Kamis, 31 Maret 2016


Judul
: Keterampilan Dasar Menulis
Penulis
: Suparno dan Mohamad Yunus
Penerbit
: Universitas Terbuka
Tahun Terbit
: 2007
Cetakan
: Kelima belas
Halaman
: 362 halaman, 6 modul ; 21 cm
Isbn
: 979-689-311-8


A. Pengertian menulis
            Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambing bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakaiannya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat: penulis sebagai penyampai pesan (penulis), pesan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.
Menurut Graves (1978), seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis. Ketidaksukaan tak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat.
            Smith (1981) mengatakan bahwa pengalaman belajar menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil menulis dan mengajarkannya. Karena itu, untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya muncullah berbagai mitos atau pendapatr yang keliru tentang menulis dan pembelajarannya.
Di antara mitos yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut.
1.      Menulis itu Mudah
Teori menulis atau, mengarang memang mudah. Gampang di hafal. Tetapi, menulis atau mengarang bukanlah sekedar teori, melainkan keterampilan. Bahkan, ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.
2.      Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis
Dalam mengarang seseorang perlu memiliki keterampilan mekanik seperti penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengalinean, dan pewacanaan. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang digunakan untuk mengemas dan menyajikan isi karangan agar dapat dipahami dengan baik oleh pembacanya
3.      Menulis itu Harus Sekali Jadi
Kita menulis, meperbaiki, mencobva menulis lagi, hingga kita anggap  selesai. Hati-hati mitos ini dapat memfrustasikan seseorang dalam menulis, terutama penulis pemula. Tidak banyak orang yangdapat menulis sekali jadi. Bahkan, penulis professional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.
4.      Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah Menulis Dapat Mengajarkan Menulis
Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak suka menulis dapat melakukan hal itu. Padahal, minat dan kemauan siswa belajar menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana dia mengajarkannya.

B. Menulis Sebagai Proses
Menurut Barrs (1983-829-831), pendekatan proses dalam menulis, terutama bagi penulis pemula, mudah diikuti. Dia akan dapat memahami dan melakukan dengan cepat hal-hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan dalam menulis.
Terdapat fase-fase untuk mempermudah pemahaman, yaitu:
      1. Tahap Prapenulisan
Tahap ini merupakan fase persiapan menulis, seperti halnya pemanasan (warming up) bagi orang yang berolahraga. Pada fase prapenulisan ini terdapat aktivitas memilih topik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk karangka karangan.


2. Tahap Penulisan
Seperti telah kita ketahui, struktur karanganatas awal, isi, dan akhir. Awal karangan berfungsi untuk memperkenalkan dan sekaligus menggiring pembaca terhadap pokok tulisan kita. Isi karangan menyajikan bahasan topikan atau ide utama karangan, berikut hal-hal yang memperjalas atau mendukung ide tersebut seperti contoh, ilustrasi informasi, bukti, atau alasan. Akhir karangan berfungsi untuk mengembalikan pembaca pada ide-ide penting. Bagian ini berisi simpulan, dan dpaat ditambah rekomendasi atau saran bila diperlukan.
3. Tahap Pascapenulisan
            Fase ini merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang kita hasilkan. Kegiatannya terdiri atas penyuntingan dan perbaikan (revisi). Kegiatan ini bisa terjadi beberapa kali.
Masa kegiatan penyuntingan dan perbaikan karangan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)     Membaca keseluruhan;
b)     Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki, atau memberikan catatan bila ada hal-hal yang harus diganti, ditambahkan, disempurnakan; serta
c)     Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan saat penyuntingan.


C. Penalaran
Penalaran induktif dapat dilakukan melalui generalisasi, analogi, atau hubungan kausal. Sementara itu, deduksi menggunakan silogisme atau variannya (entimen) sebagai sarana bernalar.
            Dalam bernalar seseorang dapat melakukan salah nalar, yang disebabkan oleh kekeliruan dalam proses berpikir : kekurangcermatan, kecerobohan, ketidaktahuan, atau sikap emosional. Semua itu disebabkan oleh generalisasi yang terlalu luas, kerancuan analogi, kesalahan kausalitas, kesalahan relevansi (karena kekurangpahaman, pengabaian, atau penyembunyian masalah sesungguhnya), dan kesalahan karena menyandarkan pendapat atau alasan mengenai suatu masalah terhadap seorang tokoh atau ahli diluar kepakarannya.
Modul 2
1. Pilihan Kata
Kata adalah satuan bebas terkecil alat pengungkap dan penerima gaga. Kata menjadi unsur pembentuk kalimat. Karena itu, kualitas pilihan kata akan menentukan keaktifan kalimat. Dengan kalimat yang efektif itu, gagasan yang diungkapkan penutur atau penulis sama dengan gagasan yang diterima oleh pendengar atau pembaca. Untuk memilih kata, dua kaidah dapat dipakai pegangan, yakni kaidah ketepatn dan kaidah kecocokan.
2. pengembangan Kalimat Efektif
            Pengembangan kalimat efektif dapat dilakukan untuk menjadikan kalimat sebagai sarana pengungkap dan penangkap pesan agar komunikasi terjadi secara efektif. Untuk mengembangkan kalimat eefektif ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni persyaratan kalimat efektif dan kiat pengembangan efektif.
Modul 3
1. Perancangan Kalimat
            Sebagai proses, penulisan karangan dapat dibagi menjadi tiga tahap, yakni tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap pascapenulisan. Target penyusunan rancangan adalah kerangka karangan, yakni karangan tulis yang menggambarkan bagian-bagian karangan dalam tataan yang sistematis.
2. Pengembangan Paragraf
            Paragraph adalah bagian karangan, berupa untaian kalimat berstruktur yang berisi gagasan dan sejumlah gagasan pengembang. Ada empat persyaratan pembentuk paragraph, yaitu:
a)     Persyaratan kesatuan atau keutahan yang ditandai oleh satu gagasan dasar dan sejumlah gagasan pengembang
b)     Persyaratan pengembang yang ditandai oleh adanya kalimat topic dan sejumlah kalimat pengembang
c)     Persyaratan kepaduan yang ditandai oleh hubungan yang harmonis antara isi kalimat dan paragraph
d)     Persyaratan kekompakan yang ditandai oleh keserasian hubungan bentuk struktur leksikon
3. Penyusun Karangan
Penulis karangan adalah kegiatan mewujudkan karangan yang utuh. Pada tahap penyuntingan, kegiatan yang dilakukan adalah memeriksa darf awal yang sudah dihasilkan. Aspek-aspek yang diperiksa adalah aspek isi, bahasa, ejaan dan tanda baca, seta teknik penulisan.
Modul 4
Deskripsi dan Narasi
           
Deskripsi
Sebagai salah satu jenis karangan, deskripsi ditulis untuk mendeskripsikan atau memerikan, menggambarkan, menggambarkan, atau melukisakan suatu objek sehingga pembaca memiliki peenghayatan seolah-olah menyaksikan atau mengalaminya sendiri.
Narasi
            Narasi adalah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa. Sebagai sebuah karanga, narasi dikembangkan dengan memberikan prinsip-prinsip dasar narasi sebgai tumpuan berpikir bagi terbentuknya karangan narasi.
Modul 5
Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi
Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan yang bertujuan utama untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu.
Argumentasi dan Persuasi
Karangan argumentasi adalah karangan yang isinya terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan. Karangan ini ditulis dengan maksud untuk memberikan alasan, untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.
            Karangan persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya bujuk, berdaya ajuk, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implicit maupun eksplisit yang dilontarkan oleh penulis.
Modul 6
Surat Menyurat Dinas
Seluk Beluk Surat
Surat adalah salah satu sarana komunikasi tertulis untuk menyampaikan suatu pesan dari satu pihak (perorangan, kelompok, atau organisasi) kepada pihak lain. Apabila surat itu mengandung pesan yang menyangkut kepentingan formal atau dinas, maka surat seperti itu disebut surat dinas atau surat resmi.
Berbeda dengan bentuk karangan lainnya, surat memiliki karakteristik yang sangat khusus. Salah satu kekhasan terletak pada bagian-bagiannya. Bagian-bagian ini sangat penting karena setiap bagian memiliki kegunaan tertentu. Bagian-bagian surat dinas/resmi yang lengkap terdiri atas: kepala surat nomer, lampiran, hal, tanggal, alamatdalam surat, salam pembuka, isi dan tubuh surat,salam penutup, nama organisasi atau jabatan penulis surat, tanda tangan, nama terang, NIP bagi pegawai pemerintah, tembusan dan inisial.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar