Rabu, 28 September 2016

Cerpen Bersambung



Ratih dan Hatinya
Ratih merebahkan tubuhnya ke kasur yang masih berantakan. Waktu menunjukkan pukul 15.00 tepat dimana Ratih harus menemani kekasihnya Amar ke toko CD langganannya. Saat mengambil pakaian yang masih di jemurnya tak sengaja Ratih melihat seorang lelaki tinggi menaiki kuda besi 70an dengan penutup kepala seperti kerupuk. Lelaki itu juga menatap Ratih seperti sudah mengenal beberapa tahun. Lebih lima menit mereka saling memandang lelaki itu hampir saja menabrkan pos keamanan komplek yang berada di ujung komplek yang tidak jauh dari rumah Ratih. “Ratih kamu ingin mandi atau ingin berjemur di depan rumah” teriak ibunya. Ratih bergegas ke kamar mandi karena sudah pukul 15.15.
Ratih, Ratih, Ratih,  Cepat buka pintunya. Ternyata Amar sudah di depan rumah. Ratih membuka pintu dan menemui Amar dengan rambut yang masih basah. Ah, kamu ini lelet ini sudah jam berapa? Ya sudah aku bisa sendiri ke toko CD. Amar langsung pergi tanpa Ratih. Seperti biasanya Ratih hanya terdiam dan tidak bisa melawan Amar. Tersandar di kursi tamu dengan wajah datar dan pipinya basah. Seperti ingin mengahiri kehidupan ini, tapi apalah daya Ratih masih belum bisa memberi keputusan bijak untuk hubungannya. Terdengar suara nada dering telepon, Ratih terkejut  Amar menelepon dan meminta Ratih untuk bersiap. Ratih menoleh ke jam dinding di ruang tamu ternyata sudah pukul 19.28. ternyata Ratih tertidur sejak tadi sore di ruang tamu. Tak ingin membuat Amar amarah Ratih sudah siap di depan Rumah.
Sudah lama Ratih menunggu Amar namun tak kunjung datang. Setiap ingin duduk di kursi tamu Ratih selalu menoleh jam dinding dan melihat ke depan rumah. Tak ada cahaya lampu kuda besi yang menyorot ke jendelanya. Beberapa jam kemudian hampir tengah malam terdengar suara mesin yang tidak asing. Ratih bergegas membuka pintu dan melihat Amar yang sudah berhenti di depan rumahnya. “Kamu kenapa lama mar? Katanya kamu sudah lapar, ayo kita makan” ucap Ratih memegang bahu Amar dan menaiki kuda besinya. “tapiiiii, aku sudah kenyang makannya lain kali sajalah”. Sahut Amar. Ratih turun dari kuda besinya Amar dan menunduk. “ya tak apa-apa kalau kamu sudah kenyang” Ratih masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu. “Dasar cewek bisanya marah”. Teriak Amar.
Ratih langsung menuju kamar, dan merebahkan tubuhnya. Sungguh ini terasa begitu perih dadanya terasa sesak dan ingin berteriak sepuasnya. Apa yang terjadi saat ini membuatnya sudah merasa tak ingin lagi membuka mata melihat, dan merasakan kejadian ini setiapkalinya. Amar yang dikenalnya beberapa bulan lalu begitu manis sikapnya dan tak pernah satu kata membuat hati Ratih merasa sakit. Ratih menangis semalaman dan telepon Ratih berbunyi namun tak dijawabnya. Ratih merasa pusing karena lelah dan belum ada sesuap nasi yang masuk dimulutnya. Ratih sengaja tidak makan menunggu Amar untuk makan bersama.
Pagi itu hari minggu seperti biasanya Ratih hanya bersantai di depan TV setelah membersihkan kamarnya. Tak seperti biasanya Ratih yang tidak bisa jauh dengan telepon genggamnya sekarang menoleh saja tak ingin apalagi menyentuhnya. Setelah asik mengganti-ganti stasiun TV, telepon Ratih berbunyi nomer yang tidak dikenal menghubunginya. “coba keluar, aku sudah di depan” ucap penelpon itu dan langsung meutup teleponnya. Ratih menuju pintu dan melihat di jendela ternyata Amar sudah beridiri di depan pintu.
Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar