
Mobil
melaju kencang, menabrak dinding jalan raya. Banyak orang yang menghampiri
mobilku dan berusaha mengeluarkanku dari mobil. Aku tidak bisa melihat jelas,
aku ada dimana dan apa yang terjadi padaku. Hingga akhirnya aku dibawa ke rumah
sakit. Tiba di rumah sakit aku langsung dibawa ke ruangan gawat darurat. Saat
memasuki di ruang gawat darurat, aku merasakan sesak, hingga aku kehilangan
oksigen, dan tidak sadarkan diri.
Cerahnya
langit pagi ini, aku bersemangat untuk pergi ke kampus. Terlalu asik dengan
telepon pintarku, aku lupa hari ini jadwal mata kuliah yang dosennya tidak
pernah telat. Mataku mengarah ke sudut kamar, tepat pada jam dinding bergamar stich tokoh kartun kesukaanku. Aku
bergegas keluar dan menyalakan mobilku, Ah! Sungguh sial hari ini. Tiba-tiba
mobilku tidak bisa digunakan, ada apa dengan mesinnya? Padahal sudah ku bawa ke
bengkel kemarin sore. Zaman semakin canggih, sekarang sudah ada ojek online.
Tidak ingin mengeambil resiko, aku langsung menghubungi temanku, dia bekerja
sebagai ojek online. Tidak lama aku menunggu dia datang dan melaju kencang
menuju kampusku. Tidak bisa ku bayangkan, seandainya aku terlambat hari ini
pastilah dosenku itu mengajakku makan siang, sebagai hukuman keterlambatanku.
Matahari
tepat berada diatas kepalaku, panas sekali hari ini. Aku berusaha menghunbungi
kekasihku. Biasanya jam siang seperti ini dia istirahat. Namanya Sandi, dia
sudah bekerja, dan bisa dianggap mapan.
Dia bekerja di pemerintahan, sudah mempunyai beberapa rumah dan satu tempat
usaha sendiri. Sudah dua tahun lebih kami menjalin hubungan, yaaa tinggal
menunggu aku lulus kuliah saja, dan kami akan menikah. Mungkin satu atau dua
tahun lagi. Satu jam aku menunggu, kekasihku datang menjemputku. Perutku sudah
sangat lapar, aku tidak berlama-lama dan langsung mengajaknya ke rumah makan
terdekat. Seperti biasanya aku memesan makanan kesukaanku Nasi goreng telur
ceplok. Lima menit menunggu pesanan datang, tiba-tiba telepon sandi berbunyi,
dan yang anehnya mengapa harus menjauh dariku saat mengangkat telepon.
“Telepon
dari siapa tadi?” tanyaku.
“telepon
dari orang kantor” Jawabnya dengan ketus.
“kamu
kenapa? Tiba-tiba ketus begitu jawabnya, padahal aku hanya bertanya masalah
kecil saja” Sahutku dengan emosi.
“kamu
yang kenapa, masalah aku mengangkat telepon keluar saja kamu marah!” jawab
Sandi dengan nada yang tidak santai.
“kamu kenapa marah-mara?”
“terserah!
Hilang nafsu makan ku , aku pulang.”
Sandi meninggalkanku sendirian di
rumah makan, aku jadi bingung kenapa hari ini Sandi jadi pemarah. Nafsu makanku
jadi hilang, rasa lapar yang aku rasakan dari pulang kuliah sudah tidak ada
lagi. Yang ada hanya perasaan kesal, marah, dan bingung. Aku meminta pelayan
untuk membungkus makananku. Terpaksa aku menghubungi temanku lagi untuk
mengantarku pulang. Sungguh menyebalkan hari ini. Tadi pagi mobilku tidak bisa
dinyalakan, hampir terlambat kuliah, dan sekarang aku ditinggal Sandi
sendirian.
Temanku datang menjemputku, hari
masih siang, malas sekali aku pulang, dan aku memutuskan untuk pergi ke sebuah
toko baju langgananku. Tiba di seberang jalan menuju toko itu, aku melihat
mobil yang tidak asing. Tidak lama kemudian, seorang perempuan dengan baju
coklat muda dan rok di atas lutut keluar dari mobil itu. Ya! itu mobil Sandi,
lalu siapa perempuan itu. Aku tidak hanya tinggal diam, aku menghampiri Sandi
dan perempuan itu. Saat aku menghampiri perempuan itu sudah masuk ke dalam toko
dan Sandi hanya menunggu di depan mobil.
“siapa
dia?” tanyaku dengan kesal.
“dia
yang mana? Maksud kamu apa?” jawab Sandi dengan emosi.
“peremuan
tadi, perempuan baju coklat dengan rok diatas lutut” Jawabku.
“oh,
itu adik sepupuku”
“kenapa
aku tidak pernah melihatnya?” tanyaku lagi dengan penasaran.
“kamu
ini banyak tanya, pulang saja sana!” ucapnya dengan lantang.
Temanku
menarik tanganku dan memintaku duduk di atas kuda besinya. Memang, temanku yang
satu ini sangat tidak ingin jika aku sedih. Sebelum dia mengantarku pulang. Dia
menghadiahi Sandi dengan satu tamparan kewajahnya. Saat menuju jalan pulang,
aku meminta temanku untuk berhenti dipinggir jalan. Aku memintanya menurunkanku
dpinggir jalan, namun dia bersikeras untuk mengantarku pulang. Aku menangis
sepanjang jalan. Aku sungguh membenci hari ini. Aku tiba di depan rumah dan aku
langsung masuk ke dalam rumah. tangisku lepas disaat aku merebahkan tubuhku di
kasur. Melelahkan sekali hari ini, tidak hanya tubuhku yang merasa lemah, tapi
hatiku juga. Rasanya semua telah berubah, tidak seperti dua tahun yng lalu.
Karena aku sangat merasa lelah, aku tertidur lelap.
Waktu pengingat telepon pintarku
berbunyi, waktunya untuk senam sore ini. Aku bergegas ke kamar mandi untuk
mencuci mukaku. Aku segera bersiap dan tidak lupa membawa air mineral dengan
irisan lemon di dalam botolnya. Aku turun dari lantai kamarku, tapi aku
melupakan satu hal. Mobilku tidak bisa digunakan, aku segera menghubungi orang
bengkel langgananku. Aku mengeluarkan sepedaku dari garasi dan mengayung laju
ke tempat senamku. Ketika aku melaju kencang dengan kayuhan kakiku, tiba-tiba
ada seorang lelaki yang melaju dari sebrangku. Tidak sengaja dia menabrakku
dengan kuda besi putih besarnya. Aku terjatuh dari sepedaku.
“maa
maa maaf” ucap lelaki itu.
“iya,
tidak apa-apa” jawabku dengan kesakitan.
“lenganmu
berdarah” lelaki itu menyentuh lenganku.
“ah,
sakit sekali” jawabku dengan menahan air mataku.
Lelaki itu memaksaku, dia
mengantarku pulang sampai di depan rumah. sepadaku diantar temannya ke bengkel.
Sungguh baik hati lelaki ini, aku memintanya untuk duduk di ruang tamu. Aku
membuatkan minuman untuknya, setelah aku lihat-lihat lelaki ini sedikit tampan,
tubuhnya kekar, berkumis tipis, jika dia senyum sungguh sangat manis.
“hai,
kenapa kamu menatapku seperti itu?” ucap lelaki itu mengejutkanku.
“tidak,
tidak, tidak apa-apa” jawabku dengan gugup.
“kenalkan,
namaku Farhan” ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
“namaku
Adelia, panggil saja aku de” sahutku dengan tersenyum.
“kamu
sendirian saja di rumah de?” tanya lelaki itu.
“iya,
aku sendiri” aku menunduk.
“dimana
orang tuamu?” tanya lelaki itu lagi dengan wajah penasaran.
“Orang
tuaku sudah lama berpisah, sejak aku SMP, dan mereka memilih menikah lagi
dengan pilihan mereka masing-masing” jawabku.
Lelaki itu menatapku dengan serius,
tiba-tiba dia mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. Ternyata dia seorang
polisi yang bertugas di kantor polisi daerah. Dia memberikan kartu nama itu
agar aku bisa menghubunginya, dia takut jika terjadi sesuatu padaku. Untuk apa
dia memberikan kartu nama itu, padahal kami sudah berteman di media sosial.
Lelaki seorang polisi yang bernama Farhan itu pulang. Ada untungnya juga aku
jatuh, dapat kenalan baru. Aku menutup pintu rumahku, tiba-tiba Sandi di depan
pagar dan masuk ke dalam rumah.
“kenapa
itu tangan kamu?” tanya Sandi.
“tadi
aku jatuh” jawabku.
“oh,
aku pinjam kamar mandimu ya?” ucap Sandi menuju kamar mandi dengan membwa tas
ransel.
“kamu
mau kemana?” tanyaku.
Sandi tidak menjawab pertanyaanku,
menolehpun tidak. Perlakuan Sandi sekarang membuatku menjadi ragu. setelah
Sandi mengganti bajunya, dia bergegas bersiap. Rapi dan sangat wangi. Tidak
banyak bicara, Sandi langsung memakai sepatu dan pergi. Tanpa minta izin Sandi
pergi dari rumahku, bahkan dia juga tidak mengatakan mau kemana dan bersama
siapa. Tubuhku sangat merasa lelah. Aku tertidur setelah aku melaksanakan salat
isya. Seketika aku tertidur, telepon pintarku berbunyi. Ada telepon di Line dari Farhan, dia mengajakku vidio call. Mataku masih mengantuk,
Farhan menghubungi hanya ingin meminta izin. Setelah aku melihat jam ternyata baru
pukul sembilan malam. Farhan meminta izin, malam ini dia akan patroli
dibeberapa hotel. Aku jadi bingung, dia kan baru mengenal aku. Pergi patroli
saja harus meminta izin dan mengabariku. Aneh juga tuh anak. Aku menghargai
sikap Farhan, pastinya aku memberikan izin dan mendoakannya dalam tugasnya
malam ini. Aku baru sadar sampai ini Sandi tidak mengabariku. Aku berusaha
menghubungi Sandi, namun tidak tersambung.
Malam semakin larut, aku jadi tidak
bisa tertidur lagi. Padahal tubuhku sangat terasa lelah. Tiba-tiba Farhan meneleponku
lagi. Saat kami vidio call Farhan
menceritakan kejadian malam ini. Tidak sengaja aku melihat perempuan duduk
dipojokan dengan menunduk. Sepertinya aku mengenal wajah perempuan itu. Saat aku ingin menanyakan tentang wanita itu,
tiba-tiba Farhan dipanggil atasannya, dan Farhan menutup teleponnya. Aku jadi
terpikir tentang perempuan tadi. Aku
mencoba memajamkan mataku, dan larut dalam tidurku.
Embun membasahi kaca jendela
kamarku, pagi ini sungguh dingin. Aku merasa tubuhku kurang sehat. Aku segera
menghubungi Sandi untuk menemaniku ke dokter. Lebih sepuluh kali aku mencoba
menelepon Sandi, namun tidak ada jawaban. Ini baru pukul enam pagi. Sandi tidak mungkin sudah berangkat ke kantor.
Sandi sangat berubah akhir-akhir ini. Tiba-tiba Farhan menghubungiku.
“De,
dimana?” tanya Farhan.
“aku
di rumah, kenapa?” jawabku.
“lihat
muka kamu De” ucap Farhan memindah mode vidio
call.
“iya,
apa?” ucapku dengan lemas.
“jelek
banget kamu De, tapi waja kamu pucat?” tanya Farhan dengan memperbesar wajahku
dilayar telepon pintarnya.
“aku
lagi tidak enak badan” jawabku.
Farhan mematikan telepon dengan
tiba-tiba. Kepala ku sangat terasa pusing. Keringat dingin keluar dari tubuhku.
Aku menggigil, saat aku berdiri dan mengambil air di atas meja belajaku.
Telepon pintarlu berbunyi, pengingat bahwa ada pesan. Saat aku membuka pesan
itu ternyata dari Farhan, dia sudah berada di depan rumah. Tidak ingin ditunggu
Farhan lebih lama, aku segera mencuci wajahku dan menggosok gigi. Tiba aku
didepan pintu, Farhan menarikku dan memintaku duduk di kuda besi putih
besarnya. Aku tidak tahu akan dibawa Farhan kemana, aku hanya duduk diam
dibelakang. Farhan berhenti di depan parkiran rumah sakit.
“siapa
yang sakit?” tanyaku.
“kamu
jangan keras kepala De!” jawabnya marah-marah.
Tiba di ruangan dokter, aku
diperiksa. Aku hanya kelelahan dan sedang banyak pikiran, maka dari itu aku
terlihat sakit hari ini. Dokter memberikan beberapa resep obat. Farhan segera
ke apotek rumah sakit. Aku menunggu di bangku, tiba-tiba aku melihat Sandi berdiri
di depan kamar pasien. Aku menemui Sandi, dan mengajak Sandi berbicara. Tapi
Sandi tidak sedikitpun menghiraukanku. Saat aku menarik tangan Sandi, Farhan
datang menemui aku. Entah kenapa, Farhan langsung menegur Sandi. Apa mungkin
Farhan dan Sandi saling mengenal. Farhan langsung mengajak pulang, tanpa
menanyakan sesuatu tentang Sandi kepadaku. Tiba-tiba aku menjadi penasaran
kenapa Farhan mengenal Sandi.
“Han,
kamu kenal Sandi?” tanyaku.
“iya
De, kenapa?” jawabnya.
“tidak,
memangnya kalian saling mengenal dari mana?” tanyaku lagi sambil menatap wajah
Farhan di kaca pemantau yang sedang fokus mengendarai kuda besinya.
“kemarin
De aku patroli, nah Sandi juga terjaring razia bersama perempuan, dan ternyata
Sandi itu sepupunya teman aku” jawab Farhan dengan santai.
“apa?!
Sandi bersama perempuan di hotel, itu tidak mungkin” ucapku dengan terkejut dan
tiba-tiba Farhan berhenti.
“kamu
ini De, buat aku terkejut saja” jawab farhan sambil memegang tanganku dan
melanjutkan perjalanan.
“Sandi
itu pacar aku” ucapku sambil menangis.
“kamu
serius De?” tanya Farhan.
Tibalah kami di depan rumahku,
Farhan langsung mengantarku sampai ke kamar, dan menyiapkan makananku. Setelah
minum obat, mataku terasa berat. Farhan tidak pulang juga padahal aku sangat
ingin tidur. Tiba-tiba Farhan menelepon seseorang dan sepertinya di telepon itu
seorang perempuan. Farhanpun berpamitan pulang setelah dia menelepon seseorang
tadi. Farhan mengusap kepalaku dan mengatakan selamat beristirahat. Lama-lama
aku bisa terbawa perasaan dengan sikap Farhan seperti ini.
Aku tertidur cukup lama dan
terbangun. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, ternyata aku sudah
tertidur selama empat jam. Aku masih asik dengan telepon pintarku. Tiba-tiba
terdengar lagu BMTH– Sleep Walking,
ternyata ada telepon dari Farhan. Dia mengajakku keluar untuk makan. Karena
perutku juga terasa lapar, tidak mungkin jika aku menolaknya. Tidak lama dia
meneleponku, terdengar suara kuda besinya dari jendela kamarku. Aku langsung
turun dan menemui Farhan. Dia juga tidak ingin berlama-lama ada di depan
rumahku dan langsung menyalakan mesin kuda besinya. Tidak jauh dari rumahku,
kami berhenti disebuah tempat makan kesukaanku. Lagi sakit seperti ini, sungguh
enak makan sop ibu Aminah. Aku sangat lahap menghabiskan makananku. Tiba-tiba
Farhan menatapku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
“De,
kamu cantik ya kalau lagi sakit” ucap Farhan dengan mengedipkan sebelah
matanya,
“jangan
dipuji seperti itu, pasti kamu minta aku yang bayar makanan ya?” jawabku dengan
tersenyum.
“kamu
memang cantik De, tapi sayang” tiba-tiba Farhan memberi jeda di alasannya.
“sayang
kenapa?” tanyaku dengan mengangkat satu alis.
“tidak
apa-apa saya” Farhan tertawa dan sedikit membuatku merasa malu.
“kamu
ini bisa aja, aku tau pasti kamu mau dipanggil sayang” jawabku dan kami tertawa
bersama.
Aku merasa ingin buang air kecil.
Saat aku menuju kamar mandi di rumah makan, tidak sengaja seorang perempuan
menabrakku hingga aku terjatuh. Perempuan ini sangat cantik dia juga memakai
kerudung sama sepertiku. Senyum manis dan tahi lalat di dagunya membuat dia
lebih terlihat manis. Dia meminta maaf denganku dan membatnuku berdiri.
Perempuan yang baik hati, sungguh lelaki yang memilikinya sangat beruntung.
Tiba aku di kamar mandi dan ingin mencuci tangan. Perempuan yang tidak asing
dimataku, sepertinya aku pernah melihatnya tapi lupa dimana. Dia bersamaan
denganku saat ingin keluar dari kamar mandi. Aku dikejutkan dengan pemandangan
yang sangat menyedihkan. Sandi mengandeng tangan perempuan yang bersamaan denganku
di kamar mandi tadi. Aku tidak hanya tinggal diam, tidak berpikir panjang aku
menarik tangan Sandi. Saat itu orang-orang sangat ramai disana. Aku memarahi
Sandi, tapi Sandi hanya diam. Perempuan itu tidak hanya diam, dia memarahiku,
dan mengatakan bahwa aku telah menghancurkan hubungan mereka. Perempuan itu
memarahiku dihadapan banyak orang. Aku menangis disaat perempuan itu mencaciku
dan mengatakan bahwa dia sudah tunangan dengan Sandi. Hal yang mebuatku sangat
terasa sakit, Sandi dengan perempuan itu sudah menjalin hubungan selama lima
tahun. Aku menunduk diam, betapa bodohnya diriku. Selama dua tahun lebih aku
menjalin hubungan dengan Sandi, ternyata dia milik orang lain. Jadi selama ini
aku hanya menjadi orang ketiga. Farhan
merasa telah menunggu lama dan dia menghampiriku di dekat kamar mandi. Farhan
sangat terkejut melihat aku menangis.
“kamu
kenapa menangis De, apa ada yang sakit ditubuhmu” tanya Farhan dengan wajah
cemas.
“kita
pulang” jawabku sambil menarik tangan Farhan.
Aku hanya menangis, menangis, dan
menangis. Betapa terpukulnya hatiku saat ini. Sandi yang selama ini ku anggap
menyayangiku dengan tulus, bahkan kami sudah ingin berpikir menikah. Apakah
lelaki semua sama, seperti ayahku meninggalkan ibuku hanya karena wanita yang
lebih cantik. Disini posisiku yang salah, kenapa selama dua tahun lebih
menjalin hubungan tidak mengetahui bahwa Sandi sudah milik orang lain. Farhan
berusaha menenangkanku dan dia berhenti di depan rumahku. Aku langsung turun
dari kuda besinya. Sepertinya Farhan ciri lelaki yang tidak suka ikut campur
dengan masalah orang lain. Farhan berpamitan pulang dan aku langsun masuk ke
dalam rumah. tanpa mencuci muka, kaki, dan menggosok gigi. Aku merebahkan
tubuhku, perasaan ku sagat hancur malam ini. Aku tertidur dalam tangisku.
Tengah malam tiba-tiba dadaku terasa sesak, tubuhku gemetar dan berkeringat
dingin. Aku menelepon Sandi, karena panik aku lupa bahwa Sandi sudah
mengecewakan aku. Aku juga lupa dengan kejadian tadi. Sandi datang dan
mengantarkanku ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, aku langsung di
berikan penanganan. Karena kondisiku yang tidak memungkinkan aku diberikan bius oleh dokter. Aku tidak tahu
apa yang terjadi padaku.
Pagi hari, aku terbangun. Saat aku
membuka mataku, dua pasangan yang sudah menunggu sadarku. Ternyata sandi
bersama kekasihnya dan Farhan juga ada disana bersama perempuan. Perempuan yang
sedang bersama Farhan sepertinya aku mengenalnya. Aku seperti pernah melihat
perempuan itu. Tapi dimana, aku lupa. Aku membuka mata perlahan samapi terlihat
jelas apa yang ada dihadapanku. Farhan mengenalkanku dengan perempuan yang
sedang bersamanya. Ternyata perempuan itu adalah kekasih Farhan. Tiba-tiba
dadaku terasa sesak saat mengetahui hal itu. Ternyata Farhan sudah memiliki kekasih.
Aku mencoba tersenyum dihadapan mereka.
“bagaimana
keadaanmu De?”tanya Farhan.
“sudah
baik, sepertinya aku bisa pulang hari ini” jawabku.
“lebih
baik kamu dirawat disini dulu, kamu hanya sendirian dirumah” ucap Sandi
memotong pembicaraan Farhan.
“sepertinya
aku merasa lebih baik jika aku dirumah saja” jawabku.
“kalau
kamu ingin dirumah, aku bisa menamani kamu sampai kamu sembuh De” ucap
kekasihnya Farhan.
“iya
De, aku juga bisa tinggal bersama kamu
selagi kamu sakit” kekasihnya Sandi meencoba membujukku.
“tidaklah,
aku tidak ingin membuat susah siapapun” jawabku dengan santai.
Aku memanggil perawat, sepertinya
aku ingin sekali cepat pulang kerumah. Dadaku sangat terasa sesak, aku tidak
bisa menerima kejadian ini. Sandi kekasihku sudah mempunyai kekasih dan Farhan
harapanku ternyata juga sudah mempunyai kekasih. Setelah perawat datang dan
memeriksaku aku tidak diizinkan pulang kerumah. Tubuhku terasala lemah,
keringat dingin keluar dari tubuhku dan aku tidak sadarkan diri.
Aku membuka mata, ternyata hari
sudah malam. Rumah sakit sangat sepi dan aku semakin gelisah. Aku ingin pulang
saja ke rumah, karena disini sangat sepi. Padahal di rumah juga sepi, tapi
setidaknya aku bisa lebih nyaman. Aku berusaha melepas infus dan selang oksigen. Aku ingin pulang, jika aku meminta izin
dengan dokter yang menanganiku tidak mungkin diberikan izin. Aku berusaha kabur
dari rumah sakit. Biaya rumah sakit sudah aku bayar tadi pagi. Aku bisa keluar
dari rumah sakit, tanpa dicurigai oleh pihak rumah sakit. Untungnya aku keluar
tidak memakai baju pasien, tetapi baju aku juga. Ini sudah pukul satu malam,
sulit sekali untuk mencari angkutan umum. Aku berusaha segera menghubungi
temanku Farid tukang ojek online yang biasanya.
“hallo,
kenapa De meneleponku?” tanya Farid saat menjawab teleponku.
“bisa
jemput aku tidak, di depan rumah makan Pak Joyo dekat rumah sakit Mulia? Ucapku
tanpa basa-basi.
“iya,
tunggu lima menit aku akan sampai disana” jawab Farid dan langsung menutup
teleponku.
Saat aku berdiri, terlihat dua mobil
polisi melintas, dan diiringi beberapa polisi lainnya dengan menggunakan motor.
Tidak sengaja aku melihat Farhan, mungkin mereka sedang patroli. Farhan tidak
melihat aku, tetapi salah satu teman Farhan melihatku. Dia menghampiriku dan
memintaku untuk memperlihatkan kartu identitasku. Saat teman Farhan
menghampiriku, Farhanpun melihatku, dan juga menghampiriku. Farhan sangat
terkejut, bahkan dia marah. Tidak lama kemudia Farid sudah tiba. Aku pulang
bersama Farid tanpa menghiraukan Farhan. Aku sudah kecewa dengan Farhan, aku
mengira Farhan baik denganku karena dia mempunyai perasaan yang lebi kepadaku.
Kejadian yang sebenarnya Farhan tidak mempunyai perasaan yang lebih kepadaku,
bahkan dia sudah memiliki kekasih. Tiba di rumah, tubuhku terasa lemah. Aku
segera masuk ke dalam rumah. farid juga tidak berlama-lama, karena hari sudah
terlalu malam. Aku sangat takut jika setiap hari sendirian di rumah. lebih baik
aku tidur dulu.
“De,
bangun dong ayo!”
“iya,
ini aku bangun” jawabku sambil membuka mataku secara perlahan, ternyata Putra
yang biasa aku panggil Puceh, dan dia adalah sepupu aku dari luar kota.
“eh,
bagaimana kamu bisa masuk” tanyaku dengan mata melotot.
“makanya
kamu seharusnya punya pembantu, jadi tidak akan ada yang lupa mengunci rumah”
jawab Puceh.
“apa?!”
aku terkejut.
“sudah,
untung aku yang masuk bukan maling” ucap Puceh dan tidak lupa jika bertemu
denganku dia mencubit pipiku.
“ah
sakit! Spontan aku menjawab sikapnya.
“aku
tinggal disini boleh?” tanya Puceh sambil memandangi wajahku.
“untuk
apa? Agar kamu bisa membawa perempuan sepuasnya kerumahku” jawabku.
“tidaklah,
aku sudah insaf De” ucap Puceh meyakinkanku.
“bagus,
coba dari dulu begini pastinya kamu dapatkan perempuan yang baik-baik” jawabku
dengan wajah tersenyum.
Puceh membaringkan tubuhnya di kursi
empukku. Puceh sepupu yang paling dekat denganku, dari kecil kami selalu
bersama. Ayah Puceh adalah kakak ibuku. Sekarang Puceh sudah sukses, dia
menjadi seorang polisi dan bertugas di Jakarta. Saat ini Puceh mengambil
cuti dan akan tinggal bersamaku selama
seminggu. Puceh lelaki yang selalu membuatku marah, karena dia selalu
menggangguku. Aku lupa hari ini adalah hari senin, aku kuliah. Aku bergegas ke
kamar mandi dan bersiap berangkat kuliah. Saat aku ingin mengikat tali
sepatuku, tiba-tiba Puceh datang menyuapi nasi goreng. Ternyata Puceh sudah
membuatkan nasi goreng untukku.
“nyam”
sesuap nasi masuk kemulutku.
“De,
aku antar ya?” ucap Puceh sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutku.
“tidak
usah, nanti kamu genit dengan teman-temanku” jawabku dengan mengejeknya.
“kamu
ini De, ayolah aku bosan juga kalau di rumah apalagi sendirian” puceh
membujukku dengan mengelus-elus kepalaku.
“iya,
tapi ingat jangan macam-macam!” ancamku.
“tidak
mungkin, aku sudah insaf gendut” jawab Puceh dengan mengejekku.
“ah!
Aku naik ojek saja kalau begitu” ucapku.
Puceh menarik tanganku dan memintaku
menaiki kuda besinya. Lumayan bisa hemat, jika aku berangkat diantar Puceh. Di
depan pagar rumahku ada seseorang yang berdiri. Puceh membuka pagar dan menemui
orang itu. Aku terkejut ternyata dia Farhan, tapi kenapa Puceh lama menemui
Farhan. Aku menyusul Puceh, saat aku lihat Puceh sedang asik berbincang dengan
Farhan. Aku menarik tangan Puceh dan memintanya agar cepat mengantarkan aku,
karena aku sudah sangat terlambat. Puceh berpamitan dengan Farhan, namun tidak
denganku menatap Farhan serius saja aku tidak ingim. Saat di perjalanan Puceh
menanyakan suatu hal yang membuatku terkejut.
“De,
sudah berapa lama kamu mengenal dia?” tanya Puceh.
“dia
siapa yang kamu maksud?” jawabku.
“Farhan,
tadi dia banyak cerita tentang kamu” ucap Puceh.
“oh,
tidak penting” jawabku dengan ketus.
“kenapa?”
pertanyaan Puceh membuatku jengkel.
“bisa
bawa motot tidak, aku sudah terlambat!” jawabku.
Pucehpun melaju dengan kuda besinya.
Aku semakin jengkel saat Puceh menanyakan hal tentang Farhan. Aku sudah merasa
kecewa dengan Farhan. Ternyata Puceh dan Farhan saling mengenal. Aku tidak
mengetahui apa yang telah diceritakan Farhan tadi, sehingga Puceh menanyakan
hubunganku. Kami sudah tiba di depan kampusku, tidak berlama-lama aku segera
masuk ke kelasku. Ternyata aku sudah terlambat, untuknya dosen pagi ini lelaki
yang paling baik. Aku masih diberi kesempatan untuk ikut pelajaran hari ini.
“De,
kamu sering tidak masuk kenapa?” ucap Mahda teman akrabku.
“kemarin
aku sakit, tapi hanya sehari di rawat di rumah sakit” jawabku.
“kenapa
kamu tidak berikan kabar ke kami?” tanya Mahda.
“aku
hanya tidak ingin kalian khawatir dengan keadaanku dan akan merepotkan kalian”
jawabku menunduk.
“kami
akan selalu ada untuk kamu De” ucap Mahda dengan memegang tanganku.
Perkuliahan telah selesai, semuanya
sudah pulang. Aku tertinggal sendirian di kelas, aku seperti bingung dengan
hari ini. Rasanya aku tidak fokus dengan kegiatan hari ini. Aku tidak tahu pulang
dengan siapa? Tidak mungkin aku minta jemput Puceh lagi. Kalau bisa aku tidak
bertemu dengan Puceh beberapa hari ini. Pasti
diakan bertanya lagi ada apa dengan aku dan Farhan. Saat aku ke depan kampus
ternyata Puceh sudah tiba di depan. Aku berbalik, namun ternyata Puceh sudah
melihatku.
“hey,
ayo pulang De!” teriak Puceh.
“eh,
hehe iya iya” jawabku.
“kamu
marah denganku?” tanya Puceh.
“tidak,
memangnya kenapa?” ucapku.
“tadi
aku telepon, kamu tidak menjawab” jawabnya.
Kami melanjutkan perjalanan pulang,
tiba-tiba Puceh berhenti di depan toko baju. Puceh mengajakku masuk, ternyata
dia memperkenalkan aku dengan teman dekatnya. Perempuan itu sangat canti Sela
namanya. Sepertinya perempuan itu juga baik dan sopan. Aku setuju dengan pilih
Puceh kali ini. Semoga saja Puceh bisa menjaga perempuan ini. Aku tidak bisa
berbicara banyak dengannya, karena dia saat ini sibuk dengan pekerjaannya. Aku
memutuskan untuk mengajaknya nonton film di bioskop dan Sela menyetujuinya. Aku
dan Puceh berpamitan pulang dengan Sela.
“bagus
juga pilihan kamu” sindirku.
“pastinya,
kamu meremehkan aku selama ini ya De?” tanya Puceh.
“dahulu
kamu selalu memilih perempuan yang suka memakai baju ketat dan rok di atas
lutut, ya seperti perempuan yang suka dengan dunia malam” jawabku.
“kamu
ini De, selalu mengejekku” Puceh kesal dan mencubitku di tangan.
“maafkan
aku abang ganteng”
“kamu
mau makan apa De?” tanya Puceh.
“hehe,
kamu mengerti saja apa yang aku mau” jawabku dengan tersenyum.
“kita
makan di tempat biasanya saja ya?” tanya Puceh.
“hemmm,
iya genteng”
“pasti
kamu minta teraktir, dari tadi panggil-panggil aku ganteng” sindirnya.
Kami tiba ditempat makan langganan
kami, aku menunggu Puceh yang sedang memesan makanan. Ketika aku berbalik
tenyata pemandangan yang sangat indah, pemandangan ini bukan sebuah lukisan
yang ada pelanginya ataupun sebuah pegunungan. Aku melihat lelaki yang tinggi
berkumis tipis, ini tipe aku. Senyumnya sangat manis, aku temenung
memandanginya. Dia melemparku dengan tisu yang telah digulungnya dengan kecil.
Sepertinya dia sadar bahwa dari tadi aku selalu memandanginya.
“De,
segitunya kamu memandangi dia”
“habisnya
dia tampan, hehe”
Kamipun makan, seperti biasanya jika
aku makan disini aku pasti lahap menghabiskan makanannya. Makanan disini
sungguh enak, enak, dan enak. Sepertinya perutku sudah tidak bermasalah lagi,
rasanya aku sudah merasa kenyang. Memang baik sepepuku ini. Kami bersantai
setelah habis menyantap makanan. Seperti biasanya, jika aku kenyang aku akan
merasa ingin tidur.
“hay,
pulang yo aku lelah” bujukku kepada Puceh.
“iya,
cerewet!”
Kami segera pulang. Saat aku membuka
pintu rumah makan itu, mungkin ini rezeki bagiku atau musibah. Aku tidak
sengaja menjatuhkan minumanku ke baju lelaki ganteng itu. Pastinya dia sangat
marah dan memintaku membersihkan bekas minuman yang ada dibajunya. Puceh tidak
membelaku, dia hanya menertawakanku dan menunggu di atas kuda besinya. Sungguh
ini kejadian yang mebuatku bingung. Aku menaiki kuda besi Puceh, sungguh
menyebalkan lelaki itu. Aku dan Puceh menuju jalan pulang.
Tibalah kami di rumah. aku segera
merebahkan tubuhku di kursi empuk dan Puceh juga mengikutiku. Tiba-tiba Puceh
menanyakan tentang hubunganku bersama Sandi. Puceh tidak tahu apa yang aku
alami beberapa hari ini.
“aku
selalu mencintai Sandi dengan tulus,. Tapi, semua ketulusan cintaku hanya
terbuang sia-sia.””
“De,
sudah jangan sedih” kata Puceh sambil mencari tisu di tasku.
“aku
tidak bisa, sebenarnya aku tidak bisa menerima kejadi ini.”
“apa
aku boleh tau, bagaimana bisa kejadian ini menimpa kamu?”
Sandi
adalah lelaki yang bukan hanya sebagai kekasihku, tetapi dia bisa menjadi
siapapun. Sebenarnya Sandi sudah menjalin hubungan dengan wanita lain, jauh
sebelum dia berpacaran denganku. Sandi juga tidak menjelaskan apapun. Dia tidak
memberitahukan kepada kekasihnya, bahwa dia menjalin hubungan juga denganku.
Aku juga tidak menyangka, selama dua tahun lebih aku tidak tahu apakah Sandi
sudah mempunyai kekasih. Sampai sekarang aku masih belum menerima kejadian ini.
“maaf
De, gara-gara pertanyaanku kamu jadi sedih” ucap Puceh.
“tidak
apa-apa, setidaknya aku lebih lega jika bercerita denganmu” jawabku.
“De,
satu pertanyaan lagi boleh?” tanya Puceh dengan serius.
“iya,
ada apa?”
“Farhan
itu siapa kamu dan kenal dari mana kamu?” tanya Puceh.
Farhan lelaki yang tidak sengaja aku
temui, selama beberapa hari selalu bersamaku. Sebenarnya aku sudah merasa
nyaman dengan Farhan, sikapnya yang selalu memperlakukanku seperti perempuan
yang istimewa baginya. Farhan juga selalu menjagaku, dia tidak memberikan celah
sedikitpun jika aku akan tersakiti.
“tapi,
Farhan sudah mempunyai kekasih De” ucapnya memotong penjelasanku.
“iya,
disanalah aku sangat merasa kecewa.”
“hemm.”
“aku
mengira Farhan hanya baik denganku, tetapi tidak.”
“sebenarnya
Farhan juga sempat cerita kepadaku De, dia juga menyayangimu” ucap Puceh.
“yang
benar?” tanyaku.
“iya
cerewet” jawabnya.
Ternyata Farhan juga menyayangiku.
Tapi, dia sudah bertunangan dengan kekasihnya. Tidak mungkin dia meninggalkan
tunangannya. Mereka juga sudah lama menjalin hubungan. Jika aku masih merespon
sikapnya, aku akan menjadi penghalang bahkan menjadi orang ketiga dalam
hubungannya. Mungkin ini sudah menjadi nasibku, Farhan datang disaat yang
tepat. Ketika Sandi berusaha meninggalkanku, Farhan ada untukku.
“sudahlah
De, jangan sedih lagi” kata Puceh dengan mengelus kepalaku.
“iya,
kenapa aku jadi terbawa perasaan” jawabku dengan tersenyum.
Langit sudah mulai gelap, ini sudah
jam tujuh malam. Aku dan puceh bersiap untuk pergi bersama Sela. Untung saja
mobilku sudah bisa digunakan. Malam ini berbeda seperti dahulunya, dimana jika
aku berjalan bersama puceh pastinya bersama kekasih masing-masing. Malam ini
aku seperti obat nyamuk untuk mereka. Puceh keren sekali malam ini, mungkin dia
tidak ingin dilihat jelek oleh Sela. Kami menjemput Sela dirumahnya. Tapi,
Selam keluar rumah tidak sendirian. Seorang lelaki yang tinggi, berkumis tipis,
dan terlihat sangat ganteng. Ya! Ini lelaki yang membuat mataku hanyut dalam
tatapannya. Lelaki yang aku lihat ditempat makan itu. Ternyata dia kakak
kandungnya Sela. Aduh! Aku terjebak situasi, dia berkenalan denganku dan Puceh.
Aku jadi sangat malu, namanya Faisal. Faisal ternyata pemain sepak bola
nasional, kenapa aku tidak pernah melihatnya ya? Ha, ha, ha apa-apaan sih.
Perasaanku bercampur antara malu dan bingung. Bingung apa yang harus aku
lakukan. Dia duduk disampingku dan selalu asik dengan telepon pintarnya. Aku
tidak tau, kenapa aku tidak berpikir panjang tiba-tiba mengajaknya berbicara.
“hey!”
“apa?”
“minta
alamat email kamu, boleh?”
“untuk
apa?”
“tidak
jadi!” jawabku dengan kesal
Kami semua tiba di sebuah mall terbesar di kotaku. Seperti menjadi
pengawal Puceh saja. Dari tadi hanya mengikutinya. Seperti biasanya, kalau
jalan dengan Puceh pasti bertemu dengan temannya. Hal yang membuatku tambah
jengkel, salah satu temannya adalah mantanku. Mantan teman bukan mantan pacar.
Namanya Gian, lelaki yang cukup ganteng. Tapi, suka ganti-ganti pacar. Dia
menatapku dengan aneh, padahal pakaianku sudah normal. Aku memakai baju putih
selutut, celana hitam yang tidak ketat, berkerudung hitam, dan sepatu all star
hitam. Tidak ada yang harus dipermasalahkan dengan pakaianku. Tiba-tiba Faisal
merangkulku, akupun terkejut. Gian menatap Faisal seperti ingin marah. Aneh,
Faisal yang tadi sangat cuek tiba-tiba seperti ini. Cukup lama kami menunggu,
Puceh memesan tiket nonton jam sepuluh malam. ini baru jam delapan, aku pergi
ke musola terdekat untuk salat isya.
“De,
kemana?” tanya Puceh.
“salat
dulu, masih lama juga kan nontonnya?” ucapku.
“iya”
jawab Puceh.
“aku
juga salat, tunggu!” kata Faisal menghampiriku.
Puceh
menemani Sela disana, Puceh tidak seagama denganku. Aku menuju musala bersama
Faisal. Tidak aku sangka lelaki seperti Faisal juga rajin salat. Suami idaman
lelaki ini. Saat kami turun dari tangga berjalan, ada lima lelaki yang
memanggil Faisal. Mereka teman Faisal kuliah. Mereka juga menyinggung
kehadiranku. Namun, Faisal tidak menghiraukan perkataan mereka. Aku bersama
Faisal salat. Selesai salat kami kembali. Tapi, perutku tiba-tiba lapar. Jika
aku menemui Puceh dulu sepertinya tidak mungkin, aku tidak bisa menahan
kejadian ini. Laparku tidak bisa ditunda untuk makan. Aku menelepon Puceh dan
mengabari bahwa aku makan dahulu bersama Faisal. Asik makan, tiba-tiba Faisal
mengajakku bicara.
“De,
Puceh itu siapa kamu?” tanya Faisal dengan ketus.
“sepupuku,
kamu baru kenal Puceh ya?” ucapku.
“iya,
baru kali ini juga Sela berani jalan dengan cowok dan mengajakku” kata Faisal.
“kamu
tidak sekalian ajak kekasih?” tanyaku.
“De,
kamu mengejekku?” kata Faisal dengan mata melotot.
“maksudnya?”
“aku
tidak punya pacar, dasar bego!” jawab Faisal.
“haha,
tidak mungkin!”
“mau
kutusuk pisau ya?”
“ih,
psikopat ya?”
“haha,
tidak hanya bercada bego!”
Kami tertawa bersama, ternyata
Faisal tidak jutek. Sikapnya juga membuatku nyaman. Ah! Jangan mudah jatuh
cinta De. Aku selalu merasa nyaman dengan seseorang jika dia bisa menyesuaikan
sikapnya kepadaku. Tidak lama kami makan dan kembali menemui Puceh dan Sela.
Mereka tida ada ditempat pertama tadi, sepertinya mereka makan. Aku dan Faisal
menunggu. Sudah jam sepuluh kami masuk ke studio pertunjukkan. Aku duduk
diantara Faisal dan Puceh. Seperti biasanya Puceh selalu menggangguku, dia tahu
aku penakut.
Dua jam telah berlalu, kami pulang.
Sebelum pulang seperti biasanya, jika aku ke sini harus membeli green tea
dahulu. Aku dan Puceh sangat menyukai apapun yang berasa green tea. Saat kami
membeli minuman, aku tidak menyangka akan bertemu sepasang kekasih yang beitu
romantis. Pasangan yang ku maksud itu adalah Sandi bersama kekasihnya. Sandi
mencoba menghindar saat melihat aku bersama Puceh. Tapi, Puceh sudah melihat
Sandi. Puceh segera menemui Sandi. Tapi, tidak aku sangka Puceh menemui Sandi
hanya untuk menghadiahi Sandi satu tamparan. Aku tidak ingin ada keributan
disini, aku menarik Puceh dan pulang. Aku sangat marah dengan Puceh, kenapa dia
harus menampar Sandi dihadapan orang banyak. Sepanjang perjalanan aku tidak
menghiraukan Puceh. Aku hanya diam dan bersandar di kursi mobilku. Tiba di
rumah Sela kami langsung berpamitan pulang. Aku tidak berpindah tempat duduk ke
depan. Kami sudah sampai di rumah aku langsung ke kamar dan mengunci pintu
kamarku. Puceh memintaku untuk membuka pintu, tidak aku hiraukan.
Sejuknya pagi ini, membuatku
semangat untuk pergi ke kampus. Puceh sudah membuatkan nasi goreng kesukaanku.
Namun, aku masih marah dengannya dan aku meninggalkannya. Mungkin Puce
mempunyai alasan, kenapa dia menampar Sandi. Aku berangkat ke kampus dan
melupakan telepon pintarku di atas lemari sepatuku. Hari ini aku kuliah juga
hanya sebentar tidak apa-apa jika aku tidak membawa teleponku. Aku tiba di
parkiran kampus dan melihat Mahda temanku berdiri di depan gerbang. Kampus
sangat ramai hari ini, ternyata ada banyak polisi yang datang.
“kenapa
ramai?”
“iya,
kamu tau Adi?”
“tau,
kenapa memangnya?”
“dia
lompat dari atas gedung kampus”
“memang
gila itu anak”
Aku dan Mahda segera menghampiri
keramaian. Ternyata memang benar Adi bunuh diri. Adi adalah teman satu kelasku,
dia dikenal sebagai lelaki yang aktif dengan kegiatan organisasi di kampus.
Mungkin dia sedang banyak beban. Mataku tidak sengaja mengarah ke sudut
gerbang, aku melihat Farhan. Aku berusaha bersembunyi agar tidak terlihat
olehnya. Tapi, hal yang tidak aku duga, Ama berteriak memanggilku. Ya! Farhan
melihatku. Mau bagaimana lagi menghindar, tidak akan bisa. Farhan menarik
tanganku dihadapan temannya.
“De,
tunggu dulu”
“apa
lagi Farhan?”
“kenapa
kamu selalu menghindariku”
“aku
sibuk!”
“jangan
pergi dulu”
“apa
lagi?”
“setidaknya
kamu dengar penjelasanku”
“tidak!”
Aku tidak sengaja menampar Farhan di
depan temannya. Aku pergi meninggalkan Farhan dan menuju kelasku. Perkuliahan
hari ini diliburkan, karena kasus Adi. Aku tidak berlama-lama di kampus dan
segera pulang. Selama satu bulan ini aku mengalami kekecewaan, apakah ini ujian
bagiku. Saat aku bergegas ke depan gerbang kampus, aku tidak sengaja menabrak
salah satu anggota polisi. Aku terjatuh dan dia menolongku. Farhan melihat aku
terjatuh, dan menghampiriku. Namun, aku langsung meninggalkannya. Aku masuk ke
dalam mobil dan pulang. Jalanan sangat macet, karena ada razia. Aku mencari
jalan pintas agar cepat sampai ke rumah. aku menuju pulang, perutku lapar. Tadi
aku tidak sempat sarapan. Aku berhenti di depan rumah makan, membeli makan, dan
membungkusnya.
Tiba aku dirumah, rumah dikunci.
Bagaimana aku bisa masuk, sepertinya Puceh pergi dan telepon genggamku
tertinggal. Aku harus kemana lagi, perutku sudah sangat lapar. Aku makan
dimobil sambil menunggu Puceh pulang. Perutku sudah merasa kenyang. Tidak
biasanya Puceh pergi lama. Aku mencoba mencari Puceh ke tempat kerja Sela.
Tapi, motor Sela tidak ada. Pasti Sela tidak masuk bekerja. Aku pergi lagi ke
rumah Sela ternyata ada motor Puceh. Aku memanggil Puceh dan meminta kunci
rumahku.
“De,
mampir dulu” ucap Sela
“tidak,
aku mau pulang saja” jawabku.
“woy!
Mampir dulu De” teriak Faisal.
“kamu
aja yang ke rumahku” sindirku.
Faisal keluar menemuiku, dan dia
ikut bersamaku. Padahal tadi aku hanya bercanda. Faisal langsung masuk ke dalam
mobilku. Tanpa berkata apapun. Memang dasar anak ini. Aku selalu tertawa ketika
melihat sikapnya yang lucu. Tiba-tiba Faisal memintaku berhenti di depan kafe,
dia mengajakku santai disana.
“jelek
sekali muka kamu De” kata Faisal.
“bodoh!”
“memang
jelek kamu ini!”
“tidak
apa-apa jika aku jelek, tapi aku manis.”
“iya,
aku akui kamu memang manis De” kata Faisal memujiku.
Faisal lelaki yang sangat aku sukai,
senyumannya aduhai. Sudah jam empat sore sebaiknya pulang kerumah. Aku sudah
merasa lelah. Aku mengira Faisal akan langsung pulang. Namun, faisal juga ikut
pulang ke rumahku. Aku meminta Faisa yang menyetir mobilku. Tubuhku sangat
terasa lelah.
“De,
kamu marah ya dengan Puceh?”
“iya
aku marah!”
“kenapa
marah?”
“gara-gara
kejadian tadi malam.”
“De,
dengarkan penjalasanku dulu boleh?”
“iya!”
“sebenarnya
Puceh tadi malah sangat marah dengan perlakuan Sandi selama ini kepada kamu.”
“iya
aku tau!”
“jadi
kenapa kamu harus marah?”
“aku
tidak tahu.”
“dasar
bego!”
Kami sudah tiba di depan rumahku,
aku turun dan segera membuka pintu. Faisal duduk di ruang tamu dan menonton TV.
Aku segera mandi, rasanya badanku sudah kotor sekali. Aku menyiapkan minuman
untuk Faisal dan sedikit makanan. Aku asik duduk dengan Faisal. Tiba-tiba Puceh
datang bersama Sela. Lama-lama kami merasa bosan jika hanya di rumah saja. Kami
memutuskan untuk jalan-jalan. Di pinggir jalan depan komplek ada pasar malam.
kami bersama-sama pergi kesana. Hari ini cukup membuatku bahagia. Semua tentang
Sandi dan Farhan dapat aku lupakan perlahan. Faisal merangkulku, hatiku jadi
dag dig dug. Tapi sepertinya aku tidak ingin berpacaran lagi. Aku juga lebih
nyaman jika Faisal menjadi kakakku, bukan pacarku.
Lelahnya hari ini. Tapi, sangat
menyenangkan. Aku merebahkan tubuhku. Aku merindukan orang tuaku. Bagaimana
keadaan mereka sekarang, apakah mereka masih menyayangiku. Aku mencoba
menelepon Ayah Abi. Dia ayah kandungku, aku sangat menyayanginya. Saat aku
meneleponya yang jawab seorang perempuan, sepertinya istri barunya. Dia
mengatakan jika ayah sedang tidak ada di rumah dan teleponnya tertinggal. Aku
juga ingin menelepon ibu. Namun, tidak ada jawaban. Tiba-tiba dadaku terasa
sesak, dan memanggil Puceh. Dia sangat panik dengan keadaanku. Aku diberikan
obat peringan sakitku dan Puceh menungguku sampaiku tertidur. Aku mencoba
memejamkan mata. Tidak sengaja aku melihat Puceh menangis di depanku.
“kamu
kenapa?”
“aku
tidak apa-apa De”
“cerita
saja kepadaku.”
“De,
aku tidak habis pikir jika aku sudah kembali tugas.”
“memangnya
kenapa?”
“kamu
sendirian De, aku tidak mungkin tega.”
“aku
sudah terbiasa, lebay deh.”
“kamu
ikut aku saja De ke Jakarta, mau?”
“aku
kuliah, tidak mungkin pindah.”
“tapi...”
“percayalah,
aku bisa jaga diri.”
Aku meminta Puceh pergi ke kamarnya,
karena aku ingin tidur. Puceh sangat menyayangiku dan mengaganggapku seperti
adik kandungnya. Puceh sangat ingin memiliki adik perempuan. Namun, saudaranya
laki-laki semua. Aku mencoba untuk tertidur. Telepon pintarky berdering. Ada
pesan masuk dari Farhan, isi pesan itu adalah sebuah puisi.
Maafkan aku
Aku tidak bermaksud untuk
menyakitimu
Aku sungguh menyayangimu
Sampai kapanpun akan tetap begitu
Aku minta maaf untuk rasa sakit
yang kau rasa
Rasa sakit yang kau rasakan itu
Maafkan aku
Kumohon maafkan aku
Aku tidak ingin meninggalkanmu
Tak pernah ada niat di hatiku
mencampakkanmu
Tidak pula aku mempermainkanmu
Semua yang ada dikepalamu itu salah
tentangku
Aku harus menjauhimu
aku tidak ingin kamu tersiksa
aku sudah miliknya
tapi aku menyayangimu
maafkan aku
aku ingin kamu bahagia
aku tidak ingin kamu dibutakan
cinta
maafkan aku
Aku
ingin tidur, aku tidak menghiraukan pesan dari Farhan. Saat aku memejamkan mata
tiba-tiba wajah Sandi terbayang dalam benakku. Aku sangat menyayangi Sandi dan
aku tidak bisa melupakannya. Aku masih belum bisa menerima kejadian ini.
Sekarang Farhan, dia sudah masuk kedalam hidupku. Tapi, kenapa dia juga harus
meninggalkanku.
Pagi ini sedikit murung, aku jadi
malas untuk pergi kuliah. Puceh sudah menyiapkan nasi goreng untukku. Setiap
hari Puceh memasak nasi goreng untukku, karena Puceh hanya bisa memasak nasi
goreng. Sepertinya lebih baik aku meliburkan diri hari ini. Mungkin hari ini
juga tidak ada perkuliahan. Kasus Adi belum selesai, aku juga tidak ingin
bertemu Farhan di kampus. Aku menyuap nasi goreng dan telepon pintarku
berdering. Pesan masuk dari Farhan, akupun membukanya.
De, kamu jangan marah. Aku tidak
ingin kamu seperti ini, tetaplah menjadi inspirasiku.
“De,
siapa yang mengirim pesan?”
“Farhan...”
“mau
apalagi tuh anak?”
“minta
maaf ke aku”
“terus?”
“tidak
aku kasih respon”
Aku menghabiskan nasi gorengku.
Sudah tiga hari Puceh disini, sebentar lagi dia akan kembali bertugas.
Sepertinya aku akan merasa kesepian jika Puceh kembali tugas. Aku mengajak
Puceh pergi ke toko buku langgananku. Puceh bergegas untuk mandi. Sudah satu
jam aku menunggu Puceh untuk siap-siap.
“Puceh!”
“iya
tunggu cerewet!”
“batalkan
saja ya?”
“jangan
De!”
Puceh menemuiku, dan menyalakan
mesin mobilku. Aku duduk di samping Puceh sambil memandangi wajahnya. Dia
ganteng ya ternyata. Sepertinya aku menyukainya. Hemm, tidak mungkin dia sudah
aku anggap saudaraku. Puceh mencubit pipiku, karena dia jengkel selalu
kupandangi. Aku menyayangi Puceh, sangat meyayanginya.
“De,
aku tau kalauku ganteng”
“wah,
dasar kamu ini”
“aku
ganteng ya?”
“tidak!”
“aku
ganteng De!”
“tidah,
bego!”
“pastinya
aku ganteng, adikku saja cantik jelita”
Aku tertawa dengan pujian dari
Puceh. Kami sampai di depan toko buku tidak berlama-lama disana, aku mengajak
Puceh pergi lagi ke kafe kesukaanku. Puceh merangkulku, tidak sengaja kami
berselisihan dengan Sandi dan pacarnya. Puceh tidak bisa menahan emosi, ingin
menampar Sandi. Untungynya aku bisa menahan Puceh. Aku dan puceh pergi ke kafe,
kami tidak makan disana. Namun, hanya membungkus saja.
dan ibu meninggal Ratih tidak pernah lagi mendapatkan
telepon dari ayah.
Malam hari aku
terbangun dari tidurku dan melihat bayangan di jendela saat aku ingin mengambil
air. Aku menengok ke jendela, namun
tidak ada seseorang yang kulihat. Sungguh aneh, apakah hanya imajinasiku
ucapku dalam hati. Puceh masuk, aku
terkejut karena Puceh membawa sebuah cangkul dan dicangkul itu ada banyak tanah
basah yang melekat. Untuk apa Puceh malam-malam seperti ini membawa cangkul,
Puceh bukan tukang gali kubur.
Aku masuk ke kamar dan
membawa segelas air. Aku merebahkan tubuhku dan mencoba untuk memejamkan
matatku. Namun, aku selalu terbayang bayangan yang ku lihat dijendela. “siapa
dan untuk apa disini” tanyaku dalam hati. Jam sudah menunjukkan pukul dua
subuh. Aku masih belum bisa tertidur, sedangkan malam semakin larut. Semakin
aku memejamkan mata semakin teringat dengan bayangan tadi. Aku tidak bisa
tertidur, lebih baik aku melakukan salat malam. aku keluar dan mengambil air
wudhu. Ketika aku mengambil air wudhu, aku dikejutkan dengan suara aneh, namun
aku tidak memperdulikan.
aku terbangun, aku
terkejut melihat kamarku sangat berantakan. Aku berteriak! Siapa yang sudah
masuk ke kamarku dan aku menyalahkan Puceh. Aku marah-marah dengan Puceh.
Tetapi puceh tidak melakukan semua hal itu. Aku menangis dan dadaku terasa
sesak. Aku jatuh pingsan tak sadarkan diri. Dokter datang memeriksaku, sampai
akhirnya aku sadarkan diri.
“De, kamu kenapa/?”
“tadi malam aneh sekali”
“aneh kenapa?”
“tiba-tiba aku merasa ada seseorang”
“maksudnya?”
“tadi malam kamu datang membawa
cangkulkan”
“iya, aku dari rumah temanku De”
“sebelum kamu datang, aku melihat
bayangan hitam dijendela”
“bayangan?”
“iya, aku takut”
“tenang ada abang ganteng”
Hujan
turun dengan deras dimalam hari, aku hanya sendirian di rumah sedangkan Puceh
pergi ke rumah Sela. Aku menuju dapur, tiba-tiba aku melihat bayang hitam di
jendela. Aku penasaran dengan bayangan itu, aku menghampiri bayangan itu.
Tiba-tiba dia ingin menyerangku, aku tidak bisa melihat jelas siapa orangnya.
Dia menikamku sampai aku terjatuh. aku menusuknya ditangannya dab dia melarikan
diri.
Ini
sudah jam sepuluh malam, Puceh masih belum pulang. Aku sudah merasa lelah dan ingin tidur, tapi
bagaimana dengan Puceh dia tidak membawa kunci rumah. aku menunggu di ruang
tamu sambil menonton TV. Tiba-tiba lampu di rumah padam dan aku langsung
mencari lilin. Aku merasa takut gara-gara orang tadi. Saat aku keluar rumah, aku
melihat satu amplop. Saat aku membuka amplop itu, ada selembar kertas yang
berisi tulisan.
Kamu lebih baik mati!
Melihatmu membuatku takut kehilangan
seseorang.
Kamu sudah masuk kehidupan hubunganku.
Saat ini dia selalu memikirkanmu.
Dia memanggilku, dengan namamu!
Aku sangat membencimu ADELIA!
ADELIA! lebih baik kamu mati.
Aku tidak ingin kamu ada di dunia ini.
Aku akan menghancurkan hidupmu secara
perlahan.
ADELIA!
Kamu yang menjauh, atau aku yang akan
membunuhmu.
Kamu jangan bermimpi untuk mendapatkan dia.
Camkan
itu!
Aku tidak tahu, apa maksud dari pesan ini.
Aku segera menelepon Puceh dan memintanya pulang ke rumah. Puceh tidak menjawab
teleponku. Aku sangat merasa takut, aku menangis di kegelapan malam yang hanya
disinari lilin. Satu jam aku menunggu listrik sudah tidak padam lagi. Puceh
juga sudah datang, aku langsung memeluk Puceh dan bercerita kejadian malam ini.
Puceh mencoba menghubungi Farhan untuk menindaklanjuti masalah ini. Akupun
diantar Puceh ke kamarku. Dan menungguku sampai tertidur.
Pagi
ini sangat sejuk, saat membuka mata, aku meihat Farhan ada di kamarku. Tidak
hanya Farhan yang ada dikamrku tiga temannya yang berprofesi sama juga ada
disini. Puceh juga ada disini mereka semua sudah berada dihadapanku. Aku
diminta keterangan tentang kejadian tadi malam.
“De, apa yang terjadi tadi malam?” tanya
Puceh.
“aku mengambil air minum, tiba-tiba ada orang
yang ingin menikamku.
“apa kamu melihat orangnya?” ucap Farhan.
“tidak!” jawabku ketus.
“kalau ciri-cirinya?” tanya teman Farhan.
“aku tidak tahu, tapi aku sempat menusuknya
ditangan.”
Aku
sangat takut dengan kejadian ini, sepertinya kejadian yang menyakitkan selalu
menimpaku. Sepertinya hidup ini tidak adil. Kebaikan tidak menimpa kepadaku,
siang itu semua berjaga di rumahku. Sela dan kekasih Farhan juga ada disini.
Mereka menyelidiki kejadian ini. Aku tidak sengaja melihat amplop yang
menyangkut di jendelaku. Amplop ini juga berisi surat.
Aku punya hati dan bukanlah kamu juga mempunyai hati sepertiku, kita
sama-sama wanita bukankah akan sama-sama sakit jika apa yang sudah milik kita
dirampas orang lain. Dia yang kini menjaidi milikku yang sudah ku perjuangkan
kenapa kamu menghancurkan. Mengapa kamu datang tiba-tiba hadir menjadi orang
ketiga dalam hubungan kami, mengapa menjadi perusak orang hubungan orang lain.
Kita sama-sama wanita kalau kamu bisa merasa sakit saya juga bisa merasa
sakit, kalau kamu bisa merasa putus asa saya juga bisa. Aku tidak akan
membiarkan orang ku cintta pergi begitu saja. Kehilangan kekasih yang sangat
dicintai itu begitu menyakitkan, ku pikir semua wanita di dunia ini akan merasa
sakit hati jika kehilangan orang yang dicintai.
Mengapa kamu begitu tidak tahu diri dan tidak punya hati. Bagaimana jika
kamu berada diposisisku. Dia sudah
menjadi milikku jauh sebelum kamu mengenalnya. Aku hanya memilikinya tetapi
mengapa kamu hadir dikehidupan kami. Lebih baik kamu pergi tinggalkan
kehidupannya.
Aku menangis saat mebaca surat ini, aku
memanggil Puceh dan dia datang bersama Farhan diikuti kekasih Farhan dan Sela.
Tiba-tiba Farhan memegang tangan kekasihnya. Farhan menanyakan kenapa tangannya
berbalut perban. Dia menjawab dengan gugup. Aku menjadi curiga apakah pacarnya
Farhan, apakah dia yang sudah meneror aku beberapa hari ini. Aku mempunyai
rencana untuk menjebak peneror itu.
Rumah beratap merah, dimana tempatku tinggal.
Peneror itu sepertinya datang lagi. Namun, aku meminta untuk ditinggalkan
sendirian di rumah. aku suah menunggu lama peneror itu, tidak datang juga. Aku
hanya melihat amplop lagi yang pastinya berisikan surat. Tapi, dugaanku salah
isinya adalah sebuah pisau kecil berlumur darah. Aku berteriak, aku juga
menelepon Puceh untuk segera pulang. Puceh datang mencoba menenangkanku. Farhan
dan tiga temannya berjaga di depan rumahku. Tiba-tiba ada suara keributan,
salah satu teman Farhan menangkap peneror itu. Kami semua berkumpul di ruang
tamu. Saat kami membuka topengnya ternyata memang benar. Dia pacarnya Farhan.
Tapi, kenapa dia harus mengancamku. Farhan sangat marah dengan sikap pacarnya.
Aku tidak ingin juga pacarnya Farhan dipenjara. Aku memaafkan semua perlakuan
pacaranya Farhan. Farhan kecewa dengan sikap pacarnya, dia juga memilih untuk
memutuskan hubungan dengan pacarnya.
“De, maafkan sikap pacarku” ucap Farhan.
“iya, mungkin dia terlalu takut
kehilanganmu...”
“sudah cepat bawa pulang pacarmu!” ucap Puceh
dengan marah-marah.
“tapi...”
“sudah pergi saja sana, gara-gara kamu Adelia
ingin dibunuh!”
Puceh
mengantarkanku tidur, malam itu aku sedikit merasa lebih lega. Puceh mencoba
membuatku tertidur. Namun, aku masih asik dengan telepon genggamku, Aku
memantau aktivitas Sandi di snapgram.
Sandi sepertinya bahagia dengan kekasihya. Tidak sengaja aku melihat vidio yang
di unduh Farhan. Di vidio itu Farhan menayangkan cuplikannya sekarang. Dia ada
di sebuah kafe dan dia hanya sendirian. Pasti Farhan merasa terpukul dengan
kejadian tadi. Aku segera menyusul Farhan. Tapi, Puceh tidak mengijinkanku.
“aku boleh menyusul Farhan?”
“tidak!”
“kenapa?”
“jauhi dia!”
“tapi...”
“tidak!!!”
“aku mohon, demi aku”
“iya, tapi ada permintaan”
“apa?”
“aku yang mengantarmu”
“iya”
“aku bersiap dahulu”
“mantap!”
Aku
menelepon Puceh dan memintanya menunggu. Lima menit kemudian aku sudah tiba di
kafe itu. Puceh mrninggalkan kami berdua. Aku duduk bersama Farhan, sepertinya
dia sangat sakit hati. Dia juga masih memakai seragam. Aku mencoba menenengkan
Farhan, seandainya aku tahu peneror itu pacarnya Farhan aku tidak akan cerita.
“Han, aku minta maaf”
“kamu tidak salah De”
“tapi...”
“ini semua gara-gara aku De”
“tidak, seandainya aku tidak masuk
dikehidupanmu tidak akan seperti ini”
“De, kamu tidak tinggalkan aku?”
“iya, kamu sudah aku anggap sebagai
sahabatku”
“kamu baik sekali De”
“aduh! Aku lapar”
“kamu mau pesan apa?”
“jangan disini, di tempat lain saja.”
Aku
bersama Farhan menuju rumah makan, jalanan sangat macet padahal ini sudah jam
sembilan malam. kami berhenti di rumah makan. Ternyata disana ada teman Farhan
yang membantuku tadi. Kami makan bertiga. Tiba-tiba Farhan mendapat telepon
dari atasannya dan diminta untuk datang ke kantor. Farhan segera ke kantor dan
memintanya meninggalkanku saja bersama temannya. Sudah sering kami bertemu tapi
masih belum sempat berkenalan. Riki namanya, dia bukan asli orang sini.
“De, boleh aku bertanya?”
“Boleh”
“memangnya kamu tidak punya pacar”
“iya, aku baru saja ditinggal pacarku”
“sabarya De”
“iya”
“kamu memang cantik, pantasa saja Farhan
jatuh hati”
“ah, bisa saja kamu ini”
“tapi benar De, kamu cantik”
“kamu bisa antarkan aku pulang?”
“ayo, dengan senang hati”
Riki
mengantarkan aku pulang, kenapa ya tadi Farhan ditelepon dan diminta ke kantor.
Riki selalu memandangiku aneh juga lelaki ini. Aku melihat poto perempuan di
mobilnya Riki, ternyata itu poto pacarnya. Lama-lama setelah aku melihat poto
pacarnya Riki, mirip juga wajahnya denganku.
“De, kamu mirip pacarku”
“iya Ki, aku juga merasa seperti itu”
“tapi ada bedanya”
“apa?”
“kamu pakai jilbab, sedangkan pacarku tidak”
“hehe, mungki dia belum siap”
Aku sudah tiba di depan rumah dan Puceh sudah
menungguku. Dia terkejut saat Riki mengantarkanku, sudah aku berikan penjelasan
kepada Puceh dan Puceh memahami semuanya. Puceh memintaku untuk beristirahat.
Namun, aku masih penasaran dengan Fahan, aku tiduran sambil asik dengan tetepon
pintarku. Tidak lama, Farhan menghubungiku. Dia menceritakan kenapa dia
dipanggil ke kantor. Ternyata Farhan diminta pindah ke kota lain. Aku merasa
sedih, aku akan kesepian Farhan akan pindah, sedangkan Puceh dua hari lagi kembali
ke Jakarta. Sandi? Dia sudah tidak lagi dikehidupanku. Aku langsung menutup
telepon Farhan dan menangis. Besok dia akan pergi ke Jakarta. Aku tertidur
dalam tangisanku.
Pagi
yang inda, embun membasi dedaunan membuat daun-daun itu seperti dijatuhu sebuah
berllian. Ini sudah jam sembilan pagi, aku menelepon Farhan ternyata di sudah
di depan rumahku. Aku bersama Puceh mengantar Farhan ke bandara. Farhan
ditugaskan di Jakarta, maka dia akan satu kantor dengan Puceh. Saat kami keluar
dari jalan rumahku, ada taksi yang menghalangi mobil kami. Farhan marah-marah
dengan supir taksi itu. Aku hanya memandangi dari kaca mobil. Aku melihat
perempuan keluar dari taksi itu. Aku terkejut melihat dia, ternyata Ayu bekas
pacarnya Farhan. Ayu langsung memeluk Farhan, seakan-akan dia tidak ingin ditinggalkan
Farhan, Namun aku tidak menyang respon dari Farhan, dia melepaskan pelukan itu
dan masuk kedalam mobil.
“Han, kasihan Ayu”
“tidak!”
“kamu tidak boleh kasar” ucapku.
Farhan
melaju menuju bandara, dia sepertinya sudah kecewa berat dengan Ayu. Aku hanya
bisa diam, tidak mungkin aku ikut campur. Tiba dibandara Farhan mendekatiku,
dia memberikan satu gelang cantik berlonceng kecil-kecil. Diikatkannya gelang
itu ketanganku. Farhan juga berpesan kepadaku agar aku bisa menjaga diriku
baik-baik, karena baginya perempuan sepertiku akan banyak orang yang mencoba
menyakitiku. Farhan pergi dan masuk kedalam pesawat. Sepertinya aku berat
melepaskan Farhan. Aku dan Pucehpun pulang. Puceh mengajakku ke toko oleh-oleh
karena dua hari lagi dia akan kembali ke Jakarta.
“De, apa ya yang cocok untuk ku jadikan
ole-oleh?”
“memangnya untuk siapa?”
“untuk orang-orang di kantor”
“bagaimana dengan kain sasirangan?”
“mantap!”
Puceh
membeli banyak kain sasirangan, tiba-tiba Puceh termenung. Aku tidak tahu apa
yang ada dipikiran Puceh. Mungkin dia merindukan ibunya di Jakarta. Dia
mengelus kepalaku dan matanya berkaca-kaca. Aku segera menenangkan perasaan
Puceh saat ini. Puceh segera memilih kain untuk dijadikannya oleh-oleh. Banyak
kain yang dibelinya. Mungkin ada tiga puluh, itu juga baginya masih belum
cukup. Puceh pasti banyak mempunyai teman disana dan pastinya banyak perempuan
yang mengidam-idamkan Puceh. Namun, Puceh hanya menyukai Sela. Aku juga
menyukai Sela, dia perempuan yang baik. Kami selesai berbelanja dan segera
pulang kerumah. Dalam perjalanan aku termenung, Puceh hanya dua hari lagi
disini. Aku ada ide, akan kuaajak dia jalan-jalan untuk dua hari ini. Tapi,
hari ini libur saja dulu. Untungnya aku hari ini sudak tidak ada perkuliahan.
Akhirnya kami sampai di depan rumah. aku bersama Puceh masuk ke dalam rumah.
aku memasak ayam lada hitam kesukaannya. Puceh sudah duduk di kursi makan dan
aku menyiapkan makanan untuknya.
“De, enak juga ya masakanmu” sindir Puceh.
“jelaslah, aku bisa masak”
“ah, sombong!”
“ayo habiskan dulu makanannya”
“siap komandan!”
Puceh
sangat lahap menghabiskan makananya, bahkan dia sudah dua kali menambahkan nasi
ke piringnya. Aku sangat senang jika Puceh menyukai masakanku. Teleepom Puceh
berbunyi ternyata pesan dari Sela, dia memgajak Puceh pergi malam ini. Anehnya
Puceh juga mengajakku. Namun, aku hanya menolaknya. Aku tidak ingin mengganggu
waktu Puceh bersama Sela. Setelah makan
Puceh mengajakku taruhan. Jika dia menang aku akan meneratirnya nonton besok.
Namun, dia yang kalah aku yang akan diteraktirnya. Ya, aku terima saja.
Tantangannya. Kami asik bermain vidio game, Puceh curang bermain denganku. Jika
dia jengkel dengan sikapku, pastinya dia mencubit pipiku. Kami merasa lelah dan
merebahkan tubuh ke kasur. Ini sudah pukul empat sore, aku bergegas mengambil
air wudhu untuk salat ashar.
Aku
melaksanakan salatku dan tidak lupa untuk berdoa. Setiap doaku selalu ada
nama-nama orang yang aku sayangi. Aku sangat merindukan orang tuaku. Sudah lama
kami tidak bertemu, Puceh juga salat. Aku jadi teringat saat kami masih berumur
lima tahun. Aku dan Puceh selalu bersama, dia sangat menyukai seragam polisi.
Cita-citanya sudah tercapai, aku sangat bersukur mempunyai sepupu seperti dia. Dia
lelaki idaman perempuan masa kini. Bagaimana tidak, dia tinggi aku saja
sebahunya. Dia mempunyai kumis tipis dan bertubuh kekar. Jika artis dia mirip
dengan Vino G. Bastian.
“De, boleh tidak aku jalan malam ini?”
“tidak!”
“kenapa De?”
“tidak boleh!”
“yaudah”
“yah, marah”
“kamu juga sih”
“boleh abang ganteng”
Aneh
saja lelaki ini mau jalan saja harus meminta izin denganku, Puceh segera mandi
dan bersiap untuk bersama Sela. Pasti mereka senang-senang bersama disana.
Semoga Puceh benar-benar menyayangi Sela. Sela memang pantas untuk Puceh.
Sebenarnya aku juga menyukai Puceh. Dia pergi menjemput Sela, aku bosan
sendirian di rumah. aku asik memainkan telepeon pintarku. Saat aku melihat
snapgram, ternyata Riki sedang ada di kafe bersama teman yang lain. Aku
mengirimkan pesan kepada Riki, bahwa aku akan menyusulnya. Aku segera bersiap
dan melaju ke kafe.
Tiba
disana, ternyata ramai sekali. Aku duduk disamping Riki dan berkenalan dengan
teman yang lain. Mereka sudah tahu aku karena masalah pacarnya Farhan. Mereka
sangat asik diajak berbincang. Jika mereka tidak memakai seragam seperti ini,
pastinya orang yang melihat menyangka mereka ini bukan anggota polisi. Aku
sangat nyaman berteman dengan mereka.
“De, kamu sendirian ya di rumah tadi? Kata Riki.
“iya, Puceh pergi jalan denga Sela”
“pantas saja kamu kesini”
“memangnya tidak boleh?”
“boleh De” jawab mereka dengan ramai.
Aku
tertawa dengan ulah sikap mereka ya kocak. Mereka memang tidak membosankan.
Mereka semua memang baik tidak memandang siapapun untuk berteman. Kami sudah
jenuh disini dan ingin pindah tempat. Kami segera pergi ke kafe yang lain.
Mungkin yang bisa untuk akustikan. Tibalah kami di TJP kafe, ternyata disana
juga ada Puceh dan Sela. Aku cukup lama tidak bernyanyi di depan umum. Aku
meminta Riki menemaniku bernyanyi. Di kafe aku menyanyikan dua lagu kesukaanku,
BMTH-Sleep Walking dan Jazz-Dari Mata. semua pengunjung memandangi kami dan
menikmati penampilan kamu. Puceh sepertinya juga ingin menyumbangkan
penampilannya dan mengajakku menyanyikan lagu Bara Suara-Sendu Melagu. Temannya
Riki ternyata ada yang ganteng, mata ku mengarah ke dia. Namanya Arya, dia teman
satu kantornya Riki.
“hey Arya!”
“aku jelek ya?”
“tidak, kamu manis De”
“basi kamu ini!” sindirku dengan tetawa.
“ayo, kamu jago menyanyikan?”
“ah, tidak juga”
“satu lagu denganku mau?”
“tidak, aku malu”
“malu?”
“iya De!”
“ayolah aku mohon”
“iya, boleh dicoba”
Aku
dan Arya menyanyikan lagu dari Jikustik-Untuk dikenang. Namun, kami menyanyikan
lagu ini versi yang sudah di modifikasi. Aku sangat menyukai lagu ini, jika aku
menyanyikan lagu ini aku seperti terbawa perasaan. Aku jadi teringat Sandi, aku
merindukannya. Setelah aku lihat Arya sangat mirip dengan Sandi. Namun, hanya
ada satu perbedaan. Arya orangnya pemalu sangat berbeda dengan Sandi. Malam
semakin larut sebaiknya aku pulang. Puceh juga pula dan mengantarkan Sela
terlebih dahulu.
Aku
sudah tiba di rumah, tidak lama Puceh juga sudah sampai di rumah. Wajahnya
sedikit murung, kenapa ya? Mungkin karrenan kelelahan saja. Aku masuk ke dalam
kamar dan merebahkan tubuhku ke kasur beralas gambaran mawar-mawar cantik. Ketika aku ingin memejamkan mata. telepon
pintarku berdering, ternyata pesan dari Farhan. Isi pesannya puisi panjang yang
sangat romantis.
