan Farhan. Aku dan Pucehpun pulang. Puceh mengajakku ke toko oleh-oleh karena dua hari lagi dia akan kembali ke Jakarta.
“De, apa ya yang cocok untuk ku jadikan ole-oleh?”
“memangnya untuk siapa?”
“untuk orang-orang di kantor”
“bagaimana dengan kain sasirangan?”
“mantap!”
            Puceh membeli banyak kain sasirangan, tiba-tiba Puceh termenung. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Puceh. Mungkin dia merindukan ibunya di Jakarta. Dia mengelus kepalaku dan matanya berkaca-kaca. Aku segera menenangkan perasaan Puceh saat ini. Puceh segera memilih kain untuk dijadikannya oleh-oleh. Banyak kain yang dibelinya. Mungkin ada tiga puluh, itu juga baginya masih belum cukup. Puceh pasti banyak mempunyai teman disana dan pastinya banyak perempuan yang mengidam-idamkan Puceh. Namun, Puceh hanya menyukai Sela. Aku juga menyukai Sela, dia perempuan yang baik. Kami selesai berbelanja dan segera pulang kerumah. Dalam perjalanan aku termenung, Puceh hanya dua hari lagi disini. Aku ada ide, akan kuaajak dia jalan-jalan untuk dua hari ini. Tapi, hari ini libur saja dulu. Untungnya aku hari ini sudak tidak ada perkuliahan. Akhirnya kami sampai di depan rumah. aku bersama Puceh masuk ke dalam rumah. aku memasak ayam lada hitam kesukaannya. Puceh sudah duduk di kursi makan dan aku menyiapkan makanan untuknya.
“De, enak juga ya masakanmu” sindir Puceh.
“jelaslah, aku bisa masak”
“ah, sombong!”
“ayo habiskan dulu makanannya”
“siap komandan!”
            Puceh sangat lahap menghabiskan makananya, bahkan dia sudah dua kali menambahkan nasi ke piringnya. Aku sangat senang jika Puceh menyukai masakanku. Teleepom Puceh berbunyi ternyata pesan dari Sela, dia memgajak Puceh pergi malam ini. Anehnya Puceh juga mengajakku. Namun, aku hanya menolaknya. Aku tidak ingin mengganggu waktu Puceh  bersama Sela. Setelah makan Puceh mengajakku taruhan. Jika dia menang aku akan meneratirnya nonton besok. Namun, dia yang kalah aku yang akan diteraktirnya. Ya, aku terima saja. Tantangannya. Kami asik bermain vidio game, Puceh curang bermain denganku. Jika dia jengkel dengan sikapku, pastinya dia mencubit pipiku. Kami merasa lelah dan merebahkan tubuh ke kasur. Ini sudah pukul empat sore, aku bergegas mengambil air wudhu untuk salat ashar.
            Aku melaksanakan salatku dan tidak lupa untuk berdoa. Setiap doaku selalu ada nama-nama orang yang aku sayangi. Aku sangat merindukan orang tuaku. Sudah lama kami tidak bertemu, Puceh juga salat. Aku jadi teringat saat kami masih berumur lima tahun. Aku dan Puceh selalu bersama, dia sangat menyukai seragam polisi. Cita-citanya sudah tercapai, aku sangat bersukur mempunyai sepupu seperti dia. Dia lelaki idaman perempuan masa kini. Bagaimana tidak, dia tinggi aku saja sebahunya. Dia mempunyai kumis tipis dan bertubuh kekar. Jika artis dia mirip dengan Vino G. Bastian.
“De, boleh tidak aku jalan malam ini?”
“tidak!”
“kenapa De?”
“tidak boleh!”
“yaudah”
“yah, marah”
“kamu juga sih”
“boleh abang ganteng”
            Aneh saja lelaki ini mau jalan saja harus meminta izin denganku, Puceh segera mandi dan bersiap untuk bersama Sela. Pasti mereka senang-senang bersama disana. Semoga Puceh benar-benar menyayangi Sela. Sela memang pantas untuk Puceh. Sebenarnya aku juga menyukai Puceh. Dia pergi menjemput Sela, aku bosan sendirian di rumah. aku asik memainkan telepeon pintarku. Saat aku melihat snapgram, ternyata Riki sedang ada di kafe bersama teman yang lain. Aku mengirimkan pesan kepada Riki, bahwa aku akan menyusulnya. Aku segera bersiap dan melaju ke kafe.
            Tiba disana, ternyata ramai sekali. Aku duduk disamping Riki dan berkenalan dengan teman yang lain. Mereka sudah tahu aku karena masalah pacarnya Farhan. Mereka sangat asik diajak berbincang. Jika mereka tidak memakai seragam seperti ini, pastinya orang yang melihat menyangka mereka ini bukan anggota polisi. Aku sangat nyaman berteman dengan mereka.
“De, kamu sendirian ya di rumah tadi? Kata Riki.
“iya, Puceh pergi jalan denga Sela”
“pantas saja kamu kesini”
“memangnya tidak boleh?”
“boleh De” jawab mereka dengan ramai.
            Aku tertawa dengan ulah sikap mereka ya kocak. Mereka memang tidak membosankan. Mereka semua memang baik tidak memandang siapapun untuk berteman. Kami sudah jenuh disini dan ingin pindah tempat. Kami segera pergi ke kafe yang lain. Mungkin yang bisa untuk akustikan. Tibalah kami di TJP kafe, ternyata disana juga ada Puceh dan Sela. Aku cukup lama tidak bernyanyi di depan umum. Aku meminta Riki menemaniku bernyanyi. Di kafe aku menyanyikan dua lagu kesukaanku, BMTH-Sleep Walking dan Jazz-Dari Mata. semua pengunjung memandangi kami dan menikmati penampilan kamu. Puceh sepertinya juga ingin menyumbangkan penampilannya dan mengajakku menyanyikan lagu Bara Suara-Sendu Melagu. Temannya Riki ternyata ada yang ganteng, mata ku mengarah ke dia. Namanya Arya, dia teman satu kantornya Riki.
“hey Arya!”
“aku jelek ya?”
“tidak, kamu manis De”
“basi kamu ini!” sindirku dengan tetawa.
“ayo, kamu jago menyanyikan?”
“ah, tidak juga”
“satu lagu denganku mau?”
“tidak, aku malu”
“malu?”
“iya De!”
“ayolah aku mohon”
“iya, boleh dicoba”
            Aku dan Arya menyanyikan lagu dari Jikustik-Untuk dikenang. Namun, kami menyanyikan lagu ini versi yang sudah di modifikasi. Aku sangat menyukai lagu ini, jika aku menyanyikan lagu ini aku seperti terbawa perasaan. Aku jadi teringat Sandi, aku merindukannya. Setelah aku lihat Arya sangat mirip dengan Sandi. Namun, hanya ada satu perbedaan. Arya orangnya pemalu sangat berbeda dengan Sandi. Malam semakin larut sebaiknya aku pulang. Puceh juga pula dan mengantarkan Sela terlebih dahulu.
            Aku sudah tiba di rumah, tidak lama Puceh juga sudah sampai di rumah. Wajahnya sedikit murung, kenapa ya? Mungkin karrenan kelelahan saja. Aku masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku ke kasur beralas gambaran mawar-mawar cantik.  Ketika aku ingin memejamkan mata. telepon pintarku berdering, ternyata pesan dari Farhan. Isi pesannya puisi panjang yang sangat romantis.
Dalam keterpurukan jiawa kau hadir dalam hidupku
Dengan setianya kau menemanani sepinya har-hariku
Kau menepis dinginnnya malamku
Kau hadirkan keindahan asmara sehinggaku terpaku
Ku rasa aku telah merindu jatuh cinta
Rasa yang pernah kusingkirkan
Rasa yang pernah kuenyahkan
Rasa yang membuatku terluka
Kau sanggup mengubahnya
Kini kau menguatkanku
Nafas cinta penuh misteri
Cakrawala terus menari
Biarkan nirwana melambai penuh arti
Percayalah kehadiranmu sungguh berarti
            Tidak lama aku mebaca isi pesan itu, Farhan menelepoku lewat vidio. Dia mengatakan bahwa dia rindu denganku. Farhan sungguh membuatku terbuai dengan sikapnya. Farhan juga memintaku untuk menyampaikan salam untu Sela. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata Puceh membawakan segelas susu coklat hangat untukku. Aku segera menghabiskan susuku agar Puceh cepat kembali ke kamarnya. Aku tidak memberitahu bawah Farhan sekarang meneleponku.
“De, ayo tidur”
“iya, tunggu sebentar lagi”
“kamu tidak mengantuk bang?”
“belum De, aku lagi bimbang”
“kenapa?”
“masalah Sela”
“iya ada apa dengan Sela?”
“menurutmu, sebaiknya aku bagaimana?”
“bagaimana seperti apa”
“aku malu De”
“malu? Biasanya kamu memang malu-maluin”
“apakah aku ungkapkan saja perasaan ku kepada Sela”
“iya, itu lebih baik”
“kenapa?”
“kamu mau Sela direbut orang?”
“tidak!”
“jadi tunggu apalagi!”
“tapi...”
“ah, kamu ini menggangguku saja”
“De!”
“iya, kenapa lagi?”
“Sela suka tidak dengan aku”
“pasti suka, aku saja suka”
“apa?”
“lupkakan!!!”
            Aku meminta Puceh untuk kembali ke kamarnya. Aku sudah tidak bisa menahan rinduku dengan Farhan. Aku melanjukan vidio call dengan Farhan, dia selalu merayuku dengan kata-kata gombalnya. Dia mengajakku untuk berlibur ke Jakarta. Tapi, aku kuliah mungkin nanti saja. Siapa yang ingin menolak jika diajak berlibur ke Jakarta. Mataku sudah ingin tidur. Aku mematikan teleponnya dan mencoba untuk tertidur.
            Pagi hari, dimana Puceh akan menepati janjinya. Dia sudah kalah bermain denganku kemarin. Hari ini Puceh harus mengajakku nonton, makan, dan membelikan tiga makanan dan satu minuman yang berbau green tea. Aku menyapu seluruh isi rumah dan Puceh memotong rumput dihalaman. Untung ada Puceh, bebanku sedikit berkurang. Hari ini juga adalah hari terakhir Puceh tinggal bersamaku. Besok dia harus kembali ke Jakarta menyusul Farhan. hari ini kami akan menghabiskan waktu bersama.
“De, kita mau kemana?”
“ada saja, pokoknya tempat yang akan berkesan”
“kemana?”
“ada saja, jangan cerewet”
            Aku mengajak Puceh nonton dan makan. Kami sangat bahagia hari ini bisa tertawa bersama. Hari semakin gelap, aku mengajak Puceh kesuatu tempat. Matanya kututup dengan sapu tangan. Ku ajak dia berjalan hingga akhirnya tiba di suatu tempat yang sudah aku siapka. Disini sangat indah meja makan yang ku hiasi dengan lilin dan hiasan disekelilingnya. Aku sudah menyiapkan ini untu Puceh. Aku ingin hari terakhir Puceh sangat berkesan disini.
“De, teima kasih”
“iya”
“sebenarnya kau tidak ingin meninggalkanmu”
“aku juga, sebenarnya tidak ingin kamu pergi”
            Dia merangkulku, disana dia menangis seakan-akan dia kan pergi jauh dan tak kembali. Kami bisa saja bertemu lagi. Tapi, karena kesibukan yang menghalangi semuanya. Seminggu Puceh disini sangat membantuku. Dia menjagaku disini dengan setulus hatinya. Dia menganggapku seperti adiknya sendiri. Malam semakin larut kami segera untuk pulang. Malam itu Puceh memberikan boneka stich kesukaanku. Boneka itu sangat besar, sehingga menutupi badanku. Kamipun menuju jalan pulang. Besok akan kuantarkan dia ke bandara.
            Pagi ini hujan deras di sini. Aku segera membuatkan makanan untuk Puceh. Dia sedang bersiap-siap dan aku memasak. Puceh duduk di kusri makan dan dia sangat lahap menghabiskan makanan buatanku. Aku sungguh senang melihatnya. Dia mernagkulku dan mengatakan hal yang mebuatku terkejut.
“De!”
“iya?”
“aku boleh jujur?”
“iya, apa?”
“aku menyayangimu”
            Aku terdiam setelah mendengar hal itu, mengapa dia bilang begitu? Aku mencoba tidak menghiraukannya. Aku bersiap untuk mengantarnya ke bandar, sedangkan dia sedang menyalakan mesin mobilku. Aku masuk ke dalam mobil. Tapi, disana aku hanya memandangi wajahnya yang ganteng mirip Vino G. Bastian. Senyumnya, sikapnya yang selalu menjagaku membuatku semakin mengagumi sosok Puceh.
“nanti kamu kemabali kesini lagi ya?”
“iya, aku akan begitu merindukanmu De”
“jangan lupa dengan semua pesanku”
“iya, cerewet!”
            Kami tiba di bandara setengah jam kami menunggu penerbangan, kami asik mengobrol. Puceh akan meninggalkanku disini sendirian, semoga Puceh selalu diberikan kebahagian di manapun dia berada. Puceh melambaikan tangannya dan aku tidak bisa menahan kesedihanku, sehingga meneteskan air mata. aku menuju jalan pulang, jalan sangat macet. Tidak sengaja aku menabrak mobil di depanku.
“hei, kamu buta ya?” teriak lelaki dimobil itu.
“maaf mas, aku tidak sengaja”
“kamu harus ganti rugi!”
“tapi...”
“ayo berikan kartu namamu, atau KTP!”
“ini mas...”
            Aku tidak berdaya, aku sudah ingin menghindar tapi lelaki itu memarahiku. Aku mengganti semua kerugian yang dimintanya. Tiba-tiba dia datang ke rumahku dan membawakan hadiah. Lelaki itu padahal sangat jahat bagiku. Dia memberikan itu karena tau hari ini hari ulang tahunku. Aku juga mendapatkan paketan dari Puceh, dia memberikan sepatu vans berwarna merah muda. Lelaki ini sungguh aneh! Danu namanya, dia seorang atlite bulu tangkis. Wajahnya juga ganteng sebenarnya. Tapi, aku tidak menyukai sikapnya yang angkuh itu.
            Malam hari, dia datang menjemputku. Danu mengajakku ke kafe dan memberikan kejutan untukku. Mengapa Danu sangat baik kepadaku. Malam itu aku tidak tahu tiba-tiba aku tidak sadarkan diri. Saat aku bangun, ternyata aku ada di kamar yang tidak aku kenal. Aku tidak memakai pakaian apapun, hanya ditutupi dengan selimut. Aku terkejut melihat semua ini. Tidak lama kemudia Danu datang dan dia menceritakan semuanya. Aku sangat marah kepadanya. Mengapa dia tega perlakukan semua ini.
“kamu lelaki bejad!!!” ucapku.
“De, kamu sendiri yang mau”
“tidak mungkin!”
“aku tidak berbohong cantik”
            Aku sangat marah dan aku menamparnya. Aku segera berpakaian dan pulang. Saat tiba di rumah tubuhku terasa lemas sangat lemas. aku membeli tes kehamilan. Ternyata aku hamil, aku terkejut. Aku memang sering berpacaran dan berteman dengan laki-laki. Tapi... ini sungguh tidak adil. Dari pertama aku pacaran berpelukan dengan lelaki saja aku tidak pernah. Siapa Danu itu sebenarnya. Pantas saja dia sangat baik denganku, ternyata dia mengingimkan keperawananku. Aku tida bisa menerima ini.
“Danu!” teriakku di depan rumahnya.
“iya?” perempuan berumur tiga puluh lima tahun membuka pintu.
“dimana Danu?”
“dia tidak ada, kamu siapa?”
            Aku menceritakan apa yang sudah terjadi padaku, ternyata dia mama dari Danu. Aku lama duduk di sana dan menunggu pulangnya Danu namun tidak menghasilkan apapun. Mamanya tidak ingin Danu bertanggung jawab dengan semua hal ini. Dia juga tidak percaya dan melakukan semua hal ini. Aku memutuskan untuk pulang saja ke rumah. aku beristirahat semua isi rumah bernatakan karena tadi siang aku sangat marah dengan keadaan ini.
            Malam hari, aku menemui Danu lagi di rumahnya. Tidak sengaja aku mendengarkan perbincangan Danu dan mamanya. Saat aku dengar ternyata mamanya yang merencanakan semua ini. Akupun marah besar dengan kejadian ini. Aku memarahi mereka berdua dan ternyata ada lelaki tua keluar dari rumahnya. Dia lelaki yang tidak asing ku lihat. Dia ayahku, ternyata Danu adalah anak dari istri ayahku. Ayahku menikahi seorang janda beranak satu. Dendam apa yang sudah dipendam oleh mamanya Danu. Aku menceritakan semua itu kepada ayahku namun dia tidak percaya. Ayahku mengusirku.
Aku pulang dengan membawa mobil sangat kencang, aku sangat tidak terima dengan kejadian ini. Semakin kencang aku membawa mobilku. Ada bus melintas dihadapanku, aku tidak smepat meninjak rem. Aku memutar kemudi mobilku dan mebrak menabrak dinding jalan raya. Banyak orang yang menghampiri mobilku dan berusaha mengeluarkanku dari mobil. Aku tidak bisa melihat jelas, aku ada dimana dan apa yang terjadi padaku. Hingga akhirnya aku dibawa ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit aku langsung dibawa ke ruangan gawat darurat. Saat memasuki di ruang gawat darurat, aku merasakan sesak, hingga aku kehilangan oksigen, dan tidak sadarkan diri.
            Aku membuka mataku namun yang aku lihat hanya kegelapan. Aku mendengar suara Puceh ada disini. Ternyata Puceh langsung datang setelah Sela mengabarinya tentang kejadianku. Aku buta kakiku diamputasi sebelah kanan, aku berteriak! Aku tidak bisa menerima semua kejadia yang menimpaku ini. Aku mengamuk di kamar rumah sakit. Puceh mencoba menenangkanku dan memanggil dokter sehingga aku diberikan obat bius dan tidak sadarkan diri.