Dalam
keterpurukan jiawa kau hadir dalam hidupku
Dengan
setianya kau menemanani sepinya har-hariku
Kau
menepis dinginnnya malamku
Kau
hadirkan keindahan asmara sehinggaku terpaku
Ku
rasa aku telah merindu jatuh cinta
Rasa
yang pernah kusingkirkan
Rasa
yang pernah kuenyahkan
Rasa
yang membuatku terluka
Kau
sanggup mengubahnya
Kini
kau menguatkanku
Nafas
cinta penuh misteri
Cakrawala
terus menari
Biarkan
nirwana melambai penuh arti
Percayalah
kehadiranmu sungguh berarti
Tidak
lama aku mebaca isi pesan itu, Farhan menelepoku lewat vidio. Dia mengatakan
bahwa dia rindu denganku. Farhan sungguh membuatku terbuai dengan sikapnya.
Farhan juga memintaku untuk menyampaikan salam untu Sela. Tiba-tiba ada yang
mengetuk pintu kamarku. Ternyata Puceh membawakan segelas susu coklat hangat
untukku. Aku segera menghabiskan susuku agar Puceh cepat kembali ke kamarnya.
Aku tidak memberitahu bawah Farhan sekarang meneleponku.
“De, ayo tidur”
“iya, tunggu sebentar lagi”
“kamu tidak mengantuk bang?”
“belum De, aku lagi bimbang”
“kenapa?”
“masalah Sela”
“iya ada apa dengan Sela?”
“menurutmu, sebaiknya aku bagaimana?”
“bagaimana seperti apa”
“aku malu De”
“malu? Biasanya kamu memang malu-maluin”
“apakah aku ungkapkan saja perasaan ku kepada
Sela”
“iya, itu lebih baik”
“kenapa?”
“kamu mau Sela direbut orang?”
“tidak!”
“jadi tunggu apalagi!”
“tapi...”
“ah, kamu ini menggangguku saja”
“De!”
“iya, kenapa lagi?”
“Sela suka tidak dengan aku”
“pasti suka, aku saja suka”
“apa?”
“lupkakan!!!”
Aku
meminta Puceh untuk kembali ke kamarnya. Aku sudah tidak bisa menahan rinduku
dengan Farhan. Aku melanjukan vidio call dengan Farhan, dia selalu merayuku
dengan kata-kata gombalnya. Dia mengajakku untuk berlibur ke Jakarta. Tapi, aku
kuliah mungkin nanti saja. Siapa yang ingin menolak jika diajak berlibur ke
Jakarta. Mataku sudah ingin tidur. Aku mematikan teleponnya dan mencoba untuk
tertidur.
Pagi
hari, dimana Puceh akan menepati janjinya. Dia sudah kalah bermain denganku
kemarin. Hari ini Puceh harus mengajakku nonton, makan, dan membelikan tiga
makanan dan satu minuman yang berbau green tea. Aku menyapu seluruh isi rumah
dan Puceh memotong rumput dihalaman. Untung ada Puceh, bebanku sedikit
berkurang. Hari ini juga adalah hari terakhir Puceh tinggal bersamaku. Besok
dia harus kembali ke Jakarta menyusul Farhan. hari ini kami akan menghabiskan
waktu bersama.
“De, kita mau kemana?”
“ada saja, pokoknya tempat yang akan
berkesan”
“kemana?”
“ada saja, jangan cerewet”
Aku
mengajak Puceh nonton dan makan. Kami sangat bahagia hari ini bisa tertawa
bersama. Hari semakin gelap, aku mengajak Puceh kesuatu tempat. Matanya kututup
dengan sapu tangan. Ku ajak dia berjalan hingga akhirnya tiba di suatu tempat
yang sudah aku siapka. Disini sangat indah meja makan yang ku hiasi dengan
lilin dan hiasan disekelilingnya. Aku sudah menyiapkan ini untu Puceh. Aku
ingin hari terakhir Puceh sangat berkesan disini.
“De, teima kasih”
“iya”
“sebenarnya kau tidak ingin meninggalkanmu”
“aku juga, sebenarnya tidak ingin kamu pergi”
Dia
merangkulku, disana dia menangis seakan-akan dia kan pergi jauh dan tak
kembali. Kami bisa saja bertemu lagi. Tapi, karena kesibukan yang menghalangi
semuanya. Seminggu Puceh disini sangat membantuku. Dia menjagaku disini dengan
setulus hatinya. Dia menganggapku seperti adiknya sendiri. Malam semakin larut
kami segera untuk pulang. Malam itu Puceh memberikan boneka stich kesukaanku.
Boneka itu sangat besar, sehingga menutupi badanku. Kamipun menuju jalan
pulang. Besok akan kuantarkan dia ke bandara.
Pagi
ini hujan deras di sini. Aku segera membuatkan makanan untuk Puceh. Dia sedang
bersiap-siap dan aku memasak. Puceh duduk di kusri makan dan dia sangat lahap
menghabiskan makanan buatanku. Aku sungguh senang melihatnya. Dia mernagkulku
dan mengatakan hal yang mebuatku terkejut.
“De!”
“iya?”
“aku boleh jujur?”
“iya, apa?”
“aku menyayangimu”
Aku
terdiam setelah mendengar hal itu, mengapa dia bilang begitu? Aku mencoba tidak
menghiraukannya. Aku bersiap untuk mengantarnya ke bandar, sedangkan dia sedang
menyalakan mesin mobilku. Aku masuk ke dalam mobil. Tapi, disana aku hanya
memandangi wajahnya yang ganteng mirip Vino G. Bastian. Senyumnya, sikapnya
yang selalu menjagaku membuatku semakin mengagumi sosok Puceh.
“nanti kamu kemabali kesini lagi ya?”
“iya, aku akan begitu merindukanmu De”
“jangan lupa dengan semua pesanku”
“iya, cerewet!”
Kami
tiba di bandara setengah jam kami menunggu penerbangan, kami asik mengobrol.
Puceh akan meninggalkanku disini sendirian, semoga Puceh selalu diberikan
kebahagian di manapun dia berada. Puceh melambaikan tangannya dan aku tidak
bisa menahan kesedihanku, sehingga meneteskan air mata. aku menuju jalan
pulang, jalan sangat macet. Tidak sengaja aku menabrak mobil di depanku.
“hei, kamu buta ya?” teriak lelaki dimobil
itu.
“maaf mas, aku tidak sengaja”
“kamu harus ganti rugi!”
“tapi...”
“ayo berikan kartu namamu, atau KTP!”
“ini mas...”
Aku
tidak berdaya, aku sudah ingin menghindar tapi lelaki itu memarahiku. Aku
mengganti semua kerugian yang dimintanya. Tiba-tiba dia datang ke rumahku dan
membawakan hadiah. Lelaki itu padahal sangat jahat bagiku. Dia memberikan itu
karena tau hari ini hari ulang tahunku. Aku juga mendapatkan paketan dari
Puceh, dia memberikan sepatu vans berwarna merah muda. Lelaki ini sungguh aneh!
Danu namanya, dia seorang atlite bulu tangkis. Wajahnya juga ganteng
sebenarnya. Tapi, aku tidak menyukai sikapnya yang angkuh itu.
Malam
hari, dia datang menjemputku. Danu mengajakku ke kafe dan memberikan kejutan
untukku. Mengapa Danu sangat baik kepadaku. Malam itu aku tidak tahu tiba-tiba
aku tidak sadarkan diri. Saat aku bangun, ternyata aku ada di kamar yang tidak
aku kenal. Aku tidak memakai pakaian apapun, hanya ditutupi dengan selimut. Aku
terkejut melihat semua ini. Tidak lama kemudia Danu datang dan dia menceritakan
semuanya. Aku sangat marah kepadanya. Mengapa dia tega perlakukan semua ini.
“kamu lelaki bejad!!!” ucapku.
“De, kamu sendiri yang mau”
“tidak mungkin!”
“aku tidak berbohong cantik”
Aku
sangat marah dan aku menamparnya. Aku segera berpakaian dan pulang. Saat tiba
di rumah tubuhku terasa lemas sangat lemas. aku membeli tes kehamilan. Ternyata
aku hamil, aku terkejut. Aku memang sering berpacaran dan berteman dengan
laki-laki. Tapi... ini sungguh tidak adil. Dari pertama aku pacaran berpelukan
dengan lelaki saja aku tidak pernah. Siapa Danu itu sebenarnya. Pantas saja dia
sangat baik denganku, ternyata dia mengingimkan keperawananku. Aku tida bisa
menerima ini.
“Danu!” teriakku di depan rumahnya.
“iya?” perempuan berumur tiga puluh lima
tahun membuka pintu.
“dimana Danu?”
“dia tidak ada, kamu siapa?”
Aku
menceritakan apa yang sudah terjadi padaku, ternyata dia mama dari Danu. Aku
lama duduk di sana dan menunggu pulangnya Danu namun tidak menghasilkan apapun.
Mamanya tidak ingin Danu bertanggung jawab dengan semua hal ini. Dia juga tidak
percaya dan melakukan semua hal ini. Aku memutuskan untuk pulang saja ke rumah.
aku beristirahat semua isi rumah bernatakan karena tadi siang aku sangat marah
dengan keadaan ini.
Malam
hari, aku menemui Danu lagi di rumahnya. Tidak sengaja aku mendengarkan
perbincangan Danu dan mamanya. Saat aku dengar ternyata mamanya yang merencanakan
semua ini. Akupun marah besar dengan kejadian ini. Aku memarahi mereka berdua
dan ternyata ada lelaki tua keluar dari rumahnya. Dia lelaki yang tidak asing
ku lihat. Dia ayahku, ternyata Danu adalah anak dari istri ayahku. Ayahku
menikahi seorang janda beranak satu. Dendam apa yang sudah dipendam oleh
mamanya Danu. Aku menceritakan semua itu kepada ayahku namun dia tidak percaya.
Ayahku mengusirku.
Aku pulang dengan membawa mobil sangat
kencang, aku sangat tidak terima dengan kejadian ini. Semakin kencang aku
membawa mobilku. Ada bus melintas dihadapanku, aku tidak smepat meninjak rem.
Aku memutar kemudi mobilku dan mebrak menabrak dinding jalan
raya. Banyak orang yang menghampiri mobilku dan berusaha mengeluarkanku dari
mobil. Aku tidak bisa melihat jelas, aku ada dimana dan apa yang terjadi
padaku. Hingga akhirnya aku dibawa ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit aku
langsung dibawa ke ruangan gawat darurat. Saat memasuki di ruang gawat darurat,
aku merasakan sesak, hingga aku kehilangan oksigen, dan tidak sadarkan diri.
Aku
membuka mataku namun yang aku lihat hanya kegelapan. Aku mendengar suara Puceh
ada disini. Ternyata Puceh langsung datang setelah Sela mengabarinya tentang
kejadianku. Aku buta kakiku diamputasi sebelah kanan, aku berteriak! Aku tidak
bisa menerima semua kejadia yang menimpaku ini. Aku mengamuk di kamar rumah
sakit. Puceh mencoba menenangkanku dan memanggil dokter sehingga aku diberikan
obat bius dan tidak sadarkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